MUSIK REVOLUSI INDONESIA. PENULIS: WISNU MINTARGO. KATA PENGANTAR: DJOHAN SALIM. PENERBIT OMBAK YOGYAKARTA JULI 2008

PENDAHULUAN

Berkembangnya nasionalisme modern di Eropa dipelopori olehkalangan ahli ilmu pengetahuan, di Indonesia lahir kebangkitannasionalisme dipandang sebagai awal tumbuh dan berkembangnyasejarah pertamakali dipelopori tokoh nasional oleh Dr. Sutomo danWahidin Sudirohusodo. Bangkitnya nasionalisme ditandai lahirnyasemangat kebangkitan nasional organisasi Boedi Oetomo didirikanpada tanggal 20 Mei 1908 dengan tujuan “mencerdaskan bangsa”berdasarkan kesadaran, tekad upaya memajukan bangsa atas dasarfalsafah dan wawasan bersumber kepribadian nusantara, didukungpara cendekiawan berbasis pada pendidikan nasional guna mengusirkaum penjajah dari bumi Indonesia.Nasionalisme merupakan kesadaran bersama dan dapatmempersatukan suku-suku bangsa hidup bermukim di nusantara.Nasionalisme di Indonesia lahir bersamaan dengan tumbuhnyakeinginan seluruh rakyat Indonesia membentuk negara kesatuan.Pengertian lagu perjuangan Indonesia dikenal dengan istilahsebagai musik fungsional yaitu musik diciptakan untuk tujuannasional. Salah satu contoh dimaksudkan musik fungsional dalamsejarah musik, seperti musik digunakan mengiringi peribadatanagama (Ritual), musik untuk mengiringi tari sebagai sarana hiburan.Secara umum disimpulkan pengertian lagu perjuangan adalahkemampuan dan daya upaya muncul lewat media kesenianperanannya didalam peristiwa sejarah kemerdekaan Indonesia.Dalam pengertian yang luas sebagai perasaan nasional laguperjuangan disebut sebagai lagu wajib nasional diajarkan mulaitingkat pendidikan dasar, hingga perguruan tinggi dan wajibdiketahui seluruh masyarakat Indonesia.2Dalam perjalanan sejarah Indonesia bangsa Belanda pernahmengajarkan instrumen musik barat ke kepada abdi dalemkesultanan Yogyakarta dan kasunanan Surakarta agar dapatmemainkan lagu kebangsaan „Wilhelmus‟ saat upacara kunjungantamu resmi para pejabat dari negeri Belanda. Selain itu perlakuanistimewa terhadap lagu Kebangsaan „Indonesia Raya‟ dan diakuinyabahasa melayu sebagai bahasa nasional memicu timbulnya peluangdan konflik kelompok cendekiawan Jawa yang ingin menguasai lagukebangsaan dengan alternatif musik ritual khas Jawa yang dapatmewakili puncak kebudayaan nasional melalui instrumen gamelan.Upaya dilakukan mencoba mengerahkan para empu gamelan tahun1930 dengan memodernisir gamelan secara praktek maupun teori.Perubahan-perubahan dalam notasi musik diantaranya pernahditulis dalam buku kecil Mr. Muhamad Yamin, bahwa usaha-usahamemainkan lagu Kebangsaan „Indonesia Raya‟ terbukti mengalamikegagalan, oleh karena secara teknis lagu itu memakai sistemtangga nada diatonis, dan untuk instrumen gamelan memakaisistem tangga nada pentatonik. Pada masa perjuangan Indonesiamelawan kolonialisme perkembangan musik diatonis berubahmenjadi fenomena politik, karena perbedaan tentang musik nasional.Perkembangan musik diatonis sebagai sarana pendidikannasionalisme mengalir seiring munculnya generasi penerus setelahW.R. Supratman dan M. Syafei pendiri sekolah I.N.S. Kayutanam diSumatera Barat, yaitu kelompok pemusik asal daerah Tapanulidengan latar belakang pengetahuan musik gereja misionaris Jermanyang cukup handal. Para pemusik terkenal ialah Cornel Simanjuntak(Komponis), Amir Pasaribu (Komponis, Kritikus), J.A. Dungga(Kritikus), L. Manik (Komponis, Kritikus), Binsar Sitompul(Komponis), dan W. Lumban Tobing (Etnomusikolog). Di Jawadikenal ialah Ismail Marzuki (Komponis), Kusbini (Komponis),3Bintang Sudibyo (Komponis), R.A. Sudjasmin (Komponis, Pendidik).Pemusik ini tidak hanya beranggapan bahwa budaya musik nasionaleksotisme tidak boleh dibangun di atas budaya musik Jawa, tetapiharus mengikuti pola musik diatonis secara umum lebih mudahditerima oleh seluruh lapisan masyarakat dengan berbagaikebinekaannya. Usaha telah dirintis para pemuda Indonesia di tahun1920-an menjelang sumpah pemuda tentang peranan musik diatonismewakili berbagai suku di Indonesia. Diantaranya dihimpun olehorganisasi kepemudaan ialah Paguyuban Pasundan, Jong Java, JongSumatranen Bond, Jong Minahasa, Jong Ambon, Jong Celebes, JongBorneo, Jong Timorsch Verbond, Kaum Betawi, Sekar Rukun,Islamieten Bond. Perkumpulan ini adalah cikal bakal perjuangankedaerahan setelah tahun 1926 meningkat kearah persatuanpemuda semakin kuat. W.R. Supratman sebagai seorang pemudapatriotis nasionalis sering mengikuti rapat pemuda mulai dari gangKenari Jakarta sebelum sumpah pemuda dicetuskan, hingga iamendorong semangat persatuan melalui lagu ciptaannya. BahasaMelayu yang diakui sebagai bahasa nasional merupakan suatukekalahan bagi bahasa Belanda, sebagai simbol, ikrar, teks sumpahpemuda serta lagu Kebangsaan „Indonesia Raya‟ digunakan bahasaIndonesia dan sekaligus diakuinya musik diatonis sebagai musiknasional. Akhirnya dapat disimpulkan guna menetralisirkeanekaragaman pemuda Indonesia peranan musik nasional tidaklagi berpihak kepada etnis Jawa atau salah satu etnis lainnya, tetapiharus memiliki sifat universal seperti kedudukan musik diatonis.Oleh sebab itu sistem tangga nada slendro dan pelog mendasarilagu-lagu instrumen gamelan dihindari.Pembahasan lain secara rasional dikemukakan bahwa prosespenciptaan musik merupakan wacana bersifat spiritual selain bidangseni pertunjukan, juga diperlukan ilmu-ilmu Humaniora untuk4pendalaman aalisis, seperti filsafat dipergunakan bagi pemikirannyadidalam proses pengolahan karya ciptaannya. Secara pragmatisdidalam proses penciptaan, seniman mendapatkan issue sebagaigagasan dan inspirasi dari lingkungan sekitarnya secara naluriahtelah memberi corak tertentu. Dengan latar kesadaran profesi danpanggilan hati nurani terhadap kondidsi sosial masyarakat, senimanmampu mengekspresikan pengalaman tentang kekecewaan dalamperjuangan, kepahlawanan, kelembutan hati, kekerasan hati, intinyaadalah motivasi untuk membela tanah air. Pemikiran dalam prosespenciptaan sangat dipengaruhi sikap individual seniman mengenaipengalaman hidupnya, ditengah-tengah gejolak perjuangan yangterjadi di Indonesia dengan jujur diungkap dalam peristiwa secaraspontan, dengan segala keterbatasan dan kemampuan dimilikinya.Uraian tersebut menunjukan bahwa seorang seniman menciptakanseni ketika berhasil menemukan momen-momen estetis yang terjadididalam dirinya. Menurut mereka keindahan bukan sekedar dialami,tetapi selalu diaktualisasikan kedalam setiap karya ciptaannya.Seorang seniman ingin mengabdikan pengalaman hidupnya dimanalingkungannya terjadi konflik, dengan demikian berarti ikutmemberontak, pemberontakan menimbulkan kreatif. Pemberontakandan kreatifitas sesuatu yang saling mempengaruhi didalamkehidupannya. Semua tindakan kreatif selalu merupakan aktualisasipemberontakan terjadi secara realitas, demikian pula sebaliknyasetiap pemberontakan selalu terkandung usaha-usaha kreatif.Keduanya merupakan ekspresi seni dalam upaya membebaskan diridari penindasan. Sikap kepeloporan yang telah dilakukan oleh W.R.Supratman dari waktu kewaktu maka selanjutnya diikuti pula olehpencipta lagu perjuangan generasi berikutnya seperti Kusbini, CornelSimanjuntak, Ismail Marzuki dengan tetap menggelorakan semangatperjuangan lewat lagu-lagu ciptaannya yang dibahas dalam buku ini.5Jenis lagu-lagu perjuangan diciptakan mereka sebagai berikut.1. Lagu HimneDi Indonesia himne menjadi inspirasi para pencipta lagudimasa pendudukan Jepang, sebagai media sarana membangunmoral cinta tanah air untuk selalu tabah dan berjuang menegakankebenaran. Masa revolusi Indonesia tahun 1945-1949 jenis lagupemujaan tanah air dinyanyikan secara teratur oleh pemuda-pemudipelajar di Yogyakarta sebagai pusat perjuangan. Biasanya lagu iniditampilkan dalam bentuk paduan suara di istana kepresidenan,resepsi kenegaraan, pertunjukan kesenian atau dalam acara siaranradio. Lagu-lagu itu ialah, „Bagimu Neg‟ri‟, ciptaan Kusbini, „Tanahtumpah darahku‟ ciptaan Cornel Simanjuntak, „Satu nusa satubangsa‟ ciptaan L. Manik. „Mengheningkan cipta‟ ciptaan T. Prawit.2. Lagu Mars.Lagu-lagu mars patriotik masa perang kemerdekaan digunakanmengiringi para pemuda pejuang untuk dikirim bertempur ke garisdepan dalam bentuk barisan dengan gerak langkah tegap mengikutiirama dengan penuh semangat. Berlainan dengan jiwa semangat dariteks lagu-lagu mars yang dibuat badan propaganda Jepang(sendenbu) diatur dan ditentukan demi kepentingan Keimin BunkaShidoso dalam rangka pembentukan negara Asia Timur Raya. Lagulagumars perjuangan patriotik pada masa Indonesia bergolak untukmembangkitkan semangat solidaritas bangsa lagu-lagu itu ialah,„Hari merdeka‟ ciptaan H. Mutahar, „Berkibarlah benderaku‟ ciptaanBintang Sudibyo, „Dari barat sampai ke timur‟ ciptaan R. Sunaryo.„Maju tak gentar‟ ciptaan C. Simanjuntak, dan „Hallo-hallo Bandung‟ciptaan Ismail Marzuki.3.Lagu PercintaanPada masa revolusi di Indonesia muncul pula jenis laguperjuangan bernuansa percintaan yang erat hubungannya dengan6suasana romantika mengharukan para pemuda pada masa itu.Hampir semua lagu-lagu bercerita tentang perjuangan dan cintaantara seorang pemuda dengan kekasihnya, sahabatnya ataukeluarga bahwa kepergiannya sebagai tugas suci yang mungkinpertemuan serta perpisahan yang terakhir kali dan untuk selamalamanya.Jenis lagu ini menjadi kenangan tersendiri sekaligusmenjadi sarana hiburan dalam suka dan duka bagi mereka yangberjuang. Khusus jenis lagu ini terkenal diantaranya ciptaan IsmailMarzuki, diantaranya „Selendang sutera‟, „Sepasang mata bola‟,„Gugur bunga‟, „Selamat tinggal ibunda‟, „Hallo bu disini garisterdepan‟, „Antara Kerawang Bekasi‟, „Sapu tangan dari Bandungselatan‟, „Sampul surat‟, dan lain-lain.4. Lagu Sindiran.Jenis lagu ini sengaja diciptakan untuk menggambarkankeburukan masyarakat kita di masa perjuangan. Jenis lagu iniumumnya tidak bertahan lama, akan tetapi karena sindirannya tepatmengenai sasaran biasanya lagu ini cepat populer dimasyarakatsebagai selingan. Lagu ini menggambarkan aktivitas sosialmasyarakat yang merugikan perjuangan Indonesia, kritik kepadapemerintah dsb. Jenis lagu ini jarang diketahui penciptanya salahsatu diantaranya „Sepanjang Malioboro‟, secara umum dibahas Bab IBab II, patriotisme merupakan gerakan yang bersifat cinta tanah airdalam bentuk membela negara, sedang nasionalisme adalahwawasan kebangsaan. Dapat disimpulkan ibarat patriotisme adalahperasaan emosional maka nasionalisme adalah pikiran.Bab III, menggambarkan dari awal pembentukan issue dalammusik nasional terjadi ketika para pemuda Indonesia melakukangerakan untuk membebaskan diri dari penjajahan. Pada tanggal 28Oktober 1928 para pemuda dari berbagai suku di Indonesiamengadakan kongres di Jakarta dengan mengucapkan sebuah ikrar7satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Dalam pertemuan ituberkumandang sebuah lagu Kebangsaan „Indonesia Raya‟ ciptaanW.R. Supratman. Kemudian selanjutnya pada tanggal 17 Agustus1945 secara resmi lagu itu berkumandang pada hari kemerdekaanR.I pertama di Pegangsaan Timur Jakarta.Bab IV, Lagu „Bagimu Neg‟ri‟ diciptakan Kusbini tahun 1942,atas permintaan Sukarno untuk issue mengimbangi lagu propagandaJepang yang marak di Indonesia. Lagu „Bagimu Neg‟ri‟ pada intinyamengungkapkan sebuah janji pengabdian serta bakti kepada tanahair dan bangsa diungkap secara khidmat dan mendalam. Perubahanlagu „Bagimu Neg‟ri‟ pada tahun 1943 dirubah fungsinya dari laguuntuk anak-anak menjadi himne dan diberlakukan secara umum.Pada tahun 1943 s/d 1944 lagu „Bagimu Neg‟ri‟ pernah diberlakukansebagai lagu kebangsaan pengganti sementara lagu Kebangsaan„Indonesia Raya‟ yang saat itu sedang dilarang pemerintah Jepang.Bab V, lagu „Maju tak gentar‟ asal mulanya berjudul lagu„Maju putera-puteri di Indonesa‟, sebuah lagu propaganda Jepangtahun 1944 diciptakan untuk issue kepentingan Asia Timur Raya.Kemudian tahun 1945 lagu tersebut dirubah Cornel Simanjuntakmenjadi issue lagu bersifat agitasi melawan ketidak adilan layaknyapara pemuda berunjuk rasa, sampai kini fungsi lagu tersebut tetapdigunakan para mahasiswa demonstrasi. Semasa hidupnya beliaupernah mengatakan kepada rekannya seperjuangan AngkatanPemuda Indonesia (API), bahwa perjuangan harus dilaksanakandengan mengangkat senjata. Ketika itu beliau menjadi pimpinancabang API Tanahtinggi wilayah Senen bermarkas di Menteng 31pusat koordinasi perjuangan pemuda Indonesia. Selama revolusiberlangsung dan tahun 1946 para alumni Hollandsch InlanscheKwekschool (HIK) Muntilan tempat Cornel Simanjuntak belajarmusik, membentuk perkumpulan paduan suara Pemuda Nusantara8yang khusus menyanyikan lagu-lagu perjuangan nasionaldipancarkan secara rutin melalui R.R.I Kotabaru. Menurut FranzSeda dan Alex Rumambi lagu ini sangat populer di masa revolusidan berfungsi membangkitkan semangat tentara pelajar Yogyakartadalam front pertempuran selama perjuangan berlangsung hingggatahun 1949.Bab VI, lagu „Hallo-hallo Bandung‟ merupakan sebuah laguperjuangan rakyat Jawa Barat yang diciptakan Ismail Marzuki 1945.Semula issue lagu terkesan sebagai ungkapan perasaan penciptanyatentang latar belakang keindahan bumi Parahyangan dan Bandungsebagai ibukotanya. Peristiwa Bandung lautan api tanggal 24 Maret1946 seketika itu lagu tersebut dirubah fungsinya menjadi sebuahslogan serangan tentara Republik Indonesia (TRI) terhadapkedudukan sekutu terkenal dengan sebutan Bandung rebut kembali.Perubahan lagu antara syair yang semula ditulis tahun 1945 “slagihayat dan hasrat masih dikandung badan kitakan jumpa pula”. Isueagar kontekstual dengan peristiwa Bandung lautan api, tahun 1946oleh Ismail Marzuki diubah menjadi “sekarang telah menjadi lautanapi mari bung rebut kembali”Ismail Marzuki betapapun kurang agresif dan kurang agitasinyadalam keperluan perjuangan politik, namun sebagai seniman telahberbuat mewakili bangsanya. Periode tahun 1945-1948 merupakanmasa yang istimewa lagu-lagunya yang romantika mengingatkan kitapada suatu peristiwa heroisme di Indonesia.Bab VII, adalah upaya menyimpulkan seluruh rangakaianuraian bab-bab bahasan pokok menjadi kesimpulan umum.9

MUSIK REVOLUSI INDONESIA. PENULIS WISNUMINTARGO. PENGANTAR DJOHAN SALIM. PENERBIT OMBAK YOGYAKARTA 2008
· · Bagikan · Hapus

  • Sulaiman Juned menyukai ini.
  • Tekan Shift+Enter untuk memulai baris baru.

Facebook © 2011 · Bahasa Indonesia
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Jurnal Kete’g ISI Surakarta.Vol. 8 No.1 Mei 2008. PENGETAHUAN EKSPRESI KARYA MUSIK

PENGETAHUAN EKSPRESI KARYA MUSIK

A. Karya Cipta Seni

Seniman memiliki potensi mewujudkan daya ciptanya  merupakan bentuk pernyataan dirinya dalam ekspresi seni. Ia mewujudkan ekspresi itu dapat melalui gerak tubuh seperti dalam seni tari, melalui mulut dalam bentuk lagu-lagu atau puisi, dan lewat tangan seperti karya seni rupa. Menurut pakar seni manusia menampilkan kehendaknya, pikirannya, rasa dan sebagainya. Jika gairah  dilakukan melalui media bunyi, yaitu nada, irama dan ilmu harmoni, kemudian diolah menjadi satu, karya ini disebut sebuah komposisi musik1 Jikalau seorang seniman yang mendapat ilham, ia dapat menghayati perasaan senang, berupa gairah menemukan bentuk nuansa keindahan yang berwujud hasil karya seni. Tujuannya ialah untuk dipersembahkan kepada masyarakat agar masyarakat itu sendiri dapat menikmatinya, karena fungsi seni itu sendiri adalah makanan jiwa yang diperlukan umat manusia.2  Sebagai santapan rohani proses terbentuknya seni sebagai kebutuhan umat manusia, hal ini disebabkan seniman tergerak hatinya untuk memberikan pernyataan emosi dan perasaan yang menguasai dirinya untuk mendapat gema sosial dilingkungan kehidupan masyarakat sekitarnya. Inspirasi yang menjadi tolak ukur sebuah ide dalam pikirannya berguna bagi orang lain agar dapat merasakan gema sosial itu lewat penghayatan dan pengalaman seniman diaktualisasikan lewat ekspresi dalam seni pertunjukan. Kesimpulan dari kedua pendapat diatas dapat dijadikan landasan pemikiran sebagai dasar motivasi pada pembahasan berikut ini.

Ekspresi dalam musik adalah gerak perasaan diujudkan lewat media bunyi. Artinya musik keluar dari jiwa penciptanya melalui pendengaran, dialami dan diresapi manusia yang menyediakan seluruh jiwa dan perasaannya menikmati musik. Bentuk pernyataan musikal bersumber pada alam pikiran, angan-angan serta perasaan seniman dipengaruhi kekuatan dari luar dirinya sebagai inspirasi. Selain itu proses penciptaan selalu disertai pengetahuan musik. Untuk itu proses penciptaan harus menitik beratkan pada penguasaan yang bersifat ilmiah, sehingga keinginan mencipta tidak perlu menunggu datangnya bulan purnama tiba. Cukup dengan pengetahuan Ilmu Harmoni, llmu Kontrapunk, Ilmu Orkestrasi, dan Ilmu Bentuk Analisa Musik pada ilmu komposisi musik, pencipta musik yang dibekali kemampuan penguasaan instrumen musik, tidak perlu pergi jauh ke gunung, atau ke pantai, cukup dalam satu ruangan saja ia dapat mengekspresikan karya ciptaannya.

B. Lembaga Pendidikan Musik

Untuk menjaga dan mengembangkan nilai karya musik, baik karya para pemain, maupun karya penciptanya maka perlu didirikan lembaga pendidikan musik. Karena itu sejak tahun 1951 pemerintah Indonesia telah mendirikan Sekolah Menengah Musik Indonesia (SMM) yang pertama, disusul dengan pembukaan Akademi Musik Indonesia (sekarang ISI Yogyakarta). Kedua lembaga pendidikan ini, yang memberi pendidikan musik yang bersistim diatonis. Sedang keperluan pendidikan musik bersistim selendro-pelog telah didirikan pula KOKAR kemudian Akademi Karawitan di pusat perkembangan musik slendro-pelog seperti yang kita kenal sekarang ISI Surakarta, STSI Bandung ISI Yogyakara, dan ISI Denpasar. Kemudian menyusul pula dengan lembaga pendidikan yang memiliki jurusan musik diatonis di Padangpanjang, Medan, Pekanbaru, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, baik yang berstatus milik pemerintah maupun swasta yang dianggap daerah memerlukannya.

Pada dasarnya, tujuan mendirikan lembaga pendidikan musik yaitu untuk memberi pendidikan kepada calon pemusik profesional. Calon-calon inilah nantinya diharapkan akan menjadi pendorong utama kelangsungan kehidupan musik di Indonesia. Tujuan ini tentu saja tidak melepaskan kemungkinan, bahwa lulusan lembaga pendidikan musik baik setingkat Sekolah Menengah Musik (SMM) maupun pendidikan tinggi tidak memilih musik sebagai mata pencarian utamanya dikemudian hari karena menjadi karyawan di suatu perusahan atau sebagai PNS atau TNI/Polri yang menangani musik upacara kenegaraan.  Pada kenyataannya, bahwa lulusan pendidikan musik yang tidak menjadi profesional tadi pun, menduduki fungsi yang tidak kalah penting oleh lulusan yang menjadi profesional. Fungsi yang dimaksud ialah membimbing kehidupan musik apakah menjadi  peneliti musik, kritikus atau pengamat musik, birokrat atau penyelenggara pertunjukan musik seperti impresario dan sebagainya. Semuanya dapat memperbesar jumlah penggemar musik dalam masyarakat di Indonesia.

Selain itu sudah menjadi suatu kenyataan, bahwa golongan nonprofesional memiliki keakhlian musik ini, ada yang meneruskan keakhlian serta kepandaiannya kepada para penggemar musik dalam masyarakat. Mereka membuka kursus belajar memainkan alat musik yang tersebar diseluruh Indonesia seperti Yayasan Musik  Indonesia (YMI), dan sanggar musik lainnya yang membuka kursus maupun privat piano, gitar, perkusi, biola, Vokal dan sebagainya.

C. Diatonis dan Pentatonis

Hampir semua remaja yang pernah sekolah, sedikit banyak dapat membaca notasi musik diatonis ketika belajar menyanyikan lagu-lagu nasional dalam paduan suara disekolah maupun saat upacara. Sebenarnya membaca notasi musik angka sama sukarnya atau sama mudahnya dengan membaca notasi balok, masalahnya adalah kebiasaan. Untuk memainkan alat musik umumnya lebih mudah melakukannya kalau notasi dibuat dengan para nada. Karena dengan para nada secara teknis lebih banyak membantu pemain musik menggunakan nada yang dibaca.

Istilah diatonis pertamakali diambil dari bahasa Latin. Diatonicus yaitu nada-nada yang terdiri dari tujuh nada do, re, mi, fa, sol, la, si. Oleh karena tangga nada diatonis berasal dari Eropa maka segala perhitungan teori musik ditentukan oleh penemunya yaitu bangsa Eropa. Orang pertama yang menemukan tangga nada diatonis ialah Guido Aretinus d’arezo seorang pastor katolik dari Mazhab Benedikus. Ia lahir di Perancis pada abad IX selain sebagai guru, ia menetap di Italia sampai akhir ayatnya. Jasa Guido menemuykan aturan diatonis itu menyebabkan orang menyebut Skala Guidonis. Adapun nada-nadanya berasal dari rentetan kata-kata pujaan kepada sancta Loannis, murid termuda Yesus Kristus, yang artinya memohon kepadanya agar suara penyanyi yang memuji Tuhan tetap merdu tidak parau dan susunan nadanya berikut ini.

Ut queant laxis   Sebagai nada Ut    1 (do) Dominus artinya Tuhan

Renonare fibris  Sebagai nada Re    2

Mira gestorum   Sebagai nada Mi    3

Famuli tuorun   Sebagai nada Fa    4

Solve polluti      Sebagai nada Sol   5

Labii reatum     Sebagai nada La    6

Sancta loannis  Sebagai nada Si    7

Demikian dengan tujuh nada diatas terciptalah berjuta-juta lagu. Sistem notasi musik barat digunakan sangkar nada, garis birama berfungsi untuk membedakan tinggi dan rendah nada, maka disebut tangga nada dalam notasi absolut. Karena notasi balok dipergunakan secara internasional, maka selayaknya masyarakat Indonesia pada umumnya dengan mudah menerimanya. Musik diatonis sudah menggunakan standarisasi dalam menentukan tinggi (pitch) digunakan sistem penalaan Equal temperament yaitu berjarak 1 – 1 – ½ – 1 – 1 – 1 – ½. Dengan contoh tersebut dibuktikan antara nada satu dengan memiliki jarak tertentu dan disepakati nada A memiliki 440 Heartz. Akibatnya penggunaan tangganada dasar G merasa terlalu tinggi maka dapat diturunkan sesuai kemampuannya misalnya nada dasar F. Penurunan tinggi rendah nada dasar (modulasi) hanya dapat dilakukan pada tangganada diatonis.

Musik karawitan Indonesia telah mengenal notasi kepatihan. Biasanya yang ditulis hanya balungannya atau tema pokoknya saja, dan tidak seluruh melodinya. Tulisan itu biasanya dikerjakan sebagai pencatatan menegenai dasar-dasar melodi yang sudah ada. Notasi biasanya dipergunakan untuk mengingat-ingat perkembangan melodinya, jadi bersifat deskriptif. Akan tetapi tidak jarang pula, notasi demikian digunakan untuk menyajikan musik. Titinada yang dicatat sesuai dengan tema pokok lagu tetap harus diikuti, akan tetapi penyaji mempunyai kebebasan terbatas untuk menggarap melodinya dengan hiasan-hiasan, yang merupakan kreatif pemain atau penyanyi itu sendiri. Pada tangga nada pentatonis karawitan Indonesia khususnya di Jawa terbagi dua yaitu pelog urutan nadanya Bem (1), Gulu (2), Dadha (3), Lima (5), Nem (6),dan Barang (7). Sedang slendro, Barang (1), Gulu (2), Dadha (3), Lima (5), dan Nem (6). Notasi yang digunakan adalah notasi angka (relatif) atau juga disebut dengan istilah notasi kepatihan.

D. Bidang Garapan Musik

Dalam bidang garapan musik istilah mencipta adanya suatu tindakan yang dapat menghasilkan suatu bentuk pernyataan musikal dilakukan oleh semua orang. Tetapi selain itu ada pula bidang-bidang lain seperti istilah karya arransemen dan orkestrasi dalam pembahasan berikut ini masing-masing memiliki perbedaan. Untuk mendekati permasalahan tersebut sebagai wacana apresiasi masyarkat pemahaman bidang karya musik sebagai berikut.

1. Komposisi

Pada karya komposisi musik, komposer berangkat dari pengetahuan ilmu komposisi musik yang belum diciptakan oleh orang lain. Artinya didalam proses penciptaan komposer mencari identitas dirinya dengan menciptakan melodi sebagai tema musiknya yang belum diciptakan oleh komponis-komponis sebelumnya. Dalam sebuah komposisi musik ide garapan karyanya dicurahkan sepenuhnya melalui frase hingga menjadi sebuah rangkaian melodi yang konstruktif dan dinamis dalam bentuk mikro maupun makro, dari melodi pertama hingga pada akhir lagu.Komposisi dalam bentuk tulisan seperti dalam bentuk notasi musik merupakan ciptaan abadi bersifat absolut, bagaimanapun karya itu dituliskan begitu pula dibaca untuk selama-lamanya. Orisinalitas suatu bentuk komposisi sangat diperlukan dalam sebuah karya, agar jangan sampai karya ciptaannya merupakan  plagiat karya orang lain  seperti berikut ini.3

Komposisi Gitar Entree. Cipt. John W. Duarte

Selain karya komposisi musik yang tertulis, kemudian ada pula bentuk ciptaan komposisi yang tidak tertulis yang hanya dimainkan pada saat itu saja. Ciptaan komposisi musik ini dapat kita jumpai pada karya komposisi musik daerah dalam tradidsi lisan. Lalu bagaimana proses komposisi tersebut menjadi sebuah ekspresi kesenian yang mengagumkan, tentu tidak terlepas dari unsur-unsur pendukung lainnya. Di dalam musik unsur-unsur musikal disebutkan komposer sebagai konseptor, melalui dorongan kreatifnya nada-nada berhasil diciptakan. Dengan melibatkan banyak pemain musik orkestra, saat itu diperlukan seorang konduktor (dirigen) yang mampu menterjemahkan dan menjembatani antara pencipta dengan pemain musik untuk mendapat kesatuan ekspresi bermain musik sesuai dengan konsep keinginan penciptanya. Sedang unsur pemain musik adalah menginterpretasikan atau juru bicara yang ditulis penciptanya untuk disajikan kepada pendengar atau publik. Penciptanya sendiri adakalanya sudah wafat beberapa tahun yang lalu, namun tugas konduktor dan pemain musik berguna dalam pelestarian yang dapat mengagumkan nama penciptanya tanpa mengurangi  artistik karya komponisnya, atau sebaliknya dapat juga menjatuhkan nama harum komponisnya didepan publik akibat kesalahan pemain dan konduktor yang jelek.

Pada pembahasan bidang garapan komposisi musik dalam sebuah orkestra, pemain utama sangat diperlukan bagi pemain musik orkestra lainnya guna membimbing teknis permainan biola misalnya, pada bagian-bagian yang sulit. Kemampuan Concert master atau pemain utama ini dianggap sebagai juru bicara utama dari komponisnya sebagai asisten konduktor yang dapat dipercaya mengatasi kesulitan sesuai interpretasi keinginan penciptanya dalam sebuah pertunjukan musik. Landasan teori yang dipakai dalam proses pembuatan komposisi musik ialah ilmu harmoni, yaitu ilmu yang mempelajari tentang perpaduan nada-nada yang harmonis. Ilmu kontrapung, membahas tentang perlawanan diantara nada-nada melodi. Ilmu bentuk analisa musik, membahas tentang bentuk makro maupun mikro pada lagu. Ilmu orkestrasi, membahas tentang berbagai macam instrumen musik seperti dalam susunan formasi orkes simponi. Bentuk komposisi tertulis kita kenal seperti karya Sonata untuk piano, Suita untuk biola, Simponi untuk orkestra, dan sebagainya.

2. Improvisasi

Improvisasi adalah jenis ciptaan yang tidak bersifat abadi artinya hanya berlangsung sekali saja, sebab improvisasi tidak tertulis. Pemain musik tidak dapat mengulangi kembali dalam bentuk serta intesitas yang sama, seperti ketika untuk pertamakali dihidangkan dan sekaligus diciptakan. Pada kesempatan lain kalau ingin menghidangkan lagu itu kembali persis seperti semula tentunya perasaan serta angan-angan musiknya sudah tentu nuansanya sudah berubah karena tidak sama dengan yang dulu lagi

Improvisasi merupakan ciptaan langsung sebagai ekspresi dari pola-pola musik yang diberikan terlebih dahulu. Pola ini biasanya diambil dari lagu yang sudah ada sebelumnya. Improvisasi seperti ini kita dapatkan permainan dalam nusik Jazz atau musik undeground seperti musik Rock, untuk memberi kesempatan pemain musik memperagakan kemampuannya didepan publik. Hanya pemain-pemain yang berbakat mampu melakukan improvisasi, terutama pada permainan yang sulit dengan teknik yang tinggi disajikan kepada publik pendengar. Namun  pada bagian-bagian tersebut telah ditentukan sebelumnya oleh penciptanya agar ada terkaitan hubungn antara pencipta dan pemain musik. Bentuk improvisasi dapat kita dengar pada lagu ‘Fell like Jazz’ yang dimainkan oleh seorang pemain Flute terkenal Dave Valentin.

3. Arransemen

Arransemen artinya gubahan, penyusunan, menata gubah membubuhi suatu iringan pada lagu yang berangkat dari melodi yang telah ada sebelumnya. Arransemen adalah produk kedua dari karya penciptanya, dimana kebebasan arranger dalam mengekspresikan kemampuannya berpeluang mengubah pada bagian intro, interlud dan pada bagian akhir disebut coda. Arransemen dalam arti luas ialah mengubah dan memberi nuansa baru pada suatu lagu terdengar lebih baik dan lebih indah tanpa mengurangi daya tarik lagu ciptaan aslinya. Selain itu arransemen adalah penyegaran lagu-lagu yang dianggap usang atau sudah lama supaya lagu itu tidak membosankan, maka arransemen diperlukan untuk menyegarkan suasana serta memperbaruhi lagu supaya terasa seperti lagu baru. Arransemen dapat dilakukan dengan menggunakan notasi atau tanpa notasi. Sifatnya relatif tidak harus sama antara pembuat arransemen yang satu dengan lainnya, tergantung kemampuan dari masing-masing arranger itu sendiri. Jika arransemen dibuat secara tertulis, maka arranger harus membubuhkan nama dirinya sebagai tanggung jawabnya terhadap hasil karyanya yang ditulis setelah pencipta aslinya. Beberapa bentuk ekspresi arransemen yang sering dilakukan sebagai berikiut.

a. Memberikan akor iringan arransemen dengan berbagai instrumen yang banyak melibatkan para pemain musik orkestra, diperlukan seorang konduktor (dirigen) yang mampu menjembatani antar pencipta lagu dengan pemain, untuk mendapat kesatuan ekspresi bermain musik sesuai dengan konsep keinginan  seorang arranger.

b. memberikan akor iringan dengan mempergunakan instrumen piano atau gitar secara perorangan dalam bentuk group band yang melibatkan beberapa orang pemain, namun tidak mengurangi kualitas lagu yang telah di arransir tersebut.

c. Menambah suara dua, atau tiga atau empat suara dalam bentuk paduan suara atau vokal group yang banyak melibatkan suara manusia dari jenis sopran, alto, tenor, bariton dan bass. Dalam bentuk paduan suara diperlukan seorang dirigen sebagai pemimpin pertunjukan untuk mengendalikan kesatuan ekspresi bernyanyi bersama.4 Selain itu tata cara perlu diperhatikan dalam membuat karya arransemen agar mudah terjangkau secara teknis para pemain musik yaitu sebagai berikut.

1) Dapat menentukan proyeksi akor yang sesuai dalam menyusun melodi yang harmonis, indah sesuai dengan tingkat kemampuan para pemain dan penyanyi secara teknis. Ketentuan lain yang harus dihindari adalah kesulitan-kesulitan yang dapat menjatuhkan nama baik komponis maupun arrangernya sendiri, karena kualitas pemain yang tidak baik.

2) Menentukan nada dasar yang tepat bagi wilayah register suara vokal maupun instrumen musik yang dipergunakan. Untuk itu arranger perlu mengetahui dan menguasai sedikit tentang vokal suara manusia atau sifat-sifat instrumen musik dipergunakan, agar ekspresi arranger benar-benar terwakili sesuai dengan keinginan dan kepuasan pemain sampai kepada publik pendengar.

3) Memadukan berbagai macam teknis komposisi dalam bentuk variasi, seperti menambah melodi selingan disela-sela melodi aslinya dengan mempergunakan filler harmonik, filler melodik dan filler ritmik dengan menambah nada sisipan didalam kalimat lagu. Memadukan berbagai macam nada melodi yang berlawanan berperan sebagai counter melodi. Penguasaan teknik komposisi ini merupakan permainan variasi agar musik tidak monoton, mengakibatkan kualitas pemain meningkat dan publik pendengar merasa puas. Berikut ini  karya vokal dan Instrumen organ arransemen lagu karya The Beatles.

Lagu Here There and Everywhere Ciptaan. John Lennon

4. Orkestrasi

Membuat karya orkestrasi sangat berbeda dengan membuat karya arransemen dan karya komposisi. Sebuah karya orkestrasi berangkat dari piano score yang sudah ada. Pemberian ideologi pada orkestrasi terbatas pada perpaduan instrumen alat musik gesek, alat musik tiup dan perkusi dalam formasi orkestra. Sebaliknya pemberian ideologi pada arransemen sangat luas dibandingkan karya orkestrasi, oleh karena arransemen hampir seluruhnya dapat diubah oleh arranger mulai dari intro, interlud maupun coda.

Landasan teori ilmu orkestrasi banyak buku yang memperbincangkan tentang teknik orkestrasi. Hal ini disebabkan antara buku satu dengan lainnya memiliki cara tersendiri pendekatan dan pembahasannya. Buku orkestrasi karya Kent Wheler Keenan The Tehnique of Orchestration tidak ditemukan bagaimana menyelesaikan tentang perpaduan warna bunyi alat musik. Sebaliknya konsep yang dikembangkan dalam buku ini banyak membahas persoalan konsep tutti.5 Buku orkestrasi karya nikolay Rimsky korsakof Principle of Orchestration yaitu konsep yang diterapkan membahas secara terperinci perpaduan warna alat-alat musik.6 Buku orkestrasi karya gordon Yakob fokus pembahasan mengenai peran instrumen menggarap harmoni, melodi dengan bermacam instrumen mulai string, tiup kayu, tiup logam dan perkusi. Sedang buku karya Samuel Adler The Study of Orchestration fokus pembahasannya menekankan dasar-dasar orkestrasi dan instrumentasi tentang register suara dari alat-alat musik.7

Sebuah karya orkestrasi berangkat dari sebuah piano score yang sudah ada diciptakan oleh para komponis sebelumnya. Pada umumnya piano score milik penciptanya bukan milik orkestrator. Penambahan ide pada orkestrator sangat tertutup kemungkinannya untuk dapat dikembangkan. Ilmu orkestrasi adalah suatu cara memindahkan sebuah komposisi untuk piano kedalam bentuk susunan alat musik dalam format orkes simponi besar (Grant Orchestra) atau dalam format kecil ansambbel trio atau kwartet. Meskipun orkestrasi tidak begitu asli dibanding komposisi musik namun masalah karakter alat musik yang bermacam-macam diperlukan keakhlian musikalitas dan imanjinasi yang baik untuk menterjemahkan nuansa lagunya dengan menggunakan perpaduan warna bunyi instrumen yang di orkestrasi. Contoh adalah karya untuk piano Quartet in G minor op. 25 ciptaan Brams yang diorkestrasi oleh Arnold Schonberg untuk orkes simponi. Adapu kualifikasi untuk menjadi orkestrator yang baik sebgai berikuit.

a. Seorang orkestrator memiliki kemampuan dalam menganalisa karakter pianistik style, dimana teknik orkestrasi dipergunakan sesuai karakter musik yang sebenarnya. Memahami sifat-sifat alat musik digunakan seideal mungkin sesuai warna suara yang dibutuhkan.

b. Piano score dan konduktor score harus mempunyai timbal balik. Pertama kita harus memngenal gaya komponisnya, kemudian kenalilah zamannya, negaranya dimana ia hidup dan alat musik yang digunakan. Misalnya pada zaman barok instrumen musik Saxophone belum ada, jadi tidak perlu instrumen itu digunakan karena menimbulkan nuansa musik yang berbeda tidak sesuai dengan latar belakang komponisnya dan zamannya.

c. Seorang orkestrator mempunyai kempuan imanjinasi pendengaran dapat mengenal jenis warna bunyi alat musik sesuai partitur orkes. Mengenai desain struktur dan konstruksi lagu seluruhnya tetap mempertahankan agar semangat lagu sesuai keinginan komponisnya

d. Notasi musik sebelum digarap sebagai karya orkestrasi lebih dahulu dipertimbangkan guna dianalisa setiap bagian. Agar balans dan kontras suara pada desain orkestrasi pada open position cenderung suara menjadi terang, close position cenderung suara semua alat musik menjadi gelap. Hindari pemborosan ide yang dapat mengacaukan warna musiknya, seperti memakai semua alat musik berbunyi terus menerus dan sebaliknya dipakai secara bergantian. Misalnya mencoba menggarap bergantian yaitu string dan tiup kayu berbunyi. kemudian pada bagian yang lain tiup kayu istirahat, diganti tiup logam berbunyi dengan string demikian seterusnya. Karena orkestrasi adalah bagian dari karya musik sebagai rasa tanggung jawab maka nama orkestrator yg menggarap dicantumkan setelah nama komponisnya. Berikut adalah contoh diagram teknik orkestrasi yang dipakai dalam formasi orkes simponi sebagai berikut.

1. Teknik Interlocking

2. Teknik Enclosure

3. Teknik Overlapping

4. Teknik Super Imposed

Piano Score lagu Jesu, meine Freude Cipt. J.S. Bach

Konduktor score Teknik Super Imposed Jesu, meine Freud Cipt. J.S Bach di orkestrasi untuk String, biola I, biola II. biola alto, Celo dan Kontra Bass.

5. Transkripsi

Apabila suatu lagu ditulis dari suatu alat musik lalu dipindahkan ke alat musik yang lain istilah ini disebut transkripsi. Selain itu transkripsi banyak dipergunakan pada lagu tradisi yang berkembang secara lisan terutama pada lagu-lagu daerah di nusantara. Alih tulis dari lagu tradisi secara oral yang dipindahkan dalam bentuk penulisan notasi banyak dilakukan oleh para peneliti etnomusikologi. Apa bila transkripsi berhasil ditulis dan didokumentasikan dalam bentuk notasi balok atau notasi angka. Maka peneliti disebut sebgai seorang transkriptor harus membubuhkan namnya sebagai penulis atas tanggungjawabnya terhadap kepunahan lagu itu dalam rangka pelestarian budaya.

E. Penutup

Syarat-syarat adanya kehidupan musik ialah adanya penciptanya, pemain musik dan publik pendengar. Ketergantungan ketiga unsur tersebut sangat besar dalam kelangsungan kehidupan musik. Misalnya tidak terdapat publik pendengar, yang ada hanyalah pencipta dan pemain musik. Praktis kegiatan musik tidak akan berlangsung lama karena tidak ada pengunjung yang menonton konser tersebut. Praktek musik demikian hanya dapat dinikmati oleh segolongan kecil manusia yang terbatas jumlahnya. Gedung pertunjukan misalnya dalam masyarakat seperti itu tidak akan ada artinya, sebab tidak ada publik yang mengunjungi gedung pertunjukan, kehidupan musik ini tidak mungkin berkembang.

Publik pendengar merupakan pendorong kegiatan para pemusik baik moril maupun materil. Dalam bentuk materil yaitu bantuan dalam bentuk honorarium atau bentuk yang terkumpul dari hasil penjuaan tiket para pengunjung konser guna merubah kesejahteraan hidup pencipta dan pemain musik.

KEPUSTAKAAN

1Muji Sutrisno. Estetika Filsafat Keindahan. (Yogyakarta: Kanisius, 1992), hlm. 5.

2Sidi Gazalba. Pandangan Islam Tentang Kesenian. (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), hlm. 23.

3Sumaryo. LE. Komponis, Pemain dan Publik. (Jakarta: Pustaka Jaya, 1978), hlm. 19.

4Genichi, Kawakami. Arranging Popular Musical & Practical Guide. (Zen-on:Foudation Musical Yamaha, 1970), hlm. 239.

5Keenan, Kent Wheeler. The Technique of Orchestration. (New York: W.W. Norton and Company, 1964), hlm. 83.

6Korsakof, Nikolay Rimsky. Principle of Orchestration with Musical Example drawn from his awn Work. (New York: Maxmillan Stimberg, 1964), hlm. 127.

7Adler, Samuel. The Study of Orchestration. (New York: W.W. Norton & Company, 1982), hlm. 16.

Jurnal Kete’g ISI Surakarta Mei 2008. PENGETAHUAN EKSPRESI KARYA MUSIK
· · Bagikan · Hapus

Facebook © 2011 · Bahasa Indonesia
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Jurnal ISI Yogyakarta. IX/04 -Juli 2003. PERJALANAN SEJARAH LAGU-LAGU PERJUANGAN INDONESIA DALAM KONTEKS PERSATUAN BANGSA

Posted in Uncategorized | Comments Off

Jurnal Racmi LPMP Yogyakarta, Vol. 05 No.1 Mei 2006. PENDIDIKAN SENI DI SEKOLAH TUJUAN DAN KEBERADAANNYA

PENDIDIKAN SENI DI SEKOLAH TUJUAN DAN KEBERADAANNYA

Abstrak

Harus diakui bahwa kehadiran pendidikan seni disekolah umum sudah menjadi perhatian pemerintah dan para ahli pendidikan di Indonesia, yaitu dengan dimasukannya mata pelajaran seni kedalam kurikulum seperti yang tercantum dalam undang-undang no.2 tahun 1989 tentang pendidikan nasional.

Namun kiranya dilapangan harus menjadi perhatian kita bersama secara terus menerus serta melakukan pembenahan sesuai dengan fungsi dan tujuan pendidikan seni, guna mengembangkan kepekaan estetis para siswa dalam mengembangkan pengetahuan apresiasi seni serta berkarya kreatif.

Pembenahan keadaan di lapangan menuntut perhatian semua pihak, baik pemerintah sebagai penyelenggara pendidikan maupun para pendidik dan masyarakat itu sediri. Tuntutan pokok saat ini adalah selalu memperhatikan kompetensi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni sesuai perkembangan zaman, seperti mencukupi segala bentuk sarana maupun prasarananya, serta menyiapkan tenaga pengajar yang propfesional dan mempunyai wawasan dibidang pendidikan seni yang mampu menjawab berbagai kebutuhan siswa tentang seni serta seluk beluknya berdasarkan kurikulum yang ada saat ini.

Akhirnya sesuai harapan bahwa pada suatu saatnya nanti Indonesia akan memproduksi manusia intelektual yang bersikap estetis dalam membentuk manusia seutuhnya, seimbang dan selaras dengan perkembangan jiwanya untuk menghargai sesama.

A. Pengantar

Sejak diberlakukannya pendidikan seni di sekolah umum secara nasional pada tahun 1976, selama perjalanannya telah mengalami proses perubahan kurikulum yang direvisi secara mendasar antara lain pada tahun 1984 dengan paket pilihan, seni rupa, seni musik, seni tari, dan seni drama. Kemudian pada tahun 1993 dengan pengurangan alokasi waktu dari 4 jam dirubah menjadi 2 jam untuk paket pendidikan kesenian. Perubahan ini diberlakukan secara nasional bertujuan untuk menambah alokasi waktu untuk mata pelajaran yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (Depdikbud 1993:26).

Sebagaimana diketahui, bahwa pendidikan seni telah lama menjadi bagian dari kegiatan sekolah mulai pendidikan TK, SD, SLTP, dan SLTA. Sebagai contoh ketika anak-anak TK bernyanyi ‘Satu-satu aku sayang ibu’ adakalanya dilakukan sambil bergoyang kekiri kekanan dengan gelengan kepala sambil mengacungkan jari tangannya sesuai hitungan lagu yang dinyanyikan. Interpretasi lagu itu memberikan rangsangan pengetahuan berhitung pada diri anak dimana saat ini kehidupan kasih sayang sangat diperlukan dalam lingkungannya sehari-hari. Selain itu lagu ‘Naik-naik ke puncak gunung’ intepretasi irama dan syairnya jelas menunjukan lagu itu mengungkap keindahan alam yang subur dan elok secara langsung dapat membangkitkan rasa cinta tanah air bagi anak Indonesia. Keseharian dalam kegiatan menggambar telah diperkenalkan alam Indonesia seperti bunga dan tumbuh-tumbuhan lainnya dengan cara memberikan warna pada gambar. Dalam kenyataannya akhir-akhir ini lomba mewarnai dan melukis tingkat taman kanak-kanak dan tingkat sekolah dasar sangat menonjol dibandingkan dengan kegiatan seni lainnya.        Di bidang seni tari, agaknya tari-tarian yang mengekspresikan pertanian dengan alamnya yang indah, atau kegembiraan saat panen raya, nelayan menangkap ikan dilaut sampai tari-tarian daerah pergaulan anak-anak sampai pada masa remaja sering diajarkan di sekolah-sekolah bertujuan memberikan pengaruh positif bagi perkembangan kejiwaan para siswa agar selalu diajarkan menghargai terhadap sesamanya tentang kedamaian hidup bersama.

Proses pendidikan seni  pada tingkat sekolah dasar hingga jenjang pendidikan SLTA telah diperkenalkan pemahaman tentang nasionalisme dengan diberikan lagu-lagu perjuangan seperti ‘Bagimu Negri’, ‘Hari Merdeka’, ‘Satu nusa satu bangsa’, ‘Pahlawan tanpa tanda jasa’ sebagai ujud kecintaan pada bangsa dan Negara RI Dalam kegiatannya selalu menampilkan simbol nasional seperti bendera nasional, lagu kebangsaan, lambang Garuda Pancasila, cerita kepahlawanan rakyat, dan ornamen-ornamen lain yang dapat memotivasi para siswa dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan. Seperti menampilkan tokoh kepahlawanan lewat media kesenian seperti pertunjukan wayang atau film nasional (Mintargo 2002:15).

Melihat kenyataan tersebut bahwa kegiatan pendidikan seni disekolah-sekolah memang diperlukan sebagai sarana untuk menumbuh kembangkan rasa cinta tanah air dan sesama. Sejalan dengan itu pemerintah lebih mempertegas lagi dengan adanya undang-undang pendidikan no. 2 tahun 1989, menjelaskan sistem pendidikan nasional. Dalam undang-undang ini secara nyata dimasukan kegiatan pendidikan seni sebagai salah satu mata pelajaran yang diajarkan di sekolah.

B. Pengertian Pendidikan

Pendidikan pada umumnya dipandang sebagai suatu proses transformasi tentang berbagai hal, nilai, pengetahuan, dan ketrampilan yang berharga bagi siswa yang berlangsung dalam ruang dan waktu yang dipersiapkan. Tokoh pendidikan Montesori mengemukakan bahwa pendidikan memperkenalkan cara dan jalan kepada peserta didik untuk dapat membina dirinya sendiri (Martadiatma 1985:34).

Beberapa ciri umum mengenai pendidikan antara lain bahwa bentuk dan sifat pelaksanaannya berpedoman pada prinsip-prinsip belajar. Oleh sebab itu, materi bahan ajar disusun sesuai tujuan.

Fungsi belajar dan perkembangan jiwa berdasarkan studi psikologi belajar serta sosiologi pendidikan, saat ini masyarakat mengharapkan agar pengajaran memperhatikan minat, kebutuhan dan kesiapan para siswa untuk mencapai tujuan-tujuan sosial (Soemanto1990:3). Pendapat dan Pernyataan ini sesuai dengan pandangan-pandangan progresivisme, bahwa sekolah adalah masyarakat kecil dan pendidikan menyiapkan mereka untuk menyesuaikan diri dan bereksperimen dalam masyarakat. Hal ini menjelaskan bahwa peranan pendidikan dewasa ini telah diperluas, mencakup pelaksanaan pembelajaran di kelas, dan juga penelitian permasalahan tersebut berhubungan dengan materi bahan ajar, metode, strategi, teknik mengajar, maupun segi tujuan, fungsi, nilai dan prinsip serta kaidah yang digunakan, termasuk kondidisi yang dibutuhkan.

Ide sentral tentang pendidikan dewasa ini berkaitan dengan konsep rasionalitas, yaitu kemampuan berfikir secara kreatif, konsep kebebasan, yaitu kehendak bebas dan konsep kesamaan yaitu memiliki hak kewajiban sama bagi setiap siswa (Barnadib 1996:23).

C. Fungsi Pendidikan Seni

Kata fungsi pada umumnya dapat dipahami sebagai arti manfaat, kegunaan sesuatu, peranan tertentu, kedudukan, tugas yang dikerjakan untuk memenuhi kebutuhan atau tujuan.        Fungsi yang dilaksanakan memberikan pengaruh yang positif.

Durkheim mengemukakan bahwa arti dan makna fungsi berkaitan dengan cara suatu bagian memenuhi kebutuhan sistem. Fungsi disini dipahami sebagai cara tertentu untuk memenuhi kebutuhan suatu sistem yaitu organisasi masyarkat, lembaga agar dapat bertahan dan berkembang (Soekanto1986:12). Pandangan ini sesuai contoh yang dikemukakan oleh Suka Hardjana berikut ini, yaitu apabila kita berbicara tentang fungsi pendikan seni, maka sebenarnya yang sedang kita bicarakan adalah pengaruh seni (Hardjana 1983:90).

Bentuk pengaruh suatu fungsi yang dilaksanakan adalah berupa nilai, arti, dan makna yang sifatnya universal. Bernilai sebagai sarana media atau final yang digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan. Berarti karena dapat membantu diri sendiri, seseorang untuk mendorong atau merangsang terciptanya ide, gagasan, pemikiran, dan membangun suatu konsepsi tertentu. Bermakna, karena dapat memberikan suatu kondisi, suasana, iklim, sehingga dapat memungkinkan untuk menikmati, menghayati, dan menjalankan kehidupan ini.

Ciri suatu pengaruh tertuang dalam berbagai bentuk kegiatan kehidupan yang sifatnya umum atau khusus. Masing-masing kegiatan dapat dalam berbagai situasi, kondisi, sudut tinjauan, pengadaan, pemilihan atau pengaruh dalam bentuk keyakinan, sehingga sesuatu digunakan sebagai bentuk sumber, rujukan, pedoman, alat, sarana, cara, metode, strategi, teknik, dan lain sebagainya.

D. Metode Pendidikan Seni

Metode pendidikan seni sebagai salah satu contoh yang diterapkan di Indonesia saat ini adalah bagaimana cara menyampaikan materi pengajaran khususnya dalam proses belajar mengajar didalam kelas. Karena mengajar tidak terdapat dalam kurikulum, maka dalam pengamatan penulis proses belajar mengajar mata pelajaran seni, metode yang dipakai sama seperti digunakan pada mata pelajaran umum.

Metode pendidikan seni disekolah umum itu sebagai berikut.

1. Metode ceramah

Metode ceramah digunakan dalam setiap penyajian materi pelajaran, karena dalam metode ini teori-teori suatu subyek akan dijelaskan secara terperinci sebelum melakukan praktek, bahkan metode ini disebut sebagai metode klasik, metode yang paling tua digunakan dalam pendidikan. Metode ini guru menerangkan tentang sesuatu secara lisan kepada siswa, dengan bantuan media lain seperti slide film, audio atau gambar. Dengan metode ceramah guru akan mengajarkan dasar-dasar tentang pengetahuan seni.

2. Metode tanya jawab

Metode tanya jawab adalah suatu metode dimana guru mengajarkan kesenian melalui kegiatan tanya jawab. Pertanyaan-pertanyaan mengenai hal teknis yang bersifat psikomotorik harus dipelajari siswa dan akan selalu ditanyakan oleh guru yang mengajar, dan sebaliknya kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa.

Metode ini memberi kesan bahwa titik keaktifan terletak pada guru, sedang murid bersikap responsif. Metode tanya jawab guru akan menanyakan bagai mana gerakan menari, menyanyi, berakting, kemudian siswa akan memberi jawaban sesuai bidang seni yang diminatinya. Adakalanya murid memberi respon dalam bentuk pertanyaan terhadap sesuatu masalah yang dialami dan dirasakan terhadap topik pembicaraan guru, pada gilirannya guru memberikan jawaban berupa penjelasan mengenai hal-hal yang menjadi topik pembicaraan yang menarik bagi siswa.

3. Metode Pemberian tugas

Metode pemberian tugas  sesuai maknanya guru memberi tugas kemudian dibebankan kepada siswa untuk menyelesaikan dalam metode ini jelas tercipta student active learning Sal atau CBSA (cara belajar siswa aktif). Guru sebagai katalisator (penghubung) antara tugas dan murid atau perkataan lain sebagai tempat bertanya murid jika ada kesulitan dalam menyelesaikan tugas.

Pemberian tugas baik individual maupun kelompok dalam pelajaran kesenian seperti bermain musik ansambel misalnya preraturan-peraturannya ataupun tanda baca yang terdapat dalam lagu, guru akan memperhatikan permainan instrumen musik yang disajikan siswa dalam mengikuti kebersamaan dalam ansambel. Dalam metode ini kreasi serta kreatifitas siswa dapat terujud dengan sendirinya sekaligus mempercepat dan mematangkan permainan musik. Sebab siswa diberi kebebasan dalam menginterpretasikan lagu menurut tanda baca yang terdapat dalam lagu itu.

Tugas dalam metode ini siswa diberi kesempatan membuat arransemen lagu untuk dimainkan dalam bentuk ansambel kemudian direkam, dan hasilnya diserahkan kepada guru untuk dikoreksi. Selain itu ansambel musik memupuk kerjasama dan tanggung jawab bagaimana bermain musik yang baik, maka diperlukan kekompakan dengan disiplin latihan bersama secara kontinyunitas khususnya melatih psikomotorik para siswa. Peranan guru disini selalu akan mengamati hasil latihan tersebut dengan memperhatikan dinamik musik, pernafasan, frase dan sebagainya.

4. Metode Kelompok

Metode kelompok, guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok dan masing-masing kelompok diberi tugas yang berbeda satu sama lainnya. Sebagai contoh permainan ansambel musik sekelompok pemain recorder diberi kekuasaan untuk memainkan melodi, sedang kelompok lain hanya sebagai pengiring. Dalam hal ini guru lebih dominan mengamati latihan, kemudian bila terjadi kesalahan dapat dikoreksi. Dalam kegiatan kelompok siswa akan merasakan kerjasama diantara mereka, sekaligus siswa dapat menghayati permainan dan sikap estetis serta tanggung jawab terhadap kelompok. Selain itu bagi siswa yang ingin meningkatkan kemampuannya secara bertahap ketingkat yang lebih tinggi selanjutnya guru memberikan materi yang baru.

Metode kelompok dapat mengurangi  proses belajar mengajar monoton yang menjemukan bagi siswa, kekompakan dalam berekspresi seni akan mudah tercipta bila menggunakan metode ini. Oleh karena itu kegiatan ini dapat menanamkan kekompakan, pendalaman dan penghayatan estetika.

5. Metode demonstrasi

Metode demonstrasi adalah peragaan dalam suatu proses yang sebenarnya terjadi dalam suatu gerakan dan perbuatan. Karena demonstrasi  memerlukan ketrampilan maka harus dilakukan oleh orang yang memiliki ketrampilan. Guru bidang studi memberikan cara memegang dan memainkan instrumen musik, sehingga siswa dapat mengetahui cara yang benar bermain musik. Dengan metode demonstrasi ini siswa dapat mengomparasikan antara teori yang pernah dipelajari dengan guru, dan diharapkan keserasian antara teori dan praktek akan menimbulkan respon yang timbul dari siswa. Metode demonstrasi merupakan kerja psikomotorik dalam proses mempertinggi daya tarik siswa mempelajari latihan secara mandiri.

E. Pendidikan Seni Muatan Lokal

Pendidikan seni di Indonesia seperti tertera pada pedoman kurikulum Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) tahun 1984 untuk pedidikan seni mulai SD, SLTP dan SLTA bertujuan agar memiliki kemampuan berapresiasi terhadap alam sekitarnya lewat karya seni, serta memanfaatkan pengalamannya berkomunikasi secara kreatif melalui seni, dalam upaya menjunjung tinggi nilai budaya dalam mewarisi perjuangan bangsa dimasa kemerdekaan.

Tokoh terkenal sampai saat ini yang mencetuskan gagasan pendidikan seni adalah karya Ki Hajar Dewantara seorang guru yang diakui sebagai bagian penting dalam kehidupan sejarah perjuangan pendidikan di Indonesia, yang dikenal sebagai konsep pendidikan nasional. Gagasan tentang hubungan bahasa dan bangsa sebagai konsep pendidikan nasional diperoleh dari barat yang dipadukan dengan bangsa sebagai orang timur (Abdurrachman1986:11). Ki Hajar Dewantara menerapkan metode Montessori dengan metode Tagore. Metode ini pertamakali diterapkan pada tingkat pendidikan dasar. Pendidikan seni di tingkat dasar untuk muatan lokal misalnya dalam seni musik selalu dijiwai filosofi Jawa yaitu sastra gending  (Dewantara1989:337). Ki Hajar Dewantara menerapkan filosofi sastra gending kedalam bentuk pengajaran seni musik yang disebutnya  metode sari swara, dan metode ini berupa penggabungan lagu dengan  sastra berbentuk cerita, intinya bertujuan untuk sekaligus bersama membangun olah pikir, rasa dan budi pekerti.

Sejalan dengan itu kurikulum untuk sekolah-sekolah umum berlaku dewasa ini untuk SD, SLTP, SLTA mengandung 20% alokasi waktu untuk muatan lokal. Muatan lokal ini terdiri dari pelajaran-pelajaran yang dapat ditentukan sendiri oleh masing-masing daerah mengacu pada kebutuhan-kebutuhan khusus dan kekhasan yang terdapat didaerah. Muatan lokal dalam kurikulum dapat dikaitkan dengan warisan dengan lingkungan alamiah maupun dengan warisan sosial budaya, seperti kondidsi geografis, flora dan fauna, adat istiadat, struktur sosial, arsitektur, seni pertunjukan, senirupa, seni sastra, bahasa serta teknik-teknik khas pembuatan benda-benda dari bahan-bahan yang khas di wilayah masing-masing daerah tersebut. Ini merupakan perpaduan unsur-unsur seni rupa, seni musik, seni tari dan seni teater (Sedyawati 1997:1).

Di Taiwan pendidikan seni tingkat dasar dan menengah diterapkan mulai kelas III SD, kemudian seorang anak sudah harus memilih cabang seni yang diminati seperti seni musik, seni tari, seni rupa yang harus dipelajari selama 9 tahun sampai akhir SLTA. Siswa memilih salah satu cabang seni dikumpulkan dalam satu kelas dan difokuskan untuk mempelajari cabang seni yag menjadi pilihannya. Hasil menunjukan bahwa siswa yang memiliki pengalaman menari misalnya lebih mampu mengapresiasi tari dari yang sama sekali tidak memiliki pengalaman (Murgiyanto 1997:3).

Lain lagi dengan apa yang terjadi pada sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP), dan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA) di Sumatera Barat. Kegiatan kesenian di sekolah dilaksanakan pada saat ujian semester selesai. Sebelum memasuki masa libur tiap-tiap kelas diwajibkan menampilkan kebolehannya dalam bidang kesenian. Pada jenis tarian misalnya, mereka ada yang menyukai tari yang berangkat dari tari tradisi dan ada juga menyukai tari-tarian modern seperti yang pernah mereka lihat lewat tayangan televisi. Demikian juga dalam kegitan musik, dengan segala kemampuan yang terbatas, mereka mencoba mengaransir sendiri lagu-lagu yang ada, atau dengan membuat kelompok vokal group atau kelompok band setiap kelas.

Secara umum pendidikan seni yang diilhami pemikiran tersebut diatas melahirkan sikap estetis membentuk manusia seutuhnya, seimbang dan selaras dalam perkembangan jiwa siswa.

Dengan memperhatikan lingkungan sosial budaya, alam sekitarnya manusia akan saling menghargai dan saling menghormati sehingga meningkatkan hubungan dengan penciptanya Tuhan semesta alam. Dengan landasan itu pendidikan seni dapat diarahkan untuk mengembangkan berkomunikasi yang baik melalui karya kreatif dengan perbuatan dan kegiatan positif (Depdibud 1993:1).

F. Pendidikan Seni Sebagai Keanekaragaman Budaya.

Sekarang bagaimana pendidikan seni bermanfaat bagi bangsa dan negara yang saat ini mengalami pasang surut menghadapi krisis sosial, politik, ekonomi yang berkepanjangan hingga hari ini. Dalam undang-undang no. 2 tahun 1989 upaya pengembangan kurikulum dilakukan dengan memperhatikan tahap perkembangan siswa yang  disesuaikan dengan lingkungan, seperti kebutuhan pembangunan spirituil, perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni. Ini berarti secara sadar pemerintah membawa anak-anak Indonesia menuju salah satu tujuan pendidikan nasional yaitu cinta bangsa dan cinta sesama. Tujuannya adalah agar para siswa siap menghadapi perubahan yang dihadapi saat ini. Misalnya guna memperoleh Afective Skilll yang menitik beratkan kemampuan menghargai secara tepat nilai obyek tertentu dalam apresiasi sastra, apresiasi musik, apresiasi seni tari, apresiasi senirupa (Syah 1995:124). Beberapa ciri dan sifat tercapainya tujuan dan fungsi belajar seni adanya kemampuan membentuk imanjinasi dan perasaan. Imanjinasi dipandang melebihi kemampuan meniru, karena, pengalaman ini membawa siswa kealam yang tidak terbatas. Berbeda dengan meniru, walau tidak sama dengan menjiplak, namun akhir dari kemampuan ini bertumpu pada kesesuaian dengan metode. Sedang perasaan siswa dilatih agar mampu memperkenalkan kreasi dan kemampuan kreativitas yang dimilikinya kepada dunia lingkungan sosial. Pintu dibuka, siswa masuk kedalam dan mencari yang dibutuhkannya, atau ia membentuk dan berkreasi sesuai perasaannya. Misalnya didalam musik adalah sebuah pintu sekaligus menjadi  isi dunia yang tak terbatas itu. Ada irama yang membawanya ke waktu yang hidup. Ada juga melodi yang membawanya kepuncak yang tinggi dan menuruni jalan yang berkelok-kelok, lurus halus atau terjal. Atau siswa akan melalui harmoni yang luas, seakan-akan sedang menjelajahi dunia sebagaimana nilai kemanusiaan yang tiada habis.

Selain itu juga ditekankan didalam sistem pendidikan seni diharapkan seni bisa membawa sebuah visi dan misi kehidupan damai pada masyarakat pluralisme di Indonesia, agar tidak mendapat benturan budaya antara satu dengan lainnya dimasa krisis saat ini.

Prof. Soedarso SP., MA., mempertegas bahwa mengenali secara baik hasil karya seni, orang akan mengagumi para penciptanya, karena seni memiliki aspek regional dan juga universal sifatnya, maka seni dapat memupuk kecintaan bangsa sendiri sekaligus sesama manusia (Soedarso1990:80). Pernyataan itu mengajak para pemikir  pendidikan dapat mempertimbangkan secara lebih serius antara kompetensi regional seni budaya yang dimasukan sebagai bagian dari sistem pengajaran disekolah-sekolah umum, khususnya seni tradisional (Muatan lokal), yang keberadaannya memiliki arti untuk menghormati keragaman seni yang banyak tumbuh di Indonesia sebagai puncak-puncak kebudayaan daerah menunjukan keanekaragaman budaya kita tetapi tetap satu. Dengan demikian pendidikan seni bukan untuk menjadikan siswa menjadi seniman terampil, tetapi tempat untuk memberikan wawasan kebangsaan tentang seni tradisi yang dipelajarinya guna menjunjung nilai-nilai luhur warisan budaya Indonesia. Yang artinya dapat menghindari benturan budaya, agama, suku, mencegah tawuran siswa, bersikap jujur, disiplin, taat hukum, memiliki sikap sportivitas, menghargai sesama terhadap perbedaan dan menghindari perbuatan yang bertentangan dengan norma agama seperti kenakalan remaja dan narkoba.

Melihat kepada kenyataan yang ada, secara teori yang telah terencana dalam kurikulum pendidikan seni, nampak bahwa seni dalam pendidikan di sekolah umum sudah menjadi  tanggung jawab kita bersama. Meskipun tujuannya hanya untuk mengembangkan kemampuan apresiasi para siswa, namun implikasinya sangat luas bagi arti pendidikan di Indonesia saat ini.

Kalau ada  pertanyaan tentang apakah guru-guru kesenian yang dipersiapkan oleh lembaga pendidikan seperti jurusan Sendratasik Universitas Negeri di Indonesia sudah memadai sesuai tuntutan kurikulum, seharusnya pertanyaan ini berpulang kepada para akhlinya, setidaknya tentu harus dijawab oleh orang-orang yang berkecimpung di lembaga itu sendiri, karena selain itu tuntutan adanya guru yang memadai, masalah metode serta materi pengajaran tentunya harus diperhatikan juga.

Guru pelaksana pendidikan seni adalah guru bidang studi lulusan lembaga pendidikan tinggi keguruan seni. Sekalipun pada pelaksanaan pengajaran seni ia tidak banyak berintervensi pada kegiatan seni anak-anak, ia hanya memancing ide anak-anak yang pada suatu saat bisa diminta memberi contoh oleh anak-anak, atau tempat anak-anak berkonsultasi seperti saat mereka sedang menghadapi kesulitan (Garda 1985:11).

Perhatian lainnya yang harus diberikan untuk tercapainya tujuan kurikulum  pendidikan seni disekolah umum berhasil apabila memiliki sarana yang memadai seperti adanya gedung pertunjukan, ruang pameran seni rupa, gedung museum, dimana para pelajar diantar oleh gurunya datang menyaksikan pertunjukan atau imformasi yang disampaikan guru, para siswa tentu memahami secara baik hasil karya seni, yang pada giliran para siswa akan mengagumi para penciptanya, yang sudah tentu akan dapat memupuk kecintaan kepada bangsa sendiri seperti disampaikan oleh Prof. Soedarso Sp., MA.

Meneruskan ide diatas, tentunya pertanyaan bagi terwujudnya tujuan pendidikan seni tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab para akhli pendidikan saja. Pemerintah dengan lembaga  terkait harus memiliki perhatian dan tanggungjawab terhadap terselenggaranya pendidikan seni dan berupaya meningkatkan sarana dan prasarana yang ada. Dengan demikian diharapkan suatu saat nanti, manusia Indonesia menjadi manusia yang intelektual, menghargai budayanya serta mengerti dengan nilai-nilai budaya bangsa.  Oleh karena itu pendidikan seni yang dikembangkan saat ini merupakan bagian yang penting dari sistem pendidikan nasional, yang perlu mendapat prioritas pertama disamping kebutuhan lainnya.

Yogyakarta, 28 September 2005.

Drs Wisnu Mintargo adalah Staf Pengajar Jurusan Musik Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Padangpanjang, saat ini sebagai staf pengajar Program Studi Etnomusikologi di Sekolah Tinggi Seni Indonesia  (STSI) Surakarta.

KEPUSTAKAAN

Barnadib, Imam. 1984.Filasafat Pendidikan, Sistem dan Metode. Yogyakarta:Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP.

Debdikbud. 1993. Kurikulum dan Prasarana Pendidikan seni. Jakarta Badan Pendidikan dan Pengembangan.

Dewantara, Ki Hajar. 1997. Pendidikan Jilid I.. Yogyakarta: Majelis Luhur Taman Siswa.

Garda, Oka. 1985. ”Pendidikan Seni Di SMU”. Seminar di IKIP Bandung.

Hardjana, Suka. 1983. Estetika Musik. Jakarta:Depdikbud Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah.

Mardiatmaja, ed. 1985. Pendidikan dan Pendidikan Nilai, Dalam Memanusiakan Manusia Muda. Yogyakarta: Kanisius.

Mintargo, Wisnu. 2002. “Peranan Lagu-lagu Perjuangan Terhadap Pemahaman Pendidikan Kesadaran Nasionalisme di Indonesia”,Majalah Racmi. Vol. 2 No. 2.

Murgiyanto, Sal. 1997. “Tari Pendidikan Kita”. Seminar Tari Minanguntuk Pendidikan dalam Rangka Gelanggang Tari Sumatera 97 di Taman Budaya Padang.

Sedyawati, Edi. 1997. “Seni Minang Untuk Muatan Lokal”. Seminar

Tari Minang untuk Pendidikan dalam Rangka Gelanggang Tari Sumatera 97 di Taman Budaya Padang.

Syah, Muhibbin. 1995.Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru Bandung: Remaja Rosdakarya.

Soedaso SP. 1990. Tinjauan Seni, Sebuah Pengantar Apresiasi Seni. Yogakarta: Saku Dayar Sana.

Soemanto, Wasty. 1990. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Sukanto, Soerjono.1986. Talcot Parsons: Fungsionalisme Inperaktif. Jakarta: Rajawali.

Sumihardjo, Abdurrachman.1986. Ki Hadjar Dewantara dan Taman Siswa dalam Sejarah Indonesia Modern. Jakarta:Sinar Harapan

Jurnal Racmi PENDIDIKAN SENI DI SEKOLAH TUJUAN DAN KEBERADAANNYA
· · Bagikan · Hapus

  • Anda menyukai ini.
  • Tekan Shift+Enter untuk memulai baris baru.

Facebook © 2011 · Bahasa Indonesia
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Jurnal Racmi BPG Yogyakarta. Vol.1. No.1. Mei 2004. BAGIMU NEG’RI LAGU SEREMONIAL BERSIFAT KENEGARAAN

BAGIMU NEG’RI LAGU SEREMONIAL BERSIFAT KENEGARAAN

A. Pengantar

Seremonial untuk pemberian sebuah nama secara simbolis adalah salah satu tata cara upacara budaya masyarakat timur guna memiliki arti dan makna tertentu dari pemberian nama tersebut. Nama yang dimaksud adalah Negara Republik Indonesia disingkat dengan kata sandi Neg’ri, agar tidak diketahui pihak Jepang yang selanjutnya perjuangkan oleh para pemimpin menjadi konsep negara kesatuan Republik Indonesia. Menurut Kharis Suhud mantan Ketua MPR R.I. makna lagu ‘Bagimu Negri’ adalah pernyataan sumpah bakti dan curahan hati seorang nasionalisme kepada Tuhan Yang Maha Esa dipersembahkan kepada bangsa dan negara untuk mengabdi, berkorban demi jiwa raga tanpa pamrih.

Lagu ‘Bagimu Neg’ri’ diciptakan Kusbini pada tahun 1942 atas permintaan Sukarno bertujuan untuk siaran radio pendidikan taman kanak-kanak guna mengimbangi lagu-lagu propaganda Jepang yang marak saat itu. Pada masa itu pula Kusbini bekerja pada organisasai Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho), berusaha mencoba mengungkapkan jiwa patriotisme secara halus melalui lagu tersebut. Lagu ‘Bagimu Neg’ri’ bagi Kusbini mempunyai kesan tersendiri, diciptakan ketika ia bekerja di radio Houso Kanri Kyoku, memimpin orkes bersama Ismail Marzuki dan M. Sagi. Selain bertugas sebagai pimpinan siaran radio taman kanak-kanak bersama Ibu Sud mereka adalah mantan anggota Badan Pusat Kesenian Indonesia yang dibentuk Sukarno dan dibubarkan pemerintah Jepang tahun 1942.

B. Inspirasi Tentang Republik

Isue nasional ide pemberian nama Republik dalam lagunya terdiri satu bait, hakekatnya didapat melalui inspirasi yang dicetuskan Tan Malaka saat berada di luar negeri mendirikan Partai Republik Indonesia setelah pemberontakan komunis gagal di tahun 1926. Brosur yang ditulisnya berjudul  Naar Republik Indonesia (1936) dicetak di Tokyo dan diselundupkan dari Bangkok ke Indonesia. Issue mengenai nama Negara Republik Indonesia akan berbentuk Republik sebenarnya sudah ada sejak lama didalam konsep pemikiran para pemimpin pergerakan. Sejak tahun 1935 sebelum perang dunia ke II selain Tan Malaka, Sukarno dan Mohamad Hatta sudah membahas tentang ini dalam buku-buku tulisan mereka. Kemudian dalam perkembangan berikutnya ide mengenai pemberian nama Negara Republik Indonesia muncul secara bersamaan, diperkuat lagi hubungan dekatnya dengan orang-orang pergerakan politik berhaluan kanan maupun kiri yang berminat pada musik kroncong, dari pembicaraan mereka itulah Kusbini mendengar tentang nama Republik.

Meskipun beliau awam dibidang pengetahuan politik penyebarluasan lagu ‘Bagimu Negri’ pada masa pendudukan Jepang cukup berhasil dan kesempatan itu dilakukan setiap hari senin melalui acara siaran radio taman kanak-kanak pukul 17.00 – 17.30. Lagu ‘Bagimu Negri’ pada masa pendudukan Jepang dianggap sebagai lagu perjuangan bersifat terselubung dalam konteks gerakan moral bangsa yang diungkap secara halus dan hati-hati. Lagu ini cukup pendek dan memang menarik para pendengar karena makna yang terkandung didalamnya hanya dimengerti oleh para pelajar serta kaum pergerakan yang terorganisir terutama dari para kalangan organisasi Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA), setelah Badan Pusat Kesenian Indonesia (BPKI) di bubarkan.

C. Semangat Nasionalisme Dalam Lagu

Himne atau Himnos dalam bahasa Yunani dapat diartikan lagu penghormatan dan pemujaan kepada dewa, para pahlawan atau tokoh pemimpin terkemuka. Selain itu Himne juga dipergunakan sebagai tanda perdamaian atau pernyataan terimakasih kepada dewa Apollo. Sifat himne ialah menggabungkan melodi dengan syair yang indah. Teks syair berupa puisi menggunakan teknik Dorian yaitu satu nada persuku kata. Contoh lagu zaman Klasik yang terkenal ialah ‘Himne Homer’ yang pengaruhnya sangat besar terhadap seni puisi (Sadie, 1980, hal. 837). Pada masa perang dunia ke II jenis lagu ini pertama kali dikembangkan dalam militer Inggris untuk di ajarkan kepada para serdadu guna memotivasi moral prajurit yang berjuang di garis depan seperti dalam lagunya ‘Ther’ll be an England’

Di Indonesia jenis lagu himne menjadi inspirasi para pencipta lagu di masa pendudukan Jepang, berfungsi sebagai komunikasi  guna membangun moral cinta tanah air berjuang di jalan kebenaran. Pada masa revolusi jenis lagu-lagu ini dinyanyikan secara teratur oleh para pemuda-pemudi pelajar di Yogyakarta sebagai pusat perjuangan di masa perang kemerdekaan dalam perayaan upacara kenegaraan istana kepresidenan bentuk aubade atau paduan suara acara resepsi kenegaraan dan acara siaran radio. Lagu-lagu itu ialah ‘Tanah tumpah darahku’ ciptaan Cornel Simanjuntak, ‘Satu nusa satu Bangsa’ ciptaan L. Manik, ‘Mengheningkan cipta’ ciptaan T. Prawit, dan ‘Bagimu Negri’ ciptaan Kusbini.

Analisis komunikasi politik nasionalisme tercermin dalam lagu ‘Bagimu Negri’ ialah mengenai isue pembentukan Negara Republik Indonesia menjadi idaman Sukarno beserta para pemimpin pergerakan, sekaligus merupakan sebuah simbol perjuangan yang disosialisasikan pertamakali melalui siaran radio taman kanak-kanak ke forum internasional, melalui tulisan Sukarno  dan Mohamad Hatta dalam usaha memperjuangkan Indonesia merdeka. Rasa nasionalisme Kusbini melalui lagunya banyak dipengaruhi para tokoh pergerakan diantaranya  Sukarno dan Dr. Sutomo ketua Partai Indonesia Raya (Parindra). Ketika itu semangat persatuan nasional tumbuh dengan pesatnya. Kusbini berkesimpulan bahwa dalam hati para pemimpin bangsa Indonesia yang bekerjasama dengan pihak Jepang tetap berkobar untuk merdeka, namun semangat itu ditekannya dan disembunyikan demi perjuangan bangsa Indonesia. Pemikiran tersebut juga mengilhami Kusbini merahasiakan pula semangat nasional dalam lagu ciptaannya yang sentimentil diungkap dengan rasa khidmat dan mendalam, maka tersiratlah sebuah kata sandi Neg’ri pada setiap kalimat lagunya yang berarti dari singkatan Negara Republik Indonesia. Dalam proses penyelesaian akhir lagu itu selanjutnya hasilnya diperlihatkan, serta dikonsultasikan kepada tokoh nasional Sukarno di gedung Menteng 31 Jakarta, untuk kemudian disetujui sebelum diperdengarkan melalui acara siaran radio Housokanri Kyoku. Berkumandangnya lagu ‘Bagimu Negri’ akhirnya diketahui dan menjadi perhatian barisan propaganda Jepang Sendenbu yang telah lama mencurigai makna yang terkandung dalam lagu itu. Keadaan situasi politik menghangat saat itu membuat Kusbini menjadi terkejut dan perasaan tegang atas intograsi dan beberapa pertanyaan yang dikemukakan Hinatsu Heitaro seorang akhli drama Sendenbu Jepang. Tetapi berkat lindungan Tuhan Yang Maha Esa dan kesigapannya berdiplomasi kusbini secara pribadi, akhirnya lagu itu lolos dari pengamatan Jepang berkumandang keseluruh penjuru tanah air dengan mengatakan  bahwa yang dimaksud dari arti kata ‘Negri’ adalah pemerintah Jepang.

Gambar 5. Kusbini dan Bagimu Neg’ri Lukisan Syahedi Sumarto,1989

D. Perubahan Fungsi

Koreksi yang dilakukan Sukarno dimaksudkan adalah isue nasional tentang perubahan syair pada baris terakhir kata “Indonesia Raya” dirubah menjadi syair “jiwa raga kami” untuk menghindari kecurigaan Jepang. Perubahan tersebut mengandung indikasi politik yang menunjukan ketatnya pengawasan Jepang terhadap kesenian di Indonesia, selain itu pengaruh nasionalisme Sukarno dan para tokoh lainnya sangat kuat terhadap inspirasi terciptanya lagu ‘Bagimu Negri’. Setelah diadakan upaya pendekatan diskusi antara Kamajaya dan Kusbini, sebenarnya lagu ini cukup sulit dilatih untuk anak-anak karena cara membawakannya dari segi tempo yang sangat lambat (Maestoso) dengan ekspresi penuh khidmat. Pada tahun 1943 ditetapkan kesepakatan baru dengan merubah fungsinya dari lagu pendidikan anak menjadi sarana upacara dan berlaku secara nasional. Perubahan fungsi lagu’Bagimu Negri’ tentu saja diikuti juga dengan tata cara membawakan lagu yaitu dengan perasaan mendalam dengan suasana tenang dan penuh khidmat sebagai ungkapan janji kepada Negara Republik Indonesia. Berfungsi menyadarkan seluruh rakyat Indonesia agar tetap mempertahankan sikap mental yang tabah dan tidak selalu dengan lagu-lagu bersemangat, tetapi untuk mempengaruhi kesadaran cinta tanah air selain itu digunakan lagu bersifat himne dengan perasaan suci. Menjaga tata tertib dan hormat dengan cara mencurahkan rasa cinta sedalam-dalamnya sebagai sumpah bakti dalam upacara resmi seperti pelantikan atau penghargaan, pertemuan para organisasi politik, organisasi sosial kemasyarakatan, dan pendidikan dinyanyikan dalam posisi berdiri di tempat.

Pada bulan Maret 1943 gerakan tiga A secara politis dihapuskan dan diganti dengan Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA), badan itu berada dalam pengawasan ketat pihak Jepang. Keberadaan lagu ‘Bagimu Negri’ ternyata tidak hilang bersama lagu-lagu propaganda Asia Timur Raya lainnya, bahkan peranannya semakin penting dalam kegiatan organisasi kaum pergerakan. Menurut Ki Suratman pada sekitar tahun 1943-1944 mengajar di Taman Dewasa Yogyakarta, waktu itu Jepang tetap melarang lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ berkumandang dimanapun juga. Sebagai gantinya untuk membangkitkan suasana kebangsaan cinta tanah air, maka lagu ‘Bagimu Negri’ diperdengarkan sebagai pengganti lagu kebangsaan. Pada tahun 1946-1947 setelah tidak berfungsi lagi sebagai lagu kebangsaan, lagu ‘Bagimu Negri’ dipakai dalam mengiringi upacara serah terima jabatan, kenaikan pangkat dan pelantikan prajurit Angkatan Laut di Lawang Jawa Timur. Pada tahun 1948 Sukarno dalam rapat panitia lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ di Yogyakarta, pernah mengusulkan agar lagu “bagimu Negri’ dipertimbangkan juga untuk bisa diangkat menjadi lagu kebangsaan. Akhirnya usulan itu diputuskan dalam rapat panitia lagu kebangsaan bahwa lagu ‘Bagimu Negri’ ditetapkan menjadi lagu wajib nasional menjadi urutan kedua setelah lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’.

E. Lagu Seremonial Bersifat Upacara

Awal permulaan revolusi Indonesia merupakan akhir periode pergerakan partai politik yang bergolak dan organisasai perjuangan yang berjalan terus pada masa pendudukan Belanda hingga masa kekuasaan Jepang dan kembalinya kolonialisme di Indonesia. Ideologi pembentukan isue nama negara Republik Indonesia adalah awal gerakan politik intelektual berdasarkan pada cita-cita kemerdekaan Indonesia. Melalui awal pembentukan Angkatan Pemuda 1928 dengan meletakan dasar satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, tujuan gerakan Indonesia merdeka ialah pembentukan kesatuan wilayah negara Republik Indonesia. Seperti yang diidam-idamkan seluruh rakyat Indonesia melalui wakilnya Partai Indonesia dalam kongres di Surabaya tahun 1933, dari sinilah gagasan Kusbini dikembangkan didalam lagu ciptaannya. Sejalan dengan permasalahan itu setelah Indonesia merdeka, pada tanggal 2 Nopember 1949 melalui perjuangan diplomatik konfrensi Meja Bundar di Den Haag, Kerajaan Belanda menyerahkan kedaulatan  kepada pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS), dan ditandatangani pada tanggal 27 Desember 1949 di Jakarta, sejak itu Indonesia menjadi negara merdeka. Selajutnya pada bulan September 1950 dalam sidang Perserikatan Bangsa-bangsa di Flushing Meadows Lake Sucses secara bulat Indonesia diterima sebagai negara berbentuk Republik dan menjadi anggota PBB ke 60.

Negara Republik Indonesia adalah sistem ketatanegaraan meliputi wilayah kepulauan, jumlah penduduk dan kekayaan alam dibentuk dalam wadah organisasi mempunyai kekuasan tertinggi dalam pemerintahan yang sah dan ditaati rakyat demi kepentingan bersama. Kelompok sosial masyarakat yang menduduki wilayah dari Sabang sampai Mereuke secara terorganisir dibawah lembaga politik dan pemerintahan yang efektif dalam menentukan tujuan nasionalnya yang dikepalai oleh seorang Presiden. Lagu ‘Bagimu Negri’ melatar belakangi cikal bakal lagu perjuangan  menurut kenyataannya dalam perkembangan sejarah perjuangan sampai saat ini berfungsi sebagai lagu mengiringi upacara seremonial seperti yang telah ditetapkan pemerintah sebagai berikut.

Pada tahun 1959 lagu ‘Bagimu Negri’ ditetapkan sebagai wajib nasional berlaku bagi pendidikan sekolah dasar sampai tingkat perguruan tinggi, khususnya saat mengiringi upacara wisuda tingkat sarjana disaat hadirin diminta berdiri ditempat. Sudah sejak lama lagu ‘Bagimu Negri’ dipakai Radio Republik Indonesia (RRI) sebagai penutup siaran berita dan penutup siaran nasional TVRI.      Pada tanggal 30 Agustus  1979 lagu ‘Bagimu Negri’ pertamakali dipergunakan dalam mengiringi upacara penandatanganan dan penyerahan secara simbolis Prasamya Purna Nugraha oleh Presiden Suharto kepada Gubernur KDH TK I Propinsi Jawa Tengah Supardjo Rustam di Semarang. Pada tanggal 22 Juli 2001 lagu ‘Bagimu Negri’ mengiringi acara penandatanganan serah terima jabatan Presiden pada acara Sidang Istimewa dari Ketua MPR Amin Rais kepada Presiden Republik Indonesia Megawati Sukarnoputri, sebagai Wakil Presiden menjadi Presiden R.I. bersama iringan Korps Musik Markas Besar Angkatan Darat di Gedung MPR R.I. Jakarta.

F. Makna Lagu Bagimu Negri

Analisis pemikiran konstruktif makna yang terkandung dalam lagu ‘Bagimu Negri’ satu bait sebanyak empat baris secara rinci dapat diuraikan sebagai berikut.

Padamu Negri kami berjanji

Padamu Negri kami berbakti

Padamu Negri kami mengabdi

Bagimu Negri jiwa raga kami

Baris pertama, mengungkapkan padamu Negara Republik Indonesia, adalah kewajiban setiap warga negara mengucapkan sumpah dan janji sebagai suatu pegangan, kesepakatan, persetujuan untuk tidak menginkari janji yang di ucapkan. Berarti menunjukan suatu sikap budi yang luhur dan berbuat jujur sebagai warga negara yang baik. Menjunjung tinggi martabat bangsa dan negara sebagai amanat yang menunaikan tugas bangsa pada negara Republik Indonesia.

Baris kedua, mengungkapkan padamu Neagra Republik Indonesia, kewajiban setiap warga negara mengucapkan ikrar tanda bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa yang cinta tanah air dan bangsa untuk berbuat sesuatu yang berguna bagi negara Republik Indonesia

Baris ketiga, mengungkapkan padamu negara Republik Indonesia, merupakan kewajiban setiap warga negara mengucapkan ikrar mengabdi serta hormat dan patuh kepada negara  yang sah untuk mendukung tujuan nasional yaitu, kesejahteraan, kemakmuran, serta mempertahankan kedaulatan negara dengan sepenuh hati tanpa pamrih.

Baris keempat, mengungkapkan baris pertama, kedua dan ketiga pembahasan tersebut diatas, dijadikan pedoman hidup bagi setiap warga negara Republik Indonesia secara lahir dan batin sebagai suatu pandangan yang luhur dan kesederhanaan hidup. Bagimu negri jiwa raga kami, menurut penciptanya adalah tanda kelahiran dirinya pada hari jum’at legi. Menurut hitungan Jawa  jum’at berarti 6 dan legi adalah 5, kemudian bila ditambahkan menjadi 11, sama dengan jumlah suku kata baris terakhir lagu yang sedang dipikirkannya sesuai dengan permintaan Sukarno. Pada saat itu Kusbini mendengar bisikan halus dalam jiwanya tentang arti kelahirannya memiliki jiwa dan raga, ditulisnya perkataan syair jiwa raga kami. Maka secepatnya bagaikan datangnya kilat menyambar Kusbini akhirnya menulis 6 suku kata, sama dengan jumlah suku kata “Indonesia Raya” pertama kali ditulisnya, menjadi “Jiwa raga kami”. Bagimu Negri sebuah lagu yang mengajak dan menganjurkan kepada seluruh bangsa Indonesia agar berbuat dengan ikhlas demi jiwa raga tanpa pamrih, sehingga keikhlasan itu dapat terwujud pada kata baris terakhir “Bagimu Negri” merupakan gong akhir sebuah gending yang memiliki arti falsafah sebagai judul lagunya.

G. Latar Belakang Kusbini

Kusbin dilahirkan didesa Kemlangi, Mojokerto pada tanggal 1 Januari 1910, ayahnya bernama Kusno seorang manteri kehutanan hubungan darah keturunan silsilah kerajaan Majapahit. Sejak kecil kusbini bersama keluarganya kerap berpindah-pindah tugas dari satu rumah dinas kerumah dinas lain dilokasi kawasan hutan Pojok, Kertosono. Caruban dan Saradan Madiun. Karena pengaruh lingkungan pada masa kecil menyebabkan Kusbini peduli dengan nasib bangsanya yang tertindas kaum penjajah. Kusbini menyaksikan bagaimanan kesengsaraan dialami rakyat disekitar tempat tingggalnya.

Pada tahun 1926 Kusbini sekolah di HIS Jombang, situasi itu menimbulkan rasa nasionalisme didalam kalbu, terutama ketika melanjutkan sekolah Dagang Sde Senerpont Donis di Surabaya Kusbini banyak berkenalan dengan para kaum pergerakan yang aktif digaris depan. Sejak Kusbini tertarik dalam bidang musik, belajar tanpa guru mengikuti jejak kakanya Kusbandi. Ia berkesempatan menjadi anggota musisi orkes Jisto (Young Indisce Strijk Tekkel Orkest) di Surabaya dalam komunitas lagu-lagu keroncong dan stambul untuk kepentingan kelompoknya. Pada tahun 1927-1930 Kusbini mengikuti pendidikan musik Algemene Muziekleer untuk instrumen biola di sekolah musik Apollo Malang dibawah bimbingan Kitty Ament dan Mirop. Nama Kusbini mulai dikenal tahun 1935-1939 sebagai penyanyi dan pemain musik memimpin Studio Orkes Surabaya (SOS) dalam siaran radio NIROM bersama S. Abdullah, Miss Netty dan Soelami, serta merangkap penyiar radio CIVRO dan bekerja diperusahaan piringan hitam Hoo Sun Hoo. Bersamaan dengan tumbuh dan berkembangnya perfilman di Indonesia, pada tahun 1941 Kusbini bekerja pada Majestic Film Company dibawah pimpinan Freed Young di Malang. Di studio dan perusahaan piringan hitam karier Kusbini meningkat dalam kegiatan pembuatan musik film yang mengawali prestasinya di Jakarta. Kusbini banyak mendapat kesempatan mengembangkan bakatnya dibidang musik ilustrasi film anatara lain ‘Jantung hati’, ‘Air mata ibu’. Bekal Pengalaman mencipta lagu-lagu secara berangsur-angsur meningkatkan semangat nasionalismenya dalam memperjuangkan nasib bangsanya lewat media musik.

Pada masa pendudukan Jepang Kusbini tetap bekerja di Jakarta pada radio Housokanri Kyoku pimpinan Utoyo Ramelan. Berdirinya Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho) Kusbini terpilih sebagai wakil ketua bidang musik. Pada kesempatan inilah Kusbini secara diam-diam menciptakan lagu-lagu yang membangkitkan semangat dan kesadaran anak-anak Indonesia dalam cita-cita kemerdekaan bagi tanah air dan bangsa. Berdirinya Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) pada tanggal 19 Maret 1943 dipimpin Sukarno, para seniman seniwati mendapat peluang lebih luas. Dengan pergaulan yang erat antara seniman, sastrawan dan kaum pergerakan bangsa, Kusbini banyak mendapat ilmu dan gagasan dalam ciptaan lagunya. Sebagai musisi kusbini telah diakui masyarakat luas, kemudian sukarno mengangkatnya sebagai anggota panitia lagu kebangsaan Indonesia Raya, dengan Ki Hajar Dewantara, Muhammad Yamin, Bintang Sudibyo, Cornel Simanjuntak, Sanusi Pane dibawah pimpinan Sukarno sebagai ketua panitia. Profesinya masa pendudukan Jepang sampai masa perang kemerdekaan, menyebabkan masuk anggota Angkatan Laut Republik Indonesia di Lawang Jawa Timur, kemudian pindah pada Badan Penerima Kesatria I Angkatan Darat di Madiun sebagai akhli musik.

Pada tahun 1949 Kusbini diangkat sebagai pegawai negeri, dalam kariernya menjabat kepala seksi seni suara dan terakhir menjabat kepala lembaga musikologi dan keografi Depdikbud DIY dan tahun 1971 memasuki masa pensiun. Karyanya dibidang musik keroncong dan lagu perjuangan ditulisnya dalam buku berjudul Kamus Musik (1953), Tujuh Lagu Wajib (1963), Merdu dan Gembira (1965), Indonesi yang Kucinta (1975), Perkembangan Musik Keroncong (1978). Lagu-lagu ciptaan Kusbini  ialah ‘Bagimu Neg’ri’ (1942), ‘Bersatu’ (1942), ‘Buta Huruf’ (1942), ‘Layang-layang’ (1942), ‘Kasih Sayang’ (1943), ‘Fajar’ (1943), ‘Suara nada’ (1943), ‘Suara Bintang’ (1943), ‘Nyanyian Msa’ (1944), ‘Cinta pada Tanah Air’ {1945), ‘Ciblonan’  {1945), ‘Merdeka’ (1945), ‘Pembangunan’ (1945), ‘Salam Merdeka’ (1945), ‘Sekolah Kita’ (1945).

Pada tahun 1978 lagu ‘Bagimu Neg’ri’ ciptaan Kusbini pernah disengketakan penciptanya oleh J. Semedi, berdasarkan fakta hukum Kusbini adalah penciptanya berdasarkan undang-undang Hak Cipta tahun 1912 (Kusbini, 1978, hal. 26). Berkat ketekunan dalam bidang musik keroncong pada tanggal 17 Agustus 1972 menerima anugerah seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pada bulan Januari 1977 menerima piagam Direktorat Pendidikan menengah Kejuruan Drs. Sunaryo M.Sc atas jasa dan pengabdian pada Sekolah Menengah Musik di Yogyakarta. Pada tanggal 4 April 1979 menerima piagam dari Panglima Komando Wilayah Pertahanan II, Letnan Jenderal Widodo atas pengabdiannya dalam bidang seni suara.

Pada usia lanjut Kusbini tidak mencipta lagu-lagu baru, tetapi masih bekerja menyususn metode bermain musik di sanggar Olah Seni Indonesia (SOSI), yang didirikan  sejak tahun 1951, sekaligus tempat kediamannya di jalan Pengok, dan sudah 40 tahun kusbini bersama istri Ngadiyem sebelas putra putrinya mengabdi pada musik. Sejak tahun 1988 pemerintah atas nama Presiden Republik Indonesia merencanakan  akan memberikan penghargaan pada lagu ‘Bagimu Neg’ri’, namun hingga saat ini belum terealisasi. Pada tanggal 30 Maret 1991 Kusbini wafat dan dikebumikan di pemakaman seniman Imogiri Yogyakarta, untuk menghormati penghargaan pemerintah sebagai pahlawan nasional atas jasanya wali kota Yogyakarta Akhmad Subagijo merubah jalan Pengok menjadi nama jalan Kusbini .

Gambar 6. Kusbini (1910-1991)

H. Penutup

Issue nasional terciptanya  lagu ‘Bagimu Neg’ri’ muncul karena semangat nasionalis yang diciptakan pada tahun 1942, ketika ia menjadi penyiar acara taman kanak-kanak di radio Housokanri Kyoku. Dilarangnya segala macam perkumpulan pemuda dan berkumandangnya lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ pertanda perjuangan kemerdekaan tidak dapat dilancarkan  secara terbuka. Pada jaman pendudukan Jepang orang harus pandai-pandai merahasiakan cita-cita kemerdekaan. Pikiran seperti itulah yang mengilhami Kusbini merahasiakan pula  maksudnya  dalam memasukan ide semangat kemerdekaan pada lagu ‘Bagimu Neg’ri’. Komunikasi politik tentang timbulnya  pikiran Kusbini untuk memasukan secara sandi Republik Indonesia disingkat RI, pertama kali masyarakat belum memahami, tetapi lambat laun para pelajar  dan kaum pergerakan akhirnya memahami apa yang dimaksud penciptanya yaitu soal isue bentuk negara Republik Indonesia. Pikiran Republik sejak pemerintah Hindia Belanda hingga pendudukan Jepang sangat ditentang oleh kaum penjajah. Proses  penciptaan syair semula  “Indonesia Raya” pada lagu ‘Bagimu Neg’ri’ adalah pengaruh inspirasi  DR. Sutomo di Surabaya. Pada tanggal 25 Desember 1935 berdiri Partai Indonesia Raya (PARINDRA), kalimat “Indonesia Raya” lagu ciptaan Kusbini sangat dipengaruhi  partai ini. Ilham dari nama Partai ini berpadu dengan kekagumannya pada lagu ‘Indonesia Raya’ ciptaan W.R. Supratman yang diakaui sebagai lagu kebangsaan. Lagu Kebangsaan saat itu dilarang oleh penguasa Jepang karena terkandung cita-cita Indonesia merdeka. Ketika lagu ‘Bagimu Neg’ri diperdengarkan dihadapan  Sukarno syair “Indonesia Raya” harus segara dirubah karena membahayakan perjuangan bangsa. teguran Sukarno amat berpengaruh terhadap karyanya untuk kembali direnungkan demi menyelamatkan negara.

Dari uraian yang telah dikemukakan tersebut diatas proses perubahan fungsi lagu ‘Bagimu Negri’ menjadi sebuah lagu perjuangan bersifat kenegaraan sebagai berikut.

1. Perubahan syair  “Indonesia Raya” menjadi “jiwa raga kami” pada baris terkhir ada indikasi bahwa pengaruh komunikasi politik dan para pemimpin nasionalisme seperti Sukarno, Dr. Sutomo dalam lagu peranannya cukup besar pada masa perjuangan Indonesia.

2. Lagu ‘Bagimu Negri’ diciptakan tahun 1942 pada masa pendudukan Jepang adalah gagasan lama semasa pendudukan Belanda yang terpendam dalam diri penciptanya, yang memang sengaja dirancang jauh sebelum Indonesia merdeka.

3. Setelah dianalisa secara mendalam diketahui bahwa lagu ‘Bagimu Negri’ pada baris pertama, baris kedua, baris ketiga dan baris keempat seperti diuraikan tersebut diatas. Makna yang terkandung dalam lagu ‘Bagimu Negri’ bersifat konstruktif. Sebagai lagu  seremonial bersifat ketatanegaraan, saat ini lagu ‘Bagimu Negri’ selalu dipakai dalam acara protokoler kenegaraan seperti pada upacara pelantikan serah terima jabatan Kepresidenan, pelantikan kabinet pemerintahan, pemerintahan daerah, pelantikan pejabat negara, pelantikan anggota DPR.R.I dan MPR.R.I., penganugerahan penghargaan nasional, serta dalam acara wisuda sarjana perguruan tinggi seluruh Indonesia, lagu ‘Bagimu Negri’ wajib diperdengarkan dan hadirin dimohon berdiri.

Jurnal Racmi BPG Yogyakarta 2004. BAGIMU NEG’RI LAGU SEREMONIAL BERSIFAT KENEGARAAN
· · Bagikan · Hapus

  • Anda dan Sulaiman Juned menyukai ini.
  • Tekan Shift+Enter untuk memulai baris baru.

Facebook © 2011 · Bahasa Indonesia
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Jurnal Humaniora UGM Yogyakarta Vol XV. No.1/2003. LAGU PROPAGANDA DALAM REVOLUSI INDONESIA TAHUN 1945-1949

LAGU PROPAGANDA DALAM REVOLUSI INDONESIA TAHUN 1945-1949

Oleh: Wisnu Mintargo

1. PENGANTAR

Di dalam dunia politik disebutkan bahwa fungsi musik adalah sebagai alat yang ampuh untuk propaganda  dan agitasi politik. Lagu-lagu propaganda di masa pendudukan Jepang dan revolusi Indonesia dikenal dengan istilah musik fungsional yang diciptakan untuk mencari dukungan politik. Salah satu contoh musik fungsional, dalam sejarah musik, dikenal musik yang berfungsi mengiringi peribadatan agama (Ritual), dan musik yang mengiringi tari sebagai sarana hiburan.

Fungsi utama lagu-lagu propaganda adalah alat penyebarluasan opini bersifat simpel, tetapi implikasinya bersifat kompleks. Pandangan ini berkaitan dengan teori yang menyatakan bahwa lagu-lagu propaganda sebagai media komunikasi guna menyampaikan pesan tertentu kepada massa untuk mengimbangi kekuatan propaganda musuh di dalam ajang perang urat syaraf (Sastropoetro,1983:22). Sebagai sarana propaganda kedudukan pemain dan peserta di dalam seni pertunjukan ini terlibat seluruhnya, hingga bisa disebut sebagai Art of Participation (Soedarsono, 1998:39). Salah satu sarana komunikasi vertikal yang terpenting adalah radio dalam penyebarluasan imbauannya sebagai corong pemerintah yang berkuasa saat itu. Peranan seni pertunjukan dalam lagu-lagu propaganda idiom musik barat seperti melodi, irama, harmoni, dan teks lagu dikemas berdasarkan kemampuan musikalitas masyarakat pendukungnya. Unsur teknis bernyanyi tidak begitu penting, diutamakan adalah makna serta isi teks lagu bersifat agitasi disampaikan kepada masyarakat pendukungnya mudah dinyanyikan dan dihayati bagi seluruh rakyat Indonesia.

Lagu-lagu propaganda pada masa pendudukan Jepang terdiri dari dua jenis lagu. Pertama, lagu-lagu jenis mars propaganda terbuka dikenal sebagai lagu propaganda Asia Timur Raya berjudul   ‘Maju Putra-putri Indonesia’, ‘Hancurkan musuh kita’, dan ‘Asia sudah Bangun’. Lagu-lagu ini digunakan sebagai alat prpovokasi dan indoktrinasi semangat Jepang yang sengaja diciptakan pemerintah penguasa Dai Nippon guna mengajak bangsa Indonesia bersatu dengan Asia Timur Raya melawan Amerika dan sekutunya dalam perang dunia II.

Kedua, lagu propaganda jenis mars yang bersifat terselubung, digunakan lagu ‘Indonesia Raya’ berfungsi sebagai alat penyamaran propaganda Jepang membentuk negara kesatuan Asia Timur Raya, sebagai bujukan halus untuk menarik simpatik bangsa Indonesia.  Lagu-lagu bersifat terselubung hasil kolaborasi pemerintah Jepang- Indonesia misalnya, lagu ‘Menanam Jagung’ ciptaan Bintang Sudibyo, menganjurkan masyarakat Indonesia bercocok tanam. Suatu saat lagu ini berfungsi mengatasi krisis kelaparan,  dan rakyat dianjurkan mendengarkan pidato Sukarno lewat instruksi radio propaganda Jepang Hosyo Kanri Kyoku, maka saat inilah lagu itu diperdengarkan.

Kata propaganda berasal dari bahasa latin Propagare yang berarti menyebarluaskan. Propaganda menurut Institute of Propaganda analysis adalah suatu pengungkapan opini dari seseorang atau sekelompok massa dengan sengaja untuk mempengaruhi opini atau tindakan orang atau kelompok lain dengan  tujuan yang telah ditetapkan, supaya suatu pendapat diterima oleh kalangan umum. Dalam pengertian yang lunak propaganda menyiarkan keterangan, bermaksud menarik simpati masyarakat umum untuk tujuan kekuasaan (More, 1988:63). Kata propaganda hampir sama dengan agitasi. Agitasi berasal dari bahasa Perancis agister (kata kerja), berarti melakukan suatu gerakan oposisi yang umumnya dipergunakan pada suatu organisasi politik dengan maksud melemahkan lawan. Misalnya, apa yang pernah dilakukan Bung Tomo pada masa revolusi dalam pidatonya melalui siaran radio. Pidato itu selalu dibuka dengan lagu-lagu bersemangat. Setelah itu Bung Tomo mengucapkan pidatonya dengan berapi-api.

Pengertian komunikasi dapat dibagi menjadi dua unsur. Pertama, komunikasi nonverbal dapat diartikan sebagai sistem isyarat, tanpa mempergunakan bahasa, seperti lambang dan gerakan (sematis). Tanda-tanda nonverbal pada masa perang kemerdekaan di Indonesia diantaranya ditafsirkan melalui simbol lencana, bendera, pakaian militer, dan panji kesatuan, sebagai sarana komunikasi kesatuan dan kekuatan untuk membedakan kawan atau lawan.

Kedua, komunikasi verbal ialah bahasa sebagai sarana komunikasi, dipadukan unsur musik seperti melodi, irama, harmoni,  dan teks lagu berfungsi sebagai seni pertunjukan. Agar lebih menarik, pada lagu-lagu pembangkit semangat perjuangan dinyanyikan dalam prosesi berjalan oleh para pemuda pelajar Indonesa saat berunjuk rasa. Tanda-tanda ini memberikan motivasi keberanian, karena merebut kemerdekaan adalah gerakan konstruktif melawan penindasan dan ketidak adilan, oleh karena itu lagu-lagu bersifat agitasi lebih tepat dipergunakan pada masa revolusi (Yoesoef, 1986:186). Dalam hal ini peranan musik sebagai sarana komunikasi sangat efektif untuk membawa pesan dari pencipta kepada pendengarnya guna membangkitkan semangat perjuangan, sehingga secara bersamaan lagu-lagu propaganda mempergunakan kesempatan ini, sekaligus menyamar dan bisa sebagai alat perjuangan (Hermeren, 1994:284).

2. KOMPONIS DAN PENGARUH POLITIK

Komponis dan pengaruh politik dalam dunia seni pertunjukan keberadaannya sering ditentukan oleh kebijakan penguasa pada masa itu. Perkembangan dari masa ke masa umumnya digunakan sebagai corong pemerintah dan alat kekuasaan, hingga peranannya sulit ditentukan antara kebutuhan seni untuk seni (Art to Art) dengan seni sebagai tujuan politik. Di negara Rusia  misalnya unsur seni sebagai tujuan politik sangat kuat di masa kekuasaan rezim Kruschev. Kekuatan ini muncul dikalangan pemusik Avant Garde, dan kemudian berkembang di kalangan garis keras organisasai partai Rusia sebagai seni yang  dikemas (seni kid) guna mencari dukungan politik. Musik propaganda menganjurkan para komponis  memberi dukungan aktif lewat seni pertunjukan sebagai gerakan komunisme menuju sistem ideologinya (Cooper, 1998:110).

Pada abad 20 istilah propaganda memiliki muatan konotasi-konotasi yang menakutkan, karena penggunaannya oleh kaum Nazi Jerman dengan paham Fasisme, sama halnya dengan Rusia dalam menyebarkan doktrin komunisme. Gerakan propaganda politik lewat media massa saat itu dianggap sebagai kegiatan kontroversial bersifat persuasif. Kegiatan-kegiatan itu biasanya melalui acara pidato yang bersemangat dan diselingi musik ringan atau lagu-lagu mars guna mempengaruhi sugesti rakyat. Untuk itu, dalam tulisan ini penulis mengajak pembaca terlebih dahulu memahami arti propaganda itu sendiri agar tidak disalahgunakan. Untuk mengetahui istilah propaganda, terlebih dahulu kita harus memahami tujuan, isi, metode, dan efek propaganda. Sejalan dengan perkembangan media massa kebanyakan organisasi besar, seperti pemerintahan pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945, telah mempergunakan lagu-lagu propaganda dalam menciptakan suasana serta gambaran-gambaran publik yang menguntungkan dan menjadi slogan kegiatan rutin dari operasi.

Tujuan propaganda ialah upaya membangun dukungan terhadap kebijakan-kebijakan program pemerintah melalui sarana media massa guna menjelaskan pentingnya pengorbanan diri, dan pengorbanan bangsa, selama perang dan damai.

Isi propaganda biasanya bersifat langsung dan simpel tetapi implikasinya bersifat kompleks. Simbol-simbol yang digunakan dalam propaganda sarat dengan penggunaan slogan. Bila didistorsi dengan melibatkan paham etnis, agama, propaganda dapat mengeksplotasi emosi publik dalam bentuk tindakan destruktif, bentrokan fisik, dan pengrusakan bersifat yang anarkis.

Metode propaganda dapat dijumpai dalam semua jenis media massa seperti pamflet, surat kabar, majalah, dan buku-buku. Media elektronik seperti radio, televisi termasuk seni pertunjukan, sangat potensial digunakan, seperti halnya digunakan media iklan misalnya, karena dapat menjangkau pemirsa di rumah, di tempat bermain, dan di tempat bekerja (Magill, 1996:1114).

Efek propaganda menjadi suatu subjek yang penting karena para kritikus dan pengamat politik umumnya berpendapat bahwa propaganda merupakan bahaya laten apabila dapat memprovokasi massa guna melakukan tindakan yang anarkis. Secara moral, propaganda dapat membangun semangat jiwa, tetapi secara fisik dapat menghancurkan lingkungan. Propaganda merupakan konstribusi kejadian dalam kancah perang urat syaraf yang terjadi pada abad modern masa kini.

3. PROPAGANDA TIGA A

Awal penggunaan musik propaganda di Indonesia terjadi saat menjelang pendaratan bala tentara Jepang di bumi Indonesia pada bulan maret 1942. Pada awalnya dimulai dengan siaran radio yang dipancarkan dari Tokyo dan radio pusat di Jakarta dengan mengumandangkan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ ciptaan W.R. Supratman guna membangkitkan harapan seluruh rakyat Indonesia. Pada tanggal 29 April 1942, pemerintah Jepang bekerja sama dengan para pemimpin bangsa Indonesia membentuk organisasi pertamanya dalam wadah negara kesatuan Asia Timur Raya disebut Tiga A, yaitu Nippon pemimpin Asia, Nippon pelindung Asia, dan Nippon cahaya Asia (Kamajaya, 1979:9).

Pada awal masa pendudukan Jepang harapan bangsa Indonesia merdeka tercapai, untuk itu mengumandangkan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ menjadi penting. Melalui acara pembukaan siaran radio Tokyo lagu tersebut berkumandang bersama Orkes Simponi Nippon Hosyo Kanri. Tujuannya guna mengambil hati dan simpati rakyat Indonesia.

Peranan propaganda Jepang kali ini berhasil menjalankan misinya secara halus, seolah-olah Jepang merupakan bagian dari bangsa Indonesia. Pada saat rakyat Indonesia bersemangat mengatur keamanan dan menyelenggarakan pemerintahan, secara sepihak Perdana Menteri Jenderal Tojo Hideki melalui siaran radio Hosyo Kanri Kyoku di Jakarta, memberlakukan larangan mengumandangkan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ serta upacara  pengibaran  sang saka merah putih. Sebaliknya, pemerintah  Jepang menetapkan undang-undang baru no. 4 memberlakukan lagu ‘Kimigayo’ sebagai lagu kebangsaan Jepang wajib diperdengarkan dan pengibaran bendera Himomaru wajib dilaksanakan. Kemudian peranan lagu-lagu berbahasa Jepang yang selalu mendominasi acara siaran radio, disosialisasikan secara luas kepada masyarakat guna mengikis habis kebudayaan barat di Indonesia, dengan mengganti lagu-lagu dari Jepang seperti ‘Sakura’, ‘Aikoku no hana’, sekaligus memberlakukan larangan mendengarkan lagu-lagu Barat.

Sejak saat itu, para seniman peninggalan kolonial Belanda  diseleksi oleh Keimin Bunka Shidosho di bawah komando barisan propaganda sendenbu menciptakan indoktrinasi semangat Jepang dikenal dengan istilah Nippon Seishin. Sejak itu penentuan tahun baru mulai tanggal 1 April 1942 di Indonesia dirubah menjadi perhitungan tarikh Sumera dengan waktu Jepang sebagai tahun 2602 (1942), dan rakyat diwajibkan merayakan hari besar Tenhnosetsu sebagai kelahiran kaisar Hirohito (Herkusumo, 1982:8).

Pada tanggal 20 Maret 1942 pemerintah pendudukan Jepang menetapkan undang-undang no. 3, isinya melarang kegiatan perkumpulan mulai dari gerakan organisasi politik, ekonomi, dan sosial budaya. Namun melihat perkembangan sosial budaya, khususnya seni pertunjukan Indonesia bertentangan dengan kebijakan pemerintah Jepang saat itu. Para pemimpin Jepang umumnya mulai sadar dan kagum terhadap seni budaya Indonesia, terutama bagi seni pertunjukan yang bersifat hiburan. Seni pertunjukan Indonesia sejak itu sering disajikan dalam acara jamuan guna menurunkan ketegangan. Kesempatan ini memberi peluang bagi para seniman Indonesia meningkatkan kemampuan berkarya seni dan berjuang secara terselubung  (Mintargo, 2001:49).

4. BADAN PUSAT KESENIAN INDONESIA

Perhatian para pemimpin Jepang terhadap kesenian Indonesia  telah membangkitkan pemikiran beberapa seniman untuk mempersatukan diri dalam organisasi Badan Pusat Kesenian Indonesia (BPKI) yang berhasil diresmikan pada tanggal 6 Oktober 1942 di rumah kediaman Sukarno jalan Orange Boulevard no. 11 (sekarang jalan Dipenogoro Jakarta). Suasana ini dapat membangkitkan semangat para seniman Indonesia untuk terlibat langsung dalam kancah politik sejalan dengan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Badan ini bertujuan menghidupkan kesenian Indonesia baru, sesuai dengan perkembangan seni pertunjukan pada masa itu. Organisasi ini terdiri atas anggota pengurus antara lain Sanusi Pane (Ketua), Mr. Sumanang (Sekretaris), Winarno, Armin Pane, Sutan Takdir Alisyahbana, Kusbini, Bintang Sudibyo, Kamajaya, S. Sudjono, Basuki Abdullah, Dr. Purbo Tjaroko, Mr. Djoko Sutomo ketua Perhimpunan Kesenian Jawa “Anggono Raras”, Ki Hadjar Dewantara, Mr. Achmad Subardjo Kartohadikusumo, K.H. Mas Mansur dan seorang bangsa Jepang Ichiki, yang masing-masing sebagai anggota dan badan pengawas. Dalam kegiatan perdananya organisasi ini telah menyelenggarakan pertunjukan kesenian pada tanggal 8 Dersember 1942 di Jakarta dalam rangka memperingati pecahnya Perang Asia Raya. Berdirinya Badan Pusat Kesenian Indonesia sebenarnya sejak lama menjadi perhatian pihak pemerintah Jepang. Badan propaganda Jepang (sendenbu) telah mempersiapkan berdirinya Pusat Kebudayaan yang hakekatnya merupakan siasat Jepang. Pendekatan ini sebenarnya  merupakan bujukan halus agar Badan Pusat Kesenian Indonesia mau dilebur dalam sebuah wadah dengan nama Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho) milik pemerintah Jepang. Maksudnya, lembaga itu dapat mengawasi dan menguasai organisasi itu dengan fasilitas subsidi dari pemerintah Jepang.   Pada tanggal 1 April 1943 Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho) diumumkan dan diresmikan  berketepatan dengan hari ulang tahun Tenno Heika di jalan Noorwijk no. 39 (sekarang jalan Ir. H. Juanda Jakarta). Badan ini bertujuan ; (1) Mengembangkan kebudayaan sesuai dengan cita-cita negara Asia Timur Raya; (2) Bekerjasama  dan melatih ahli-ahli kebudayaan bangsa Nippon dan bangsa Indonesia; (3) Memajukan kebudayaan yang dibentuk pemerintah pendudukan Jepang. Untuk itu Badan Pusat Kesenian Indonesia pimpinan Sukarno dinyatakan bubar.

Pada masa itu kesenian di Indonesia tumbuh dengan subur.  Harus diakui bahwa pemerintah Dai Nippon berjasa dalam upaya mengaktifkan semua cabang kesenian di seluruh nusantara. Melalui organisasi inilah, para seniman Indonesia terlibat langsung membuat lagu-lagu propaganda Asia Timur Raya. Para seniman ditugasi mengadakan konser keliling di seluruh tanah air menghibur penduduk sambil menyebarluaskan propaganda Jepang-Indonesia demi suksesnya Negara Kesatuan Asia Timur Raya.

Pada saat yang sama, Sukarno dimanfaatkan oleh Jepang untuk menghimbau rakyat menyerang sekutu dan membantu kekuatan militer Jepang. Saat itu bangsa Indonesia percaya bahkan para pemimpin pergerakan yakin bahwa Jepang menaklukan Belanda dengan maksud memberi kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Siaran radio yang dipancarkan pemerintah Jepang sengaja dibangun di tempat strategis di seluruh pelosok kota dan desa yang dihubungkan dengan sistem komunikasi disebut dengan istilah menara-menara menyanyi. Menara-menara itu adalah corong propaganda Jepang. Pada waktu jam tertentu penduduk diperintahkan mendengarkan radio termasuk pidato Sukarno yang disiarkan secara sentral, sesuai dengan instruksi dan keinginan pemerintah Jepang (Kahin, 1995:138), seperti radio umum yang disimpan dalam kotak seperti kandang burung merpati, dipancangkan setinggi 2-3 meter isinya selalu mengandung bermacam-macam propaganda. Berkumandangnya paduan suara ‘Hancurkanlah musuh kita itulah Inggris dan Amerika’, ciptaan Cornel Simanjuntak adalah lagu hasil kolaborasi Pemerintah Jepang- Indonesia yang mengajak segenap bangsa berperang melawan Amerika dan sekutunya. Lagu ini menjadi slogan dan sangat populer pada masa itu (Sitompul, 1987:34).

Pada tahun  1943 propaganda Asia Timur Raya merekrut para seniman Indonesia untuk diseleksi mengikuti pendidikan musik di bawah instruktur komponis Jepang Nobuo Lida. Tugasnya secara khusus ialah melatih dan mengindoktrinasi mereka menjadi guru kesenian untuk mensosialisasikan lagu-lagu propaganda dengan pendidikan semangat Jepang (Nippon Seishin), lewat bahasa, adat istiadat,  dan kesenian sebagai sarana pengajaran di sekolah umum dan di masyarakat. Beberapa seniman kita mendapat pendidikan di antaranya  Cornel Simanjuntak, Kusbini, Bintang Sudibyo, Ismail Marzuki. Meraka bekerjasama dengan Jepang sebagai kolaborator di kantor Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho) dan radio Hosyo Kanri Kyoku di Jakarta. Lagu-lagu yang dipancarkan lewat radio propaganda itu ialah ‘Hancurkan musuh kita’, ‘Menanam kapas’, ‘Bikin kapal’, ‘ Bekerja’, ‘Menabung’, ‘Bersatu’, ‘Buta huruf’, ‘Fajar’, ‘Kereta apiku’, ‘Sayang’, ‘Asia sudah bangun’. ‘Bagimu Negri’, ‘Maju Putra-putri Indonesia’, ‘Menanam jagung’, dll. Lagu-lagu ini disebar luaskan secara sentral sebagai alat provokasi dan indoktrinasi semangat Jepang melawan tentara Amerika dan sekutunya. Lagu-lagu itu dipancarkan ke seluruh pelosok tanah air tanpa menyebutkan para pencipta lagu-lagu itu (Mintargo, 2000:20). Para seniman, seniwati dan para ilmuwan hidup dalam keadaan menyedihkan dan memilukan jiwa yang meminta pengorbanan.

Pada tahun 1943 kehidupan semakin sulit, penderitaan dan kelaparan  menjadi beban kehidupan sehari-hari, di pinggir jalan mayat kaum gelandangan banyak mati kelaparan. Penderitaan ini berlangsung dari tahun 1943 hingga menjelang akhir tahun 1944, ketika itu masyarakat sulit mendapatkan beras, uang mulai tidak diterima sebagai alat pembayaran dan rakyat melepaskan dengan cara barter atau tukar menukar barang.

Lagu ‘Menanam jagung’ misalnya diciptakan pada saat pemerintah Jepang mengatasi kelaparan di Indonesia. Jepang membangun jaringan radio dengan menempatkan pengeras suara  di setiap desa, rakyat dapat mendengarkan pidato Sukarno sebagai berikut, “saudara-saudari terutama kaum wanita” terdengar suara Sukarno dari pengeras suara, “ dalam waktu yang terluang tanamlah jagung untuk kebutuhan sehari-hari”. Karena Sukarno yang berkata kepada rakyat, sepontan kaum tani serentak menanamnya, dan akhirnya di setiap halaman rumah penuh dengan tanaman jagung. Usaha tersebut sangat bermanfaat, hal ini dilakukan secara sadar oleh Sukarno guna mengalihkan kebencian rakyat terhadap Jepang.

5. KOLABORASI SENI SEBAGAI ALAT PERJUANGAN

Revolusi di Indonesia mendorong terjadinya perkembangan pesat lagu-lagu perjuangan dengan dipelopori para seniman dari pusat kebudayaan. Jiwa revolusi menimbulkan kebebasan serta menghilangkan rasa rendah diri. Sebaliknya jiwa itu menimbulkan keberanian. Pada masa revolusi tahun 1945-1949 ritme dan irama mars lagu-lagu perjuangan hasil kolaborasi propaganda Jepang dan Indonesia dimanfaatkan para pemuda Indonesia sebagai pembangkit semangat perjuangan kemerdekaan. Lagu-lagu ini mulai bergelora pada akhir kekuasaan pendudukan Jepang sampai masa penjajahan Belanda  yang kembali berkuasa di Indonesia (Mintargo, 2002:16).

Sejak meletusnya revolusi pada tahun 1945, lenyap pula lagu-lagu berbahasa Jepang dan lagu propaganda Asia Timur Raya, terutama setelah Jepang menyerah dengan sekutu tanpa syarat.

Pada masa kondisi seperti ini terjadi kekosongan bagi dunia pendidikan yang sangat memerlukan pelajaran kesenian. Pemerintah Indonesia tidak mampu berbuat banyak, untuk mengisi kekosongan itu maka setiap guru di sekolah harus mengusahakan sendiri lagu tersebut. Sebagai jalan keluar, lagu-lagu hasil kolaborasi Jepang- Indonesia dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan nilai patriotisme. Lagu ‘Maju putera-puteri Indonesia’ asal mulanya sebuah lagu propaganda ciptaan Cornel Simanjuntak pada tahun 1944, lagu ini tercipta karena situasi kebutuhan mencapai kemerdekaan dari kekuasaan Belanda. Pada tahun 1945 judul dan syairnya di rubah  penciptanya menjadi lagu ‘Maju tak gentar’, berdasarkan pengalamannya sebagai pejuang. Baru setelah proklamasi, lagu itu memperoleh fungsi yang sebenarnya dalam membangkitkan perjuangan nasional.

Sebagai lagu bersifat konstruktif melawan penjajahan Belanda, lagu yang berasal dari pendidikan semangat Jepang seketika berubah bentuk menjadi lagu perjuangan revolusi tahun 1945-1949. Lagu itu terkenal di seluruh nusantara. Secara umum, teks lagu yang dimaksud tidak menimbulkan persoalan, akan tetapi apa bila diteliti lebih dalam, sebenarnya musik hanya sebagai pendukung tujuan politis yang ingin dicapai melalui syairnya, yaitu sebagai alat motivasi. Tujuan politik dimaksud hanya bisa dicapai oleh bahasa pengertian yang serasi antara syair lagu dan melodi musik. Apabila syair lagu dilepas dari struktur melodinya, jelas bahwa musik tidak akan pernah bisa menjelaskan tujuan agitasi politik. Musik hanya berpengaruh pada syair yang bertujuan sebagai agitasi politik. Selanjutnya akhirnya baru dicapai komunikasi secara verbal.

Pada umumnya masyarakat dapat memahami keserasian antara syair dan musik Lagu ‘Maju tak gentar, bukan hanya melodi, harmoni, irama mars yang bersemangat, tetapi juga karena syair lagu kedengarannya sangat patriotis dan sugestif sekali. Dalam lagu itu kehadiran musik berfungsi mendukung syair sehingga dicapai suasana klimaks (Sukahardjana, 1983:90).

Lagu ‘Maju tak gentar’ berfungsi untuk memotivasi perjuangan pemuda Indonesia membela tanah air. Secara realitas lagu itu menampilkan sebuah potret pertempuran pemuda Indonesia melawan Belanda dan Sekutu yang secara rasional tidak seimbang dari segi peralatan senjata. Dalam pertempuran itu tampak senapan bekas peninggalan penjajah, bambu runcing, keris, rencong, clurit melawan senapan otomatis dan meriam. Dengan strategi perlengkapan seadanya serta perlawanan tidak seimbang, tetapi pada kenyataan rakyat tidak gentar seirama dengan lagu ‘Maju tak gentar’ (Soemanto, 1992:51).

Cornel Simanjuntak dalam biografinya mengemukakan kepada rekan-rekannya bahwa penjajahan harus dilawan dengan perjuangan mengangkat senjata. Dari sinilah gagasan lagu lagu itu muncul. Sebagai seorang pimpinan Angkatan Pemuda Indonesia (API) cabang Tanah Tinggi- bermarkas di Menteng 31- sebagai pusat koordinasi dan komando, bersama pemuda,  Cornel Simanjuntak aktif memberi penerangan mengenai arti kemerdekaan kepada masyarakat luas dari kampung ke kampung lainnya di daerah kawasan kota hingga daerah Krawang. Dalam tugas penerangan Cornel Simanjuntak bersama Binsar Sitompul bersama dengan pejuang lainnya, mengendarai mobil pickup tua dengan iringan sebuah gitar mengumandangkan lagu-lagu ‘Sorak-sorak bergembira’, dan ‘Maju tak gentar’. Sambil melambaikan bendera merah putih, mereka membangkitkan semangat rakyat di sepanjang jalan yang dilalui (Sitompul, 1987:51). Dari uraian itu, dapat disimpulkan bahwa berkumandangnya kedua lagu itu dalam waktu yang sama, dapat diartikan kemerdekaan Indonesia telah diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun, perjuangan belum berakhir karena bangsa Indonesia harus menghadapi perang melawan Belanda dan Sekutu.

Sejak Jepang mengalami kekalahan dalam perang pada tahun 1945, Belanda membonceng Sekutu kembali ke tanah air, rakyat menolak dan mengadakan perlawanan fisik. Ciri-ciri ini ditandai dengan munculnya lagu-lagu perjuangan yang bergelora ke seluruh penjuru tanah air. Jenis lagu ini tak terhitung jumlahnya dan menjadi populer, terutama di Jawa sebagai pusat perjuangan. Pada tahun 1946, negara dalam keadaan status darurat Sukarno dan Mohammad Hatta memindahkan pemerintahannya di Yogyakarta. Pada saat yang sama Cornel Simanjuntak bersama para seniman dan pejuang lainnya dipimpin Usmar Ismail turut hijrah ke kota Yogyakarta.

Pada masa perang kemerdekaan, propaganda mengalami perubahan fungsi, yaitu penerangan. Menurut Sekjen Dr. H. Roeslan Abdulgani peraturan pemerintah no. 34 Tahun 1958, perjuangan kemerdekaan masa penjajahan Belanda disebut istilah propaganda bagi salah satu struktur organisasinya. Organisasai ini bertugas dibidang persuasi guna menangkal propaganda Belanda yang selalu memutar balikan fakta. Berdasarkan keputusan Dewan Pertahanan Keamanan, propaganda berfungsi bagi penyuluhan masyarakat dalam memberi keterangan dan penerangan positif, salah satunya  mempergunakan komponen lagu-lagu yang dapat membangun semangat rakyat untuk berjuang (Sastropoetro, 1991:13).

6. ANALISIS LAGU MAJU TAK GENTAR

Bait I                 Maju tak gentar membela yang benar

Maju tak gentar hak kita diserang

Maju serentak mengusir penyerang

Maju serentak tentu kita menang

Bait II               Bergerak-bergerak serentak-serentak

Menerjang menerkam terjang

Tak gentar-tak gentar menyerang-menyerang

Majulah-majulah menang

Pemikiran konstruktif yang terkandung dalam teks lagu ‘Maju tak gentar’ adalah sebagai berikut.

Bait pertama intinya mengungkapkan betapa membaranya semangat para pejuang dalam membela kebenaran. Para pejuang tidak rela memberikan sejengkal tanah air yang menjadi hak kita di rebut kembali oleh penjajah, tidak akan memberikan dan mengulangi nasib yang sama ketika Belanda pernah menjajah kita. Dengan kekuatan tenaga, segenap rakyat Indonesia serentak melakukan perlawanan fisik untuk mengusir penjajah dari bumi pertiwi guna meraih kemenangan.

Bait kedua intinya menggambarkan sebuah peristiwa perlawanan fisik bagi pejuang dan seluruh rakyat Indonesia dengan tindakan perhitungan dan strategi keberanian bertempur di medan perang dengan menghancurkan lawan dan meraih kemenangan.

Secara umum dasar-dasar sifat konstruktif yang dimaksud pada lagu yang mengalami perubahan tersebut, di dalam gerakan masyarakat Indonesia pada tahun 1945-1949, yaitu merealisasikan tindakan perasaan dan keinginan untuk merdeka. Gerakan masyarakat bersifat konstruktif melalui perubahan fungsi yang terjadi pada lagu ini, hendaknya dilihat dalam konteks terhadap siapa gerakan itu ditujukan. Gerakan dimaksud adalah membebaskan diri dari penindasan demi kemerdekaan yang hakiki. Para pejuang mampu menghadapi Belanda yang kembali menancapkan kekuasaannya di Indonesia. Gerakan ini semakin kuat di kalangan para pemuda  yang menyulut terjadinya perubahan sosial yang dominan (mainstream Approach). Bangkitnya semangat juga dipicu oleh para pemimpin melalui pidato dan opini politiknya, para seniman melalui ciptaaannya yang bergelora demi kemerdekaan Indonesia.

Revolusi adalah perubahan sistem ketatanegaraan secara fundamental menyangkut pembagian kekuasaan politik, status sosial, ekonomi dan sikap budaya masyarakat. Revolusi biasanya diikuti oleh meluasnya serta meningkatnya kekerasan, mobilitas massa, dan perjuangan ideologi. Revolusi diawali oleh pemberontakan karena penindasan menurut pandangan rakyat Indonesia sebagai penyebab kesengsaraan lahir dan batin yang memicu timbulnya berbagai faktor yaitu; (1) Kehilangan harga diri suatu bangsa karena akibat penindasan oleh bangsa lain;                 (2) Kehilangan harta benda, sanak saudara, hasil bumi oleh sewenang-wenang kaum penjajah; (3) Kehilangan rasa adil akibat hak-hak kemanusiaan dirampas oleh kaum penguasa; (4) Kehilangan suatu kebebasan hidup ditanah airnya sendiri (Fakih, 1996:38).

Dalam sejarah, simbol lagu-lagu pembangkit semangat perjuangan bersifat konstruktif, pertamakali dikembangkan oleh kaum Trindad daratan tahun 1870 pemukim imigran pertama di negara Perancis. Tahun tersebut merupakan awal gerakan oposisi dilakukan oleh orang Afrika dan orang Kreol pada masa perbudakan.  Pada pertengahan abad 19 lagu-lagu jenis ini berkembang menjadi lagu-lagu memperjuangan hak asasi manusia. Tujuannya guna memprotes terhadap perlakuan yang tidak adil, sehingga dapat memicu terjadinya kerusuhan massa dalam bentuk  unjuk rasa, dan dinyanyikan dalam prosesi berjalan (Bruner, 1982:26).

Pernyataan di atas sama seperti pada lagu perjuangan Indonesia. Proses perubahan lagu propaganda ‘Maju putra-putri Indonesia’ hasil kolaborasi Jepang-Indonesia menjadi lagu ‘Maju tak gentar’, adalah sebuah lagu perjuangan. Perubahan meliputi judul lagu dan syair, disebut transformasi dalam bentuk yang lain. Perubahan itu meliputi dari sifat lagu yang terikat aturan Keimin Bunka Shidosho menjadi lagu yang bebas, sesuai dengan keinginan penciptanya karena pengalamannya sebagai pejuang kemerdekaan.

Dapat disimpulkan arti lagu ‘Maju tak gentar’ pada bait pertama, bait kedua. Makna yang terkandung dalam lagu itu dapat diklasifikasikan sebagai lagu perjuangan bersifat konstruktif untuk membangkitkan semangat revolusi Indonesia tahun 1945-1949.

Selama revolusi berlangsung pada tahun 1946 para alumni Hollandsch Inlandsche Kweekschool (HIK) Muntilan tempat Cornel Simanjuntak belajar musik, membentuk perkumpulan paduan suara Pemuda Nusantara yang khusus menyanyikan lagu-lagu perjuangan dipancarkan secara rutin di RRI. Kotabaru Yogyakarta. Menurut Franz Seda dan Alex Rumambi lagu ‘Maju tak gentar’ saat itu sangat populer dan membangkitkan semangat tentara pelajar Yogyakarta dalam Front pertempuran selama  revolusi hingga tahun 1949.

7. PENUTUP

Penulisan sejarah pergerakan seperti telah dikemukakan diatas dalam sosiologi dapat mengungkap proses sosial yang berkaitan dengan upaya pemahaman kausalitas (sebab akibat) antara pergerakan sosial dengan perubahan sosial yang terjadi, serta akibatnya terhadap dampak kehidupan masyarakat luas. Fungsi sebagai kaidah berguna menjelaskan tentang gejala-gejala sosial dan institusi sosial dengan memfokuskan kepada fungsi (kegunaan) yang dibentuk dan disusun oleh institusi sosial itu sendiri.

Dapat dijelaskan bahwa lagu propaganda dalam revolusi Indonesia tahun 1945-1949, lagu propaganda menjadi alat perjuangan dapat disimpulkan sebagai berikut.

1). Usaha-usaha Jepang memanfaatkan pemimpin dan para seniman Indonesia untuk propaganda lewat indoktrinasi melalui pendidikan semangat Jepang, dimaksudkan agar pengaruh dan keinginannya berkuasa di Indonesia bisa bertahan lama seperti kolonial Belanda. Selain itu, Jepang telah menabur kebencian terhadap bangsa lain dengan faham fasisme baik secara halus maupun dengan jalan kekerasan, agar bangsa Indonesia mau menerima begitu saja tanpa memikirkan akibatnya. Kerjasama Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Shidosho) dimaksudkan agar organisasi ini dapat menyalurkan keinginan Jepang mengajak bangsa Indonesia ikut terlibat dalam fasisme melawan Amerika dan sekutunya. Selain itu, diperdengarkannya lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ terbukti bahwa Jepang telah melancarkan propaganda terselubung secara halus, guna menarik simpati bangsa Indonesia.

2). Pada masa pendudukan Jepang bangsa Indonesia terkecoh oleh janji-janji Jepang akibatnya kerugian bagi bangsa Indonesia. Sukarno berpendapat bahwa propaganda dan slogan Jepang adalah sebagai perintis bangsa Asia menindas bangsa Asia, merupakan gerakan penipuan para nasioanalis Jepang konservatif, yang menganggap dirinya sebagai pahlawan Asia anti Imperialisme Barat.

3). Sebagai warisan sejarah nasional lagu ‘Maju tak gentar’ ditetapkan menjadi lagu wajib nasional bagi pendidikan dasar, menengah, hingga perguruan tinggi dan wajib diketahui oleh seluruh rakyat Indonesia. Ketetapan itu dituangkan berdasarkan Instruksi Menteri Muda Pendidikan Pengajaran  dan Kebudayaan no. 1 tanggal 17 Agustus 1959, dan diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1963.

KEPUSTAKAN

Bruner, Edward M. The Antropology of Experience. Ubana and Chicago: University of Illionis Press, 1982

Cooper, Martin. Judgement of Value. New York: Oxford University Press, 1998.

Fakih, Mansour. Masyarakat Sipil untuk Trasformasi Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996.

Herkusumo, Arniati Prasedyawati Chuo Sangin Dewan Pertimbangan pada Pendudukan Jepang. Jakarta: PT. Rosda Jayaputra, 1982.

Hermeren, Goran. Art and Life: Model for Understanding Music. Rectived: Luad University, 1994.

Kahin, George Mc Turman. Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia. Jakarta: UNS dan Pustaka Sinar Harapan, 1985.

Kamajaya. Sejarah Bagimu Negri Lagu Nasional. Yogyakarta: U.P. Indonesia, 1979.

Magill, Frank N., ed. International Encyclopedia of Goverment and Politics. Volume 2. Singapore: PTE, 1996.

More, H. Frazier. Hubungan Masyarakat, Prinsif, Kasus, dan Masalah, terj. Suwiryo. Bandung: PT. Rosdakarya, 1988.

Mintargo, Wisnu. “Fungsi Lagu-lagu Perjuangan Indonesia dalam Konteks Kemerdekaan Tahun 1945-1949”. Tesis guna mencapai derajad Magister Humaniora S-2. Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2001.

“Lagu Perjuangan Indonesia sebagai Media Propaganda”, dalam Jurnal Palanta Seni Budaya no. 6 ASKI Padangpanjang. Maret 2001.

“Peranan Lagu-lagu Perjuangan terhadap Pemahaman Pendidikan Kesadaran Nasionalisme di Indonesia”, dalam Majalah Racmi no. 2 BPG Yogyakarta. Mei 2002.

Yoesoef, Soelaiman. Ilmu Jiwa Massa. Surabaya: Usaha Nasional, 1979

Sastropoetro, R.A. Santoso. Propaganda Salah satu Bentuk Komunikasi Massa. Bandung: Alumni, 1983.

Sitompul, Binsar. Cornel Simanjuntak, Komponis, Penyanyi dan Pejuang. Jakarta: Pustaka Jaya, 1987.

Soedarsono, R.M. Seni Pertunjukan di Era Globalisasi. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1998.

Soemanto, Bakdi. “Cornel Simanjuntak Seniman Pejuang dan Pejuang Seniman”, dalam  Payaman J. Simanjuntak., ed. Seniman Pejuang dan Pejuang Seniman. Jakarta: HIPSMI, 1992.

Sukahardjana. Estetika Musik. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1983.

Lampiran

Lagu Propaganda Keimin Bunka Shidosho ‘Madjoe Poetra-poetri Indonesia’ cipt. Cornel Simanjuntak tahun 1944 sebelum revolusi.

Bait  I.Hai Poetra-poetri di Indonesia     Bait II. Jo ajo madjoe Poetra-poetri kita

Jang tlah berabad-abad menderita            Jo madjoe ladjoe anak Indonesia

Jo serentaklah bangoen dari mimpi          Jo gempoer leboer marah dan bentjana

Jo ajo bakti pada boe pertiwi                    Jo jo bersorai ramai rambah rata.

Reff. .           Kibarkan bendera gerakan tenaga

Mentjipta Asia Raja

Kibarkan bendera gerakan tenaga

Mentjipta Asia Raya (ke bait II)

Lagu Perjuangan ‘Maju tak gentar’ cipt. Cornel Simanjuntak tahun 1945 dirubah fungsinya pada awal revolusi

Bait  I.  Maju tak gentar membela yang benar

Maju tak gentar hak kita diserang

Maju serentak mengusir penyerang

Maju serentak tentu kita menang

Bait II. Bergerak-bergerak, serentak-serentak

Menerkam, menerkam terjang

Tak gentar, tak gentar, menyerang-menyerang

Majulah, majulah menang

Jurnal Humaniora UGM Yogyakarta 2003. LAGU PROPAGANDA DALAM REVOLUSI INDONESIA TAHUN 1945-1949
· · Bagikan · Hapus

  • Anda dan Sulaiman Juned menyukai ini.
  • Tekan Shift+Enter untuk memulai baris baru.

Facebook © 2011 · Bahasa Indonesia
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Jurnal Racmi BPG Yogya.Vol 2.No.3 Nopember2002 TIGA PEREMPAT ABAD PERJALANAN LAGU KEBANGSAAN INDONESIA RAYA MEMPERSATUKAN BANGSA

TIGA PEREMPAT ABAD PERJALANAN LAGU KEBANGSAAN INDONESIA RAYA MEMPERSATUKAN BANGSA

A. Pengantar

Dewasa ini keadaan negara kita mengalami masa prihatin sebagai akibat krisis politik, ekonomi, sosial budaya, dan intergrasi bangsa yang dapat mengancam keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Berkumandangnya sebuah lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya pada hari ulang tahun Proklamasi negara Republik Indonesia ke 61 tanggal 17 Agustus 2006 adalah sebuah renungan yang mengingatkan kita kepada pesan ritual nasionalisme para pejuang dulu dalam menghadapi tantangan, hambatan upaya membangun semangat persatuan kesatuan dimasa penjajahan demi membangun kebersamaan di bumi Indonesia.

Issue terciptanya lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ diawali dengan sikap patriot W.R. Supratman seorang wartawan dan  seniman yang tergugah hatinya, setelah membaca sebuah artikel dalam surat kabar Fajar Asia, artikel itu menyebutkan “mana ada komponis bangsa kita yang mampu menciptakan lagu kebangsaan Indonesia yang dapat menggugah semangat rakyat”. Artikel itu semula dimuat dalam majalah Timboel yang terbit di Sala, kemudian dikutip oleh surat kabar Fajar Asia pimpinan H. Agus Salim. Selanjutnya artikel itu dibaca oleh W.R. Supratman dan kemudian menghilhaminya untuk mempersatukan pemuda Indonesia melalui lagu ciptaannya. Sebagai seorang pejuang sejati Supratman yakin dimasa depan perjuangan bangsa Indonesia untuk memperoleh kemerdekaannya pasti terwujud.

Lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’  melalui proses sosialisasi lagu, W.R. Supratman kemudian memperlihatkan lagu ciptaannya kepada sahabatnya Sugondo Joyopuspito, A. Sigit Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (Prof. Drs. A. Sigit mahaguru UGM Yogyakarta), dan Mononutu. Setelah mempelajari makna yang terkandung dalam syair lagu itu, mereka berpendapat bahwa ciptaan W.R. Supratman dapat diterima sebagai kriteria sebuah lagu Kebangsaan.

Gambar 1. W.R. Supratman Memperkenalkan Lagu Indonesia Raya di    Gedung Kramat 106 Jakarta.

Sejak itu tumbuh dan berkembangnya nasionalisme di Indonesia, tidak lagi semata-mata didasarkan pada primondialistik, akan tetapi sudah bersifat terbuka. Di ilhami oleh cita-cita kebangkitan nasional Boedi Utomo tahun 1908, pada tanggal 28 Oktober 1928 para pemuda mengikrarkan sumpah pemuda yaitu satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Menjelang diselenggarakan kongres pemuda II di Jakarta kesempatan ini digunakan W.R. Supratman untuk memperkenalkan lagunya dalam acara puncak penutupan kongres pemuda di gedung Indonesische Club (perkumpulan Indonesia) Keramat 106 Jakarta. Betapa hebatnya lagu itu disambut para peserta kongres dan Supratman menerima ucapan selamat dan pelukan dari rekan-rekannya.

Sebagai lagu perjuangan bersifat upacara sikap hormat dengan berdiri tegak saat lagu diperdengarkan, telah menunjukan bahwa lagu itu dapat dinilai sebagai lagu kebangsaan. Sebagai perasaan nasional maka setiap warga negara Indonesia yang terlibat dalam upacara diwajibkan penghormatan terhadap lagu dengan posisi berdiri tegak ditempat  dan pandangan kedepan. Lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ hanya diperdengarkan disaat terentu dan pada peristiwa penting saja  dengan cara serta aturan dibuat tersendiri. Dengan memberlakukan aturan bersikap hormat pada lagu  perlakuan ini akhirnya diikuti segenap anggota masyarakat  Indonesia seperti organisasi politik, organisasi sosial dan segenap rakyat Indonesia, guna sarana upacara bersifat ritual di sekolah dan  upacara kenegaraan bersifat nasional.

Unsur semangat dan isue yang dikembangkan Lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ sangat dipengaruhi musik irama mars. Mars berarti musik dengan irama cepat berfungsi untuk membangkitkan semangat pasukan dengan gerak serempak dalam prosesi militer.  Musik mars merupakan ornamentasi  irama drum dalam tempo cepat, aksen kuat dikembangkan dalam frase dengan kunci mayor. Di Indonesia lagu-lagu mars patriotik pada masa perang kemerdekaan digunakan dalam bentuk yang sama oleh para pemuda yang dikirim bertempur kegaris depan. Berlainan dengan jiwa semangat lagu mars propaganda Jepang yang diatur dan ditentukan oleh Keimin Bunka Shidosho. Sebagai perasaan nasional dalam perkembangan dalam lagu-lagu ini dapat dibagi menjadi dua yaitu (1) Fungsi sekunder lagu mars perjuangan bersifat membangkitkan semangat cinta tanah air melawan penindasan memiliki makna seperti uraian pidato yang bersenandung disebut jenis Rhetoric song , lagu yang bersifat agitasi ini dinyanyikan penuh semangat dalam prosesi berjalan seperti dalam gerakan demonstrasi atau acara aubade lagu-lagu perjuangan. Lagu-lagu itu ialah ‘Maju tak gentar’, Sorak-sorak bergembira’ ciptaan Cornel Simanjuntak, ‘Hallo-hallo Bandung’ ciptaan Ismail Marzuki, ‘Berkibarlah benderaku’ ciptaan Bintang Sudibyo, ‘Hari merdeka’ ciptaan H. Mutahar, ‘Dari Barat sampai ketimur’ ciptaan R. Sunaryo. (2) Fungsi primer lagu mars bersifat konstruktif memiliki makna sebagai sarana upacara disebut jenis magnetic song, yaitu lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ ciptaan W.R. Supratman, bila lagu ini berkumandang para peserta upacara harus menjaga tata tertib berdiri ditempat dengan penuh perhatian, hingga setiap orang Indonesia mampu menghayati hingga merasa sadar sebagai bangsa yang merdeka dan bersatu. Daya tariknya seperti magnit dan tidak jarang para peserta upacara dapat mencucurkan air mata  karena keagungan lagu ‘Indonesia Raya’

B. Masa Pendudukan Belanda

Menurut hukum Internasional lagu kebangsaan hanya dimiliki oleh suatu negara yang merdeka, pengertian komunikasi politik dapat diartikan secara tersurat, bahwa saat itu kondisi bangsa Indonesia belum merdeka akibat tekanan bangsa Belanda, dan lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ masih bersifat sebagai lagu perjuangan. Walaupun status lagu belum diakui sebagai lagu kebangsaan di forum Internasional, tetapi secara tersirat sifat semangat kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia sudah nampak dalam syair lagu itu. Selain itu dengan diperdengarkan lagu, adanya tanda komunikasi bahwa Indonesia masih memiliki harapan untuk bangkit sebagai negara yang bersatu dan berdaulat, guna merubah presepsi pada situasi keadaan yang pesimis menjadi suatu sikap yang optimis dan mampu menggerakan keinginan positif menjadi perbuatan konstruktif.

Peranan lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ dimasa kolonial Belanda penggunaannya semakin luas dikalangan masyarakat, pegawai negeri, para guru, pamong praja, termasuk dikalangan para serdadu KNIL. Sejumlah kalangan pegawai negeri misalnya ditugaskan mengawasi jalannya rapat pertemuan kaum pergerakan nasional serigkali ikut berdiri ketika lagu itu diperdengarkan. Akhirnya pemerintah Belanda membuat surat edaran dengan menyatakan bahwa pegawai negeri yang ditugaskan harus bersikap netral, dan tidak diperkenankan berdiri bila lagu diperdengarkan, sebab pemerintah Belanda tetap menganggap lagu itu sebagai sebuah lagu perkumpulan (Club Lied). Pemerintah Belanda tidak pernah berhasil membungkam lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’, lagu ini terus berkumandang di daerah gerilya, dalam rumah tahanan pejuang Indonesia yang dikuasai Belanda. Dalam rapat organisai pemuda pejuang, bahkan para mahasiswa diluar negeri sudah menganggap lagu ini sebagai lagu kebangsaan.

Dikalangan kaum pergerakan semuanya telah mempelajari lagu ini secara diam-diam, apabila ada yang belum mempunyai notasi dan syairnya, dengan rasa kesadaran sendiri mereka meminjam melalui teman kemudian disalin dan dihafalkan, dan adakalanya masyarakat menyanyikan lagu ini sewaktu bekerja atau sedang beristirahat. Demikian penyebarluasan lagu kebangsaan di jaman kolonial Belanda, bukan saja dilakukan oleh organisasi politik, tetapi juga pers dan dunia dagang. Perusahan piringan hitam produksi Yokimcan misalnya telah berhasil merekam lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ di luar negeri, tetapi karena ada larangan pemerintah Belanda akhirnya sebuah piringan hitam berhasil diselundupkan ke Indonesia. Harian Soeloeh pada tanggal 7 Nopember 1928 memuat teks lagu kebangsaan, Sinpo dalam edisi majalah mingguannya bulan Nopember 1928 juga memuat teks lagu ini. Supratman juga ikut menyebarluaskan lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ dengan melatih paduan suara para pelajar, serta membagikan selebaran pamflet lagu ke masyarakat.

Perjuangan diplomasi Sukarjo Wiryopranoto di Dewan Rakyat Hindia Belanda (Volksraad) mengusulkan, agar lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ diakui disamping lagu kebangsaan ‘Wilelmus’. Sukardjo Wiryopranoto adalah tokoh pergerakan nasional,  memperjuangkan lagu kebangsaan agar diakui pemerintah Belanda. M.H. Thamrin seorang tokoh Betawi ikut memperjuangkan lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ agar dapat diterima oleh pemerintah. Dalam pidatonya tanggal 11 Juli 1939 di Volksraad, M.H. Thamrin mengecam pemerintah Belanda yang bersikap merendahkan rakyat Indonesia. Hamkah Seorang tokoh ulama Islam terkenal dari Sumatera Barat mengatakan, bahwa lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya‘ telah diterima oleh seluruh rakyat Indonesia, sudah sewajarnya pemerintah Belanda harus mengakui lagu itu sebagai lagu Kebangsaan Indonesia.

C. Masa Pendudukan Jepang

Awal penggunaan musik propaganda di Indonesia dimulai menjelang pendaratan bala tentara Jepang di bumi Indonesia pada awal bulan maret 1942. Kegiatan mereka diawali dengan siaran radio yang dipancarkan dari Tokyo dan radio pusat di Jakarta  mengumandangkan lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ ciptaan W.R. Supratman untuk membangkitkan harapan bangsa dan seluruh rakyat Indonesia. Pada tanggal 29 April 1942 pemerintah Jepang bekerja sama dengan para pemimpin bangsa Indonesia membentuk organisasi pertamanya dalam wadah negara kesatuan Asia Timur Raya disebut tiga A, yaitu Nippon pemimpin Asia, Nippon pelindung Asia, dan Nippon cahaya Asia.

Pada masa pendudukan Jepang merupakan harapan bangsa Indonesia ingin merdeka akan terwujud, untuk itu larangan mengumandangkan lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ dimasa pemerintahan Jepang tidak dilarang, bahkan berguna bagi alat propaganda Jepang. Peranan lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ menjadi penting misalnya radio Tokyo, selalu membuka siarannya lewat lagu ini yang dimainkan secara megah oleh sebuah orkes simponi NHK Jepang, tujuannya semata-mata untuk mengembil hati dan simpati rakyat Indonesia. Peranan propaganda Jepang kali ini berhasil menjalankan misinya secara halus, seolah-olah Jepang adalah bagian dari bangsa Indonesia. Pada saat rakyat Indonesia bersemangat dalam mengatur keamanan dan menyelenggarakan pemerintahan, secara sepihak Perdana menteri Tojo Hideki melaui siaran radio mengumumkan larangan mengumandangkan lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ serta upacara pengibaran sangsaka merah putih. Sebaliknya pada tanggal 29 April 1942 pihak Jepang menetapkan undang-undang baru no. 4 yang memberlakukan lagu ‘Kimigayo’ sebagai lagu kebangsaan Jepang wajib diperdengarkan dan pengibaran bendera Himomaru wajib dilaksanakan. Sejak saat itu keberadaan lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ mengalami pasang surut dan sudah tidak terdengar lagi didepan umum karena ketatnya pengawasan. Pada tahun 1944 saat Jepang mulai mengalami kekalahan dalam perang dunia ke II poisinya mulai terdesak dan memerlukan bantuan Indonesia, barulah lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ diakui dan boleh diperdengarkan secara umum.

Guna mempersiapkan kemerdekaan pada tahun 1944 lagu Kebangsaan’Indonesia Raya’ mengalami perubahan baik syair dan cara membawakannya, untuk itu panitia lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ pimpinan Sukarno dengan para anggotanya Ki Hadjar Dewantara, Achyar, Bintang Sudibyo, Darma Wijaya, Kusbini, K.H. Mansyur, Mr. Muhammad Yamin, Mr. Sastro Moelyono, Sanusi Pane, Cornel Simandjuntak, Mr. Achmad Soebardjo, dan Utoyo. Setelah disahkan pada tahun 1944 lagu ini berkumandang dalam rapat-rapat pertemuan dan upacara tertentu (Nurzain, 1983: 176). Melalui proses waktu yang cukup panjang akhirnya lagu berjudul ‘Indonesia’ tahun 1928 kemudian pada tahun 1944 dirubah menjadi lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’. Perubahan itu meliputi teori musik dan tata bahasa. Pergantian birama 6/8 (irama Wals) diubah menjadi birama 4/4 (irama Mars). Kata ‘mulya’  yang kurang membangkitkan semangat diganti syairnya  oleh angkatan Pemuda peserta kongres tahun 1928 menjadi kata ‘merdeka’. Perubahan lagu oleh pemerintah telah disesuaikan dengan perkembangan jaman sesuai fungsinya sebagai sarana upacara. Lagu yang sudah direvisi oleh panitia, tetap mempertahankan struktur lagu dan pesan semangat masih tetap murni ciptaan W.R. Supratman.

Pada tanggal 8 September 1944 panitia lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ yang dipimpin Sukarno berhasil menyelesaikan tugasnya dengan membuat ketetapan baru, yaitu untuk mengibarkan sangsaka merah putih, maka lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ wajib diperdengarkan. Pada tanggal 17 Agustus 1945 dalam pembacaan teks proklamasi oleh Sukarno, dihadapan para pemimpin dan ratusan rakyat yang berkumpul pada pagi hari di Jalan Pegangsaan Jakarta, menyatakan kemerdekaan Indonesia. Setelah pembacaan teks proklamasi selesai, pengibaran sangsaka merah putih dilakukan, dengan serempak para hadirin menyanyikan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’. Peristiwa yang bersejarah itu tetap berlangsung hingga kini dan diperingati setiap tahun.

Gambar 2. Upacara 17 Agustus 1945 di Pegangsaan timur 56 Jakarta.

D. Makna lagu Kebangsaan Indonesia Raya

Pada tahun 1945 Jepang mengalami kekalahan perang akibat bom atom Sekutu, Belanda kembali menancapkan kekuasaannya di Indonesia, rakyat menolak dan mengadakan perlawanan fisik. Ciri-ciri ini ditandai pula munculnya lagu-lagu perjuangan lainnya yang bergelora keseluruh penjuru tanah air. Setelah bala tentara Jepang meninggalkan kantor pemerintahannya, pemerintah Republik Indonesia mengambil alih tugas tersebut. Pada tahun 1947 Ki Hadjar Dewantara dalam permusyawaratan pendidikan menetapkan bahwa upacara pengibaran bendera merah putih serta menyanyikan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ wajib dilaksanakan setiap hari di halaman sekolah. Menghentikan pengibaran bendera Jepang, menghapuskan lagu ‘Kimigayo’, meniadakan upacara dan pelajaran bahasa Jepang dengan mengganti semangat kebangsaan melalui pendidikan nasional.

Pada tanggal 19 Desember 1948 melaui usaha diplomasi para pemimpin pergerakan melalui markas PBB New York ditetapkan bahwa lagu kebangsaan yang diperjuangkan oleh bangsa Indonesia dicantumkan dalam negara RIS UUDS pasal 3 ayat 2 yang berbunyi, bahwa lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ ialah ‘Indonesia Raya’ Akhirnya pada konfrensi Internasional yang diselenggarakan tanggal 29 Agustus 1949 di Jakarta dihadiri oleh pemerintah Belanda, akibat tekanan Amerika Serikat agar mengakui eksistensi RIS. Dalam konfrensi itu diputuskan yaitu (1) Bendera Republik Indonesia Serikat (RIS) ialah Sangsaka Merah Putih. (2) Bahasa resmi RIS ialah Bahasa Indonesia. (3) Lagu kebangsaan RIS ialah ‘Indonesia Raya’. Pada tanggal 27 Desember 1949 upacara bendera di Istana Gambir  dalam rangka penyerahan secara simbolis kekuasaan dari A.H.J Loving sebagai wakil dari pemerintah tertinggi Belanda kepada Menetri Pertahanan RIS Sri Sultan Hamengkubuono IX. Dalam upacara penyerahan dan penandatanganan kesepakatan itu disaksikan 22 wakil utusan PBB. Setelah penurunan bendera Belanda dan digantikan sangsaka merah putih berkumandanglah lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ sebagai tanda berakhirnya kolonialisme di Indonesia. Pesan pemikiran konstruktif makna  terkandung dalam lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ yang diperjuang kan para pemimpin di forum inetrnasional berbunyi sebagai berikut.

Bait I.     Indonesia Tanah airku             Indonesia bersatu

Tanah tumpah darahku             Hiduplah tanahku

Disanalah aku berdiri               Hiduplah negriku

Jadi pandu ibuku                      Bangsaku, rakyatku, semuanya

Indonesia kebangsaanku          Bangunlah jiwanya

Bangsa dan tanah airku            Bangunlah badannya

Marilah kita berseru                 Untuk Indonesia Raya (kebait IV)

Bait IV. Indonesia Raya, merdeka, merdeka

Tanahku, negriku yang kucinta

Indonesia Raya, merdeka, merdeka

Hiduplah Indonesia Raya

Bait II.  Indonesia tanah yang mulya    Indonesia bahagia

Tanah kita yang kaya                Suburlah tanahnya

Disanalah kita berada               Suburlah jiwanya

Untuk slama-slamanya             Bangsanya, rakyatnya, semuanya

Indonesia tanah pusaka            Sabarlah hatinya

P’saka kita semuanya               Sadarlah budinya

Marilah kita mendoa                Untuk Indonesia Raya (kebait IV)

Bait III. Indonesia tanah yang suci       Indonesia abadi

Tanah kita yang sakti               Slamatlah rakyatnya

Disanalah aku berdiri               Slamatlah putranya

Jadi ibu sejati                           Pulaunya, lautnya, semuanya

Indonesia tanah berseri             Majulah negrinya

Tanah yang akau sayangi          Majulah pulaunya

Marilah kita berjanji                 Untuk Indonesia Raya (Kebait IV)

Bait pertama mengungkapkan hubungan yang sangat erat antar manusia dengan lingkungan alam Indonesia. Begitu erat hubungan tersebut, sehingga lingkungan itu disebut sebagai tanah air, tanah tumpah darah, dan sebagai ibu. Kebudayaan telah menempatkan hubungan anatara manusia dengan lingkungannya, sehingga alam menjadi bagian dari hidupnya, bagian dari sejarahnya, bagian dari proses kebudayaan. Dari pengertian kalimat itu, maka bangsa Indonesia menjadi satu definisi diri manusia sebagai subyek budaya, artinya bangsa Indoesia sebagai potensi manusianya, tanah air Indonesia sebagai lingkungan alamnya. Dalam bait pertama ditegaskan, bahkan mengelorakan pesan panggilan perjuangan kebudayaan sebagai hakekat perjuangan nasional. Seperti dalam lirik, hiduplah tanahku, hiduplah negriku, bangsaku, rakyatku, semuanya. Bangunlah Jiwanya bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya. Artinya perjuangan membangun Indonesia berarti membangun manusia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya.

Bait kedua memberikan deskripsi mengenai tanah air Indonesia, yaitu tanah air yang kaya. Bait ini mengungkapkan kesadaran sejarah, maka tanah air dinamakan tanah pusaka. Bait ini pula mengungkapkan sikap religius bangsa Indonesia yang mengajak berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya dalam bait itu memberikan pesan bekerja membangun dalam pengertian suburlah tanahnya, suburlah jiwanya, bangsanya, rakyatnya, semuanya. Ini meminta adanya kesediaan dan kesetiaan bagi semua yakni sadarlah hatinya, sadarlah budinya.

Bait ketiga mengungkapkan tugas dan kewajiban bangsa sebagai putera-puteri tanah air. Tugas berarti menjaga mempertahankan, memajukan, yang intinya membangun secara menyeluruh secara berkesinambungan sebagai tugas abadi.

Bait ke empat yang selalu diulang-ulang sebagai reffrein menurut Muhamad Yamin adalah sebuah pesan klimaks sebagai pernyataan sumpah bakti pemuda yang bergelora dalam kongres pemuda tanggal 28 Oktober tahun 1928, yang berjanji teguh pada dasar kesatuan tanah air, bangsa dan kebudayaan menuju kemerdekaan Indonesia. Berarti pernyataan tekad, kesediaan dan kesetiaan terhadap perjuangan membangun Indonesia yang merdeka dan bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Dengan gelora itu bangsa Indonesia bersatu dalam berjuang menyongsong masa depan bertujuan memperjuangkan derajat, martabat bangsa dan negara  serta masyarakat Indonesia.

Lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ saat ini mampu membangun semangat pembangunan di seluruh nusantara.  Masyarakat dapat menghafalnya dengan baik dari pelosok kota yang ramai sampai kedaerah pelosok terpencil, terutama melalui kegiatan upacara di sekolah dasar hingga perguruan tinggi, di lembaga departemen milik pemerintah, pemerintahan daerah, lembaga masyarakat, organisasi massa serta organisasi sosial politik sampai pemerintahan desa diseluruh pelosok tanah air  lagu ini tetap bergelora memaknai hasil perjuangan bangsa sebagai sarana ritual yang membawa pesan konstruktif dan berlaku sepanjang masa.

Munculnya komplik multi dimensi saat ini telah mengalami gradasi sosial, berbeda seperti yang menjadi harapan kita bersama. Konflik  sosial akibat krisis politik, ekonomi, dan disintegrasi bangsa menghancurkan arti kemerdekaan suatu bangsa yang terkandung dalam teks lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’. Akibat konflik Aceh, Poso, Maluku, Sampit, Papua, dan daerah lainnya, telah meruntuhkan nilai-nilai persatuan suatu bangsa yang digelorakan para pemuda tahun 1928. Pengalaman sejarah yang gemilang kini mulai pudar ditelan masa. Peranan lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ kini kurang dihargai, menjadi kegiatan seremonial bersifat slogan dan para elit politik kita belum menyadari dan menghayati makna terkandung dalam lagu. Sementara para pendahulu kita berjuang mengorbankan darah, harta, air mata dan jiwa raga.

Pernyataan diatas kini dapat dibuktikan dan berimbas pada dunia pendidikan, dalam pelaksanaan upacara sekolah diseluruh pelosok tanah air rata-rata para siswa kurang memiliki kesadaran kebangsaan, tawuran para pelajar, para mahasiswa dan masyarakat semakin meningkat hanya persoalan sepele. Para guru dan tokoh masyarakat menganggap sesuatu hal yang biasa dan kurang memperdulikannya. Pergeseran nilai fungsi lagu maupun cara menyanyikan berimbas pula dalam upacara dilembaga pemerintahan daerah sampai pemerintah pusat. Dewasa ini rata-rata peserta upacara tidak disiplin menghayati lagu, intonasi, maupun teks lagu Kebangsaan  banyak yang belum hafal. Sementara pergeseran nilai nasionalisme  dan persatuan makin lama semakin memprihatikan dan mengancam keutuhan negara kesatuan  Republik Indonesia. Penyimpangan perilaku abdi negara dan masyarakat mengalami krisis moral seperti meningkatnya korupsi, sifat anarkis sekelompok masa menggunakan agama  sebagai kendaraan politik seperti aksi terorisme dalam peristiwa bom Bali, kasus narkoba, penebangan hutan, penyelundupan kayu ilegal, tenaga kerja, bencana alam  dan lingkungan sebagai sebuah  konspirasi politik luar negeri yang mengiginkan Indonesia dalam keadaan tidak stabil.

Sudah saatnya kita melakukan perubahan secara menyeluruh  ketetapan pemerintah No. 1 tanggal 17 Agustus 1959, dinyatakan bahwa lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ wajib ditingkatkan kualitasnya dan diajarkan dalam pendidikan nasional diseluruh tanah air agar dapat di hayati sebagai kesadaran kebangsaan, nasonalisme guna membangun semangat persatuan dan kesatuan. Mengajarkan lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ secara benar dengan sikap disiplin yang tinggi dan hati yang bersih niscaya bangsa Indonesia mampu menghayati serta menghargai perjuangan bangsanya sendiri sebagai kesadaran nasional.

E. Latar Belakang W.R. Supratman

W.R. Supratman lahir pada tanggal 9 Maret 1903 di Meester Cornelis (Jatinegara) Jakarta dan wafat tanggal 17 Agustus 1938 di Surabaya. Pada masa penjajajahan Belanda ia hidup tertekan oleh perbedaan warna kulit dan diskriminasi. Ayahnya seorang pensiunan KNIL, karena kematian ibunya ia dititipkan kepada kakak iparnya Roekijem Supratijah dan  W.M. Van Eldik seorang administrateur gewanpende politie. Di Makassar van Eldik menyekolahkan Supratman ke Europese Lorge School yaitu sekolah dasar bangsa kulit putih. Nama Supratman dirubah untuk mengelabuhi pemerintah Belanda dengan nama tambahan Wage Rudolf Supratman, kemudian diketahui kepala sekolah ia bukan anak kandung W.M. van Eldik kemudian dikeluarkan dari sekolah. Akibat perlakuan tidak adil ini menimbulkan rasa nasionalisme pada dirinya untuk selalu berjuang melawan sistem kolonialisme. Pendidikan dasarnya kemudian dilanjutkan di sekolah melayu, van Eldik tetap mendorongnya untuk maju, selain menambahkan ketrampilan bermain biola. Sambil  belajar dan berkesenian Supratman tekun berlatih berbahsa Belanda, lulus meraih diploma Klein Amtenar Examen pada tahun 1919. Keberhasilan itu memberi kesempatan baginya melanjutkan pendidikan di normaal school atau sekolah pendidikan guru yang memberikan pengalaman mengajar sebagai guru di Makassar. Pada tahun  1923 Supratman bersama teman-temannya membentuk perkumpulan Jazz lima sekawan dengan nama Black and White dikenal kalangan orang-orang Belanda sebagai partner dalam hiburan di kota Makassar, yang menjadi latar belakang pengalaman musiknya. Pekerjaannya sebagai guru tidak memungkinkan baginya membagi waktu antara mengajar dan bermain musik, akhirnya berhenti sebagai guru, dan bekerja di kantor Firma Nedem.

Gambar 3. Perkumpulan Jazz Black and White di Makassar W.R. Supratman Berperan sebagai pemain biola.

Pada tahun 1924 Supratman berangkat meninggalkan Makassar menuju pulau jawa menetap beberapa saat dirumah ayahnya Djoemeno Senen Sastrosoehardjo.  Dari sini ia tertarik pada bidang politik dan jurnalistik diawali sebagai wartawan harian Kaoem Moeda di Bandung. Melalui perantara temannya kemudian berkenalan dengan Harahap kemudia bekerja di kantor berita Alpena yang berhaluan nasionalisme di Jakarta. Tetapi kemudian kantor itu ditutup, maka sejak tahun 1926 ia menjadi wartawan Sinpo. Pekerjaan sebagai wartawan ia berkenalan dengan para tokoh nasional yg sedang berjuang menyusun gagasan Indonesia merdeka. Pidato Sukarno dan Tabrani ketua kongres pemuda pertama telah membakar semangatnya dan terinspirasi lahirnya gagasan tentang lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya‘. Selain Sukarno tokoh-tokoh pergerakan yang dikagumi adalah HOS Cokroaminoto, H. Agus Salim, Cipto Mangunkusumo, Douwes Deckker dan Ki Hadjar Dewantara. Semangat nasionalisme yang tumbuh didalam pemimpin pergerakan menyebabkan Supratman memeutuskan untuk masuk anggota Partai Nasional Indonesia (PNI), selain menjadi wartawan juga terlibat dalam kegiatan pergerakan kebangsaan. Selama dalam kegiatannya Supratman telah menciptakan lagu-lagu perjuangan dalam organisasi tersebut.

Sepuluh tahun setelah lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ berkumandang pada kongres pemuda, W.R. Supratman pindah ke Surabaya setelah  merasa kesepian di Jakarta, ia kembali tinggal bersama kakaknya Roekijem Supratijah. Sejak itu kesehatannya semakin menurun, namun sempat menciptakan lagu ‘Mars Parindra’ pimpinan Dr. Sutomo. Pada tanggal 7 Agustus 1938 ia memperkenalkan lagu ciptaannya di radio NIROM yaitu ‘Matahari terbit’ walaupun mendapat kendala dari pemerintah Belanda. Sepuluh hari kemudian keadaan kesehatannya tidak dapat dipertahankan untuk tegar hidup seperti semangat nasionalisme. W.R. Supratman wafat pada tanggal 17 Agustus 1938 pukul 12.00 malam Wib dikediamannya jalan Mangga No. 21 daerah Tambaksari Surabaya dan dikebumikan secara islam dipemakaman Kapas Tambaksari.

Gambar 4. Wage Rudolf Supratman 1903-1938.

Pada tanggal 28 Oktober 1953 Gubernur Kepala Daerah Propinsi Jawa Timur Samadikoen menganugerahkan sebuah piagam penghargaan melalui Jawatan Kebudayaan atas nama Kementerian Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan di Surabaya, atas jasa-jasanya menciptakan lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ dengan memindahkan kerangka jenazah kemakam Kampung Tambakrejo sebelah selatan jalan Kenjeran Surabaya. Selain itu pemerintah menganugerahkan Bintang Maha Putera kelas III kepada W.R. Supratman.

Beberapa lagu ciptaannya yang membangkitkan semangat kebangsaan ialah ‘Mars Surya Wirawan’, ‘Mars KBI’ (Kepanduan Bangsa Indonesia), ‘Mars Parindra’ (Partai Indonesia Raya), ‘Ibu Kita Kartini’, ‘Indonesia hai ibuku’, ‘Bendera kita’, Bangun hai kawan’, ‘Di Timur matahari’, dan ‘Matahari terbit’.

F. Penutup

Issue nasional sumpah pemuda pada kogres pemuda II pada tanggal 28 Oktober 1928 bukan merupakan kejadian sejarah yang berdiri sendiri bahkan jauh sebelum itu pemuda telah berjuang. Pada kongres pemuda I tanggal 30 April 1926 diselenggarakan kongres pemuda Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Sekar Rukun, Islamieten Bond, dan Jong Minahasa dari kongres tersebut belum dapat mewujudkan persatuan. Pada tahun 1925 ketika Supratman pindah  ke Jakarta perjuangan pemuda sedang hangat-hangatnya. Sebagai seorang patriotis ia tertarik dan bercita-cita mewujudkan persatuan Indonesia. Keadaan peta politik sekitar tahun 1926-1928 pemerintah Hindia Belanda sedang giatnya menekan pergerakan kebangsaan  dengan cara anarkis. Pada saat-saat itulah kesempatan bagi  Supratman memusatkan perhatiannya menciptakan lagu kebangsaan. Kekuatan issue ini yang memberikan peranan musik sebagai alat komunikasi politik yaitu politik independen. Kemerdeakaan merupakan jembatan emas yang harus diraih terlebih dahulu, baru setelah itu kita didik masyarakat kearah kemajuan sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Proses perubahan penciptaan lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ dari waktu kewaktu syair maupun melodinya, perkembangan itu terjadi akibat dari menyesuaikan situasi nasional yaitu revolusi Indonesia dimana api semangat lagu tetap milik W.R. Supratman.

Dapat disimpulkan bahwa tiga perempat abad perjalanan lagu Kebangsaa ‘Indonesia Raya’ mempersatukan bangsa sebagai berikut.

Pertama, pemikiran nasional yang dimiliki lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ berhasil mempersatukan bangsa melalui semangat yang berkobar untuk tetap memaknai arti perjuangan yang diajarkan  dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, untuk pendidikan moral seluruh rakyat Indonesia dengan berbagai kebinekaannya.

Kedua, diperdengarkan lagu adanya tanda,  Indnesia memiliki harapan sebagai negara yang bersatu, guna merubah presepsi pada situasi keadaan yang pesimis menjadi sikap optimis dan mampu menggerakan keiginan positif menjadi perbuatan konstruktif.

Ketiga, setelah diamati secara keseluruhan lagu Kebangsaan ‘Indonesia Raya’ pada bait pertama, bait kedua, bait ketiga, dan bait keempat seperti tersebut diatas. Makna yang terkandung dalam lagu memiliki cita-cita yang tinggi dan luhur bersifat konstruktif, serta berlaku sepanjang masa. Sebagai sebuah harapan, tidak perlu lagi bangsa Indonesia kini harus terpecah belah, bercerai berai, dan terkotak-kotak. Perjalanan api semangat lagu selama tiga perempat  abad memaknai  sumpah pemuda 28 Oktober 1928 sampai HUT. R.I ke 61, tanggal 17 Agustus 2006  bergelora dengan tidak memandang suku, ras, agama maupun golongan, di ilhami pancasila dalam mengisi kemerdekaan Indonesia masa kini.

Jurnal Racmi 2002.TIGA PEREMPAT ABAD PERJALANAN LAGU KEBANGSAAN INDONESIA RAYA MEMPERSATUKAN BANGSA
· · Bagikan · Hapus

  • Anda menyukai ini.
  • Tekan Shift+Enter untuk memulai baris baru.

Facebook © 2011 · Bahasa Indonesia
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Juara Lomba Penulisan Ilmiah Dosen Muda 2007. PARIWISATA BERBASIS BUDAYA PELAYANAN JASA YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN

PARIWISATA BERBASIS BUDAYA PELAYANAN JASA YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN. Oleh Wisnu Mintargo. Pemenang Lomba Penulisan Karya Ilmiah Dosen Muda. Asosiasi Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia (ASASI) Yogyakarta.

A. Sekilas Pariwisata Indonesia

Tujuan pembangunan tercapai berdaya guna dan berhasil guna bila direncanakan dan dilaksanakan secara sinergis oleh Stake Holder pembangunan yaitu pemerintah, masyarakat dan pengusaha. Industri Pariwisata berbasis partisipasi masyarakat difokuskan pada potensi alam, adat istiadat, kesenian, dan religi. Dalam adat istiadat masyarakat yang memiliki budaya hadiluhung terlukis kehidupan tradisi masyarakat yang beraneka ragam tersebar dikawasan nusantara dan para wisatawan diperkenalkan budaya Indonesia. Indonesia dengan penduduknya yang berjumlah lebih 200 juta jiwa, terdiri 200 kelompok etnis dengan lima agama diakui negara, jelas memiliki kekayaan seni tradisi yang luar biasa ragamnya, mulai seni suara, seni musik, seni rupa, seni  kerajinan, seni tenun, seni pahat, seni tari, bahasa daerah serta seni tradisi lisan dan lain sebagainya. Seni pertunjukan di Indonesia sebagai contoh ada sekitar tiga perempat dari seluruh seni pertunjukan yang ada di Asia Tenggara. Pulau Bali misalnya merupakan wilayah pertama yang mempelopori kegiatan budaya sebagai agenda industri pariwisata yang dimulai sejak abad 20 yaitu dari kehidupan tradisi masyarakatnya, aktivitas seni, upacara religi, atraksi budaya dan obyek wisata alam yang mengagumkan sehingga dapat menghasilkan sumber devisa negara. Salah satu komitmen pemerintah dalam pengembangan industri pariwisata ialah pelayanan jasa distribusi melalui pelayanan Hotel,  Restourant, Travel Biro, Tranportasi tradisional, dan profesionalisme para Pramuwisata sebagai pelayanan jasa perjalanan menuju obyek wisata seperti wisata pegunungan, wisata hutan dan laut, wisata pedesaan dan kota, wisata belanja souvenir, wisata mengunjungi peninggalan sejarah dan hiburan, serta atraksi seni budaya yang menarik, sehingga akhirnya para wisatawan mancanegara mendapat kesan memuaskan selama berkunjung ke Indonesia di suatu daerah obyek wisata di tanah air.

B. Pariwisata Memperkaya Khasanah Budaya

Salah satu dampak negatif yang selalu dikhawatirkan oleh negara yang sedang berkembang hadirnya industri pariwisata  seperti dikemukakan oleh Madame Narzalinaz Lim, seorang tokoh kepariwisataan Philipina yaitu pelacuran. Tetapi Thailand menurut Suasanne Thorbeck dan Thanh-Dam Truong pelacuran merupakan sarana penting bagi industri pariwisata. Namun demikian tidak berarti bahwa salah satu dari lima S ( Sea, Sand,  Sun, Service, Sex), seks merupakan daya tarik yang amat penting dan industri pariwisatanya hanya mengandalkan pada kebersihan dan keamanan. Bila seks tetap dianggap oleh sementara pakar kepariwisataan sebagai faktor penting, bahaya AIDS jelas sangat mengancam  dihadapan kita semua. Bayangkan berapa ribu gadis-gadis mulus yang resminya berprofesi sebagai tukang pijat di Thailand harus menjadi korban karena terkena virus mematikan, jelas pemerintah Indonesia menghindari cara-cara yang ditempuh oleh pemerintah Thailand (Sudharta, 1993: 107).

Mengantisipasi dampak negatif industri pariwisata perlu dijaga jangan sampai domain industri pariwisata yang telah mementingkan nilai uang (Money Value) menelan domain seni. Artinya seni wisata yang dicipta oleh masyarakat tradisi tidak memudarkan seni budaya kita sendiri yang berfungsi ritual dan sakral. Dari apa yang telah  dikemukakan diatas bila kita kurang berhati-hati dalam menanggapi hadirnya industri pariwisata yang menjadi harapan bagi bangsa Indonesia, dan bisa berbahaya untuk kelangsungan hidup budaya tradisional masyarakat kita. Tetapi sebaliknya, apabila kita mampu mengantisipasi dengan baik, industri pariwisata dapat memperkaya khasanah budaya Indonesia. Hal ini sesuai dengan hasil pertemuan International Conference  an Cultural Tourism yang diselenggarakan di Yogyakarta menjelang akhir tahun 1992. Upaya untuk mengantisipasi dampak negatif dari industri pariwisata perlu mempergunakan dua konsep, yaitu pertama dikembangkan oleh Maquet seorang ahli antropologi dan yang kedua dikemukakan Wimsalt seorang ahli estetika. Maquet dalam karya tulisan yang diterbitkan  berjudul Introduction Aesthetic Anthropology mengemukakan bahwa dengan hadirnya masyarakat wisata disebuah daerah, maka akan lahir bentuk seni lain disamping bentuk yang sudah ada. Kategori seni yang telah ada merupakan produk masyarakat hasilnya untuk kepentingan bagi mereka sendiri. Seni kategori ini oleh Maquet disebut sebagai Art by destination.  Ketika terjadi kontak antara masyarakat pemilik seni dengan wisatawan yang menginginkan bentuk seni dari masyarakat yang didatangi, maka masyarakat setempat akan menciptakan produk seni yang masuk dalam kategori seni akulturasi (Art of Acculturation). Istilah yang umum untuk menyebut  seni akulurasi ini dalam dunia pariwisata dikenal istilah Tourist Art (Graburn, ed, 1976:206). Dengan menggunakan konsep Maquet ini bisa kita katakan bahwa kehadiran seni wisata adalah wajar. Karena wisatawan mancanegara hanya berkunjung disebuah daerah tujuan wisata dalam rentang waktu yang sangat singkat dan mereka menginginkan bisa menikmati sebanyak-banyaknya produk budaya masyarakat yang mereka kunjungi. Ciri-ciri seperti tersebut diatas  dapat dikemukan sebagai berikut.

1. Bentuk mini dan tidak mahal

Mengingat ciri utama wisatawan pada umumnya ingin menikmati segala sesuatu yang asing dan menarik baginya sebanyak-banyaknya dalam waktu singkat dan tidak mahal bagi wisatawan, maka kebutuhan selera yang demikian ini melahirkan seni yang dikemas (Packaged) dalam format kecil atau padat (Kayam 1981:179). Dalam bidang seni rupa melahirkan bentuk-bentuk miniatur dari karya-karya seni yang asli. Sedang dalam seni pertunjukan melahirkan pertunjukan-pertunjukan yang singkat, padat, dan penuh variasi. Bentuk-bentuk penyajian seni untuk komsumsi para wisatawan lebih merupakan reproduksi dalam bentuk kecil atau mini dan tidak harus merupakan karya cipta baru. Bila kita pergi ke Bali toko souvenir, toko-toko seni (Art Shop), dan pasar-pasar seni menyediakan pula boneka kecil atau patung kecil dari barong, Wisnu diatas garuda dan sebagainya. Belum lama ini lahir pula bentuk mini dari wayang golek dan wayang kulit Jawa. Barang-barang kecil ini akan sangat diminati oleh para wisatawan, karena dalam waktu yang singkat dan tidak mahal mereka bisa membelinya dalam jumlah dan macam yang mereka kehendaki, baik untuk diri sendiri maupun sebagai oleh-oleh keluarga dirumah.

2. Bentuk tiruan dan tidak sakral

Karena  pegangan religi orang Bali sangat kuat, kehadiran industri pariwisata secara umum tidak merusak nilai budaya setempat, bahkan memperkaya. Bila wisatawan ingin menyaksikan mahluk mitologi, maka peran Barong di Bali dipertontokan sebagai pelindung masyarakat berfungsi untuk mengusir roh-roh jahat. Bhuta kala yang hanya dikeluarkan dan dikirabkan pada awal tahun baru atau sering pada bulan purnama, dibuatlah tiruannya yang tidak sakral kemudian diberi kerangka ceritera Kuntisraya, dan jadilah pertunjukan wisata Barong atau drama tari Barong yang sekarang bisa disaksikan setiap jam 9.00 sampai jam 10.00 pagi di desa Singapadu dan Batu  Bulan.

3. Penuh variasi

Dalam bidang seni pertunjukan dapat juga direproduksi pertunjukan-pertunjukan secara singkat, padat dan penuh variasi. Di Bali para wisatawan bisa menonton pertunjukan Cak masing-masing hanya berlangsung satu jam setiap hari dan pertunjukan ini benar-benar dikemas untuk komsumsi para wisatawan mancanegara Cak semula merupakan paduan suara pria dalam mengiringi tari Sanghyang yang sakral diolah menjadi tari profan serta dipisahkan sama sekali dari pertunjukan sakral atas anjuran Walter Spies. Tujuannya ialah untuk sajian para wisatawan asing yang mulai membanjiri Bali sejak perempat kedua abad ke-20 (Bandem 1981:146). Cak yang semula merupakan paduan suara pria itu dipadu dengan drama tari Ramayana dari bentuk yang sangat sederhana semula digarap di Bedulu, suguhan untuk para wisatawan mancanegara ini yang akhirnya dikenal dipenjuru dunia. Bila wisatawan mancanegara pergi ke Bali, mereka pasti tak akan melewatkan kesempatan menikmati  pertunjukan  Cak  khas Bali ini.

4. Atraksi yang diperpendek pelaksanaannya

Yogyakarta yang selalu diberi predikat pintu gerbang  pariwisata Indonesia kedua setelah Bali, sejak tahun 1961 juga sudah menyediakan kemasan seni pertunjukan, yaitu Sendratari Ramayana Prambanan yang diluar negeri selalu diperkenalkan  sebagai Ballet Ramayana. Ceritera Ramayana yang panjang itu dibagi menjadi empat bagian, dan dipertunjukan empat malam, masing-masing berlangsung dua jam dari jam 19.00 sampai 21.00 wib.   Acara Sendratari Ramayana berlangsung bulan Mei sampai Oktober.  Pergelaran wayang kulit juga ada yang dikemas untuk wisatawan mancanegara yg ditampilkan hanya selama dua jam pada sore hari. Di kota Yogyakarta pergelaran Wayang kulit kemasan ini antara lain diusahakan oleh yayasan Agastya (Soedarsono, 1991: 6).

C. Strategi pemerintah, Jasa dan Lingkungan

Berbagai upaya untuk menggairahkan industri pariwisata sejak bergulirnya reformasi pengalaman pahit bangsa Indonesia bertambah lagi sejak terjadinya konflik etnis di Poso, sparatis Aceh, Ambon dan Papua, terorisme hingga bencana alam dimana-mana.  Sampai saat ini pemerintah tetap komitmen berusaha menggalakan promosi industri pariwisata ke luar negeri. Pameran  kebudayaan di Eropa secara langsung maupun lewat perwakilan KBRI di luar negeri merupakan sebuah upaya untuk menggaet perhatian masyarakat dunia agar datang ke Indonesia sebagai tujuan wisata mancanegara. Usaha-usaha lain juga pemerintah membenahi bidang pelayanan publik diawali pada sektor jasa dan prasarana, mulai mereka datang ke Indonesia sampai kembali kenegaranya. Selain itu juga usaha yang telah ditempuh oleh pemerintah Indonesia dengan mencontoh negara-negara tetangga yang telah berhasil seperti negra Thailand. Usaha mempromosikan kebudayaan Indonesia keluar negeri terus saja dilakukan sampai saat ini, baik upaya itu dari orang-orang  Indonesia sendiri maupun pihak luar. Malaysia meskipun tanpa menjual seks ternyata mampu menempatkan industri pariwisata sebagai salah satu sumber utama  dari penghasilan devisa negara.

Pendekatan strategi pemerintah secara nasional merupakan pendekatan komprehensif yang pada hakekatnya adalah usaha  untuk meningkatkan pendapatan perkapita masyarakat Indonesia. Pada situasi sekarang ini bahwa usaha untuk mensejahterakan martabat bangsa agar sejajar dengan kemampuan bangsa lain ialah melanjutkan agenda pembangunan ekonomi nasional tahun 2004-2009 guna mengurangi angka kemiskinan dari jumlah 16, 7 persen menjadi 8,2 persen pada tahun 2009 (BPS, 2005: 1).

Kegiatan industri pariwisata merupakan usaha-usaha yang bergerak khususnya dibidang jasa termasuk hal-hal yang dilakukan untuk pengelolaan wilayah obyek tujuan wisata, adalah untuk membuka lapangan kerja. Secara umum kegiatan industri pariwisata dikelola pihak swasta diantaranya dalam bidang pelayanan akomodasi penyediaan sarana prasarana kamar seperti hotel, motel, hostel, village (bungalow), Inn dan wisma. Pengelolaan bidang makanan dan minuman (Food & Beverage) ialah perusahaan jasa  bergerak dalam penjualan dan pembuatan makanan dan minuman diantaranya restoran, bar, industri penghasil minuman dan industri penghasil makanan. Bidang hiburan ialah usaha jasa yang bergerak  dibidang penyediaan hiburan berupa atraksi modern seperti Night Club, Stembath, atraksi budaya dan intertainer. Obyek pariwisata yang dikelola biro perjalanan, bidang kepramuwisataan, bidang souvenir, penerbitan booklet kepariwisataan, perdagangan valuta, bidang convention, dan pendidikan kepariwisataan merupakan kesatuan unit terpadu yang harus bertanggung jawab berdasarkan fungsi dan standart pelayanan internasional yang berlaku dinegara-negara maju seperti di negara Eropa, Australia, Asia dan Afrika. Tetapi pada kenyataannya pusat pelayanan jasa seperti telah dikemukakan diatas untuk kemampuan didaerah satu dengan daerah lainnya di Indonesia masih belum merata, kecuali di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta Surabaya, Bali, Medan dan Ujungpandang. Itupun masih belum memadai oleh karena faktor internal wilayah itu tidak memiliki koordinasi karena lain perusahan serta faktor sumber daya manusia. Peranan pramuwisata misalnya dalam bidang industri pariwisata sangat diperlukan, oleh karena secara geografis pramuwisata harus dapat menguasai lingkungan obyek wisata yang menjadi wilayahnya. Peran seorang pramuwisata harus memiliki Sense of Diplomacy sebagai duta-duta tidak resmi yang pandai berkomunikasi dengan wisatawan, sehingga kesan mereka merasa puas selama berkunjung. Tampaklah jelas bahwa tugas pramuwisata betapa berat beban yang dipikulnya, namun sangat mulya. Ditinjau dari segi kepentingan industri pariwisata, peranan para pramuwisata harus mencerminkan jiwa kepribadian bangsa Indonesia, ia tidak boleh membeda-bedakan ras, agama dalam menjalankan tugas terlebih–lebih bagi wisatawan  mancanegara yang berkunjung ke Indonesia.

Aspek yang berdampak terhadap lingkungan menurut analisis, pemerintah harus bisa memanfaatkan geografi parawisata daerah, dimana bumi tempat manusia berpijak dapat dimanfaatkan sebagai nilai wisata (Torurist Value) tentunya ini berkaitan dengan sarana prasarana serta pelayanan industri pariwisata terhadap lingkungan yaitu  sebagai berikut.

1. Geografi Ekonomi Pariwisata

Perlu dikembangkan pembangunan sektor geografi ekonomi industri pariwisata daerah secara kolektif guna membangun sektor lapangan kerja baru diberbagai bidang. Kemudian perlu disusun perencanaaan program kepariwisataan daerah berdasarkan kegiatan kalender acara tahunan bekerjasama dengan kantor Menteri Negara Pariwisata, seni dan Budaya untuk disebarluaskan kemancanegara sebagai kegiatan promosi pariwisata dalam meraih sumber devisa .

2. Geografi Fisik Pariwisata (flora, faunah, laut, cagar alam, swaka)

Pembangunan sektor geografi fisik meliputi lingkungan flora seperti Kebun Raya Bogor, sebagai pilot proyek percontohan hutan untuk dikembangkan diwilayah Sumatera seperti hutan dipegunungan Kerinci, kemudian dipulau Kalimantan, serta Papua yang sekarang mengalami kendala pencurian hutan besar-besaran. Sejalan dengan industri pariwisata usaha pelestarian lingkungan, melalui reboisasi dapat diselamatkan hutan dan lingkungan dengan membuka perjalanan paket wisata kedaerah itu dengan pelayanan keamanan.   Pelestarian faunah khususnya rehabilitasi Orang Utan di Tanjung Puting Kalimantan, sekolah pelatihan Gajah Way Kambas di Lampung serta peternakan Buaya di propinsi Papua adalah contoh pilot proyek yang dapat dikembangkan didaerah lain memiliki potensi yang sama, diselaraskan dengan pengembangan industri pariwisata di daerah. Pengembangan pariwisata Laut Scope contoh taman laut Bunaken salah satu alam laut yang indah kini tetap dilestarikan sehingga banyak para wisatawan yang berkunjung kesana dan kagum akan keindahan alam laut Indonesia merupakan contoh wisata laut yang dikembangkan Propinsi Sulawesi Utara. Wisata cagar alam dan swaka alam Ujung kulon Banten ialah pelestarian Badak Jawa dan megahnya gunung Bromo Jawa Timur sebagai wisata alam menjadi inspirasi daerah-daerah lain supaya lingkungan dan segala isinya bisa dijadikan obyek percontohan.

3. Geografi sosial pariwisata (penduduk asli, ritus upacara adat)

Geografi sosial meliputi kunjungan kelokasi penduduk asli Suku Baduy di propinsi Banten, Suku Naga  di Tasik Malaya Jawa-Barat dan Suku Anak Dalam di Propinsi Jambi oleh para peneliti Antropologi. Sudah waktunya konsep ini diubah menjadi wisata kunjungan sosial dimana kita dapat mengamati kehidupan asli anak dalam yang sampai saat ini masih berlangsung. Dengan membuka paket perjalanan wisata jenis ini, tentu pemerintah daerah dan para pengusaha industri pariwisata dapat bekerjasama menyelamatkan  aset nasional sekaligus dapat menghasilkan sumber devisa di daerah Ritus upacara adat seperti upacara perkawinan dan upacara batagak penghulu di Sumatera Barat merupakan obyek wisata yang sangat menarik bila melibatkan wisatawan asing bekerjasama pemerintah daerah dengan perusahan perjalanan industri pariwisata.

4. Geografi budaya pariwisata (benda purbakala, candi, seni budaya )

Geografi budaya yang meliputi peninggalan sejarah dan benda-benda purbakala di musium negara Jakarta, serta monumen candi Prambanan dan candi Borobudur di Jawa Tengah banyak dikunjungi wisatawan. Warisan seni budaya seperti tari, musik, kerajinan, sastra dan ukiran Bali, Papua serta daerah lainnya yang sangat banyak corak dan ragamnya sebagai kegiatan promosi ke luar negeri pasti akan menarik banyak wisatawan mancanegara yang akan berkunjung ke Indonesia.

5. Sektor sarana teknis pariwisata (transportasi dan alat komunkasi)

Sektor sarana teknis  yang menyangkut  masalah transportasi udara, laut, angkutan darat, serta sarana komunikasi diperlukan kenyamanan dan keamanan dengan pelayanan secara cepat, tepat. Sudah waktunya sektor ini direformasi demi keselamatan industri pariwisata guna mengembalikan kepercayaan dunia transportasi Indonesia yang saat ini mengalami keterpurukan. Sebagai antisipasi,  maka semua perusahan yang bergerak dibidang transportasi perlu diadakan audit kelayakan guna mengembalikan kepercayaan  internasional terhadap transportasi Indonesia seperti sedia kala.

D. Penutup

Kesimpulannya dengan mengambil tema ‘Pariwisata Berbasis Budaya Pelayanan Jasa yang Berwawasan Lingkungan’ disesuaikan dengan fungsi organisasi industri pariwisata dalam mendukung operasi pelayanan kepada wisatawan dengan sarana  sebagai berikut

1. Sarana pariwisata pokok

Perusahan industri pariwisata hanya mengandalkan ada atau tidaknya wisatawan yang melakukan perjalanan ke obyek wisata. Organisasi perusahan jasa yang bergerak  dalam bidang ini ialah  Travel agent, Tour operator, Tourist transportation, Modal and accomodation, Obyeck tourism, Tourist atraction. Perusahan yang termasuk dalam golongan ini adalah perusahan yang betul-betul memberikan pelayanan untuk memenuhi kebutuhan para wisatawan mulai dari hotel sampai acara perjalanan wisata dan kembali kenegaranya. Sebagai tugas fungsinya adalah melayani kebutuhan wisatawan terutama selama bimbingan perjalanan wisata selalu memberi imformasi yang positif tentang obyek wisata di Indonesia. Untuk menyelenggarakan bimbingan perjalanan selalu diselingi penerangan tentang kehidupan budaya setempat, kekayaan alam serta adat istiadat kepada wisatawan baik untuk perorangan maupun kelompok dengan kemampuan berbahasa asing yang baik.

2. Sarana Pariwisata pelengkap

Sarana pariwisata pelengkap fungsinya membuat wisatawan lebih lama berdiam pada suatu tempat obyek wisata yaitu Recreation Centre, Amusement centre (taman hiburan dengan fasilitasnya), dan Museum lembaga riset. Fungsi perusahan atau lembaga termasuk dalam sarana pelengkap ini benar-benar berkonsentrasi terhadap penataan ruang lingkungan untuk melengkapi sarana, prasarana, pelayanan  yang dibutuhkan sehingga diharapkan para wisatawan merasa betah untuk tinggal lebih lama di Indonesia.

3. Sarana pariwisata penunjang

Sarana pariwisata penunjang berfungsi melengkapi kedua sarana tersebut diatas, tujuannya adalah agar wisatawan dapat membelanjakan uangnya lebih banyak disuatu daerah atau ditempat kunjungan wisata. Perusahan    pelayanan jasa termasuk golongan ini adalah Stembath, Night club dan casino, dan penyedian fasilitas ini di perlukan hanya ada dilingkungan kota-kota besar seperti Jakarta, semarang, Surabaya, Medan, kecuali Casino harus izin pemerintah.

BIBLIOGRAFI

———–BPS (2005); Pendataan Sosial Ekonomi Penduduk 2005: Badan Pusat Statistik, Kota Yogyakarta.

Bandem, I Made, dan Frederick Eugene deBoer (1981); Keja and Keloid: balinese dance in Transiton: Oxford University Press, Kuala Lumpur.

Graburn, Nelson H.H., ed. (1976); Etnic and Tourist Arts: California University Press, Berkeley.

Kayam, Umar (1981); Seni Tradisi, Masyarakat: Sinar harapan, Jakarta.

Soedarsono, R.M. (1991); Keraton Yogyakarta Mampu menjadi Obyek Wisata Paling Handal di Propinsi DIY: Laporan penelitian. Yogyakarta. Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Juara Lomba Penulisan Ilmiah Dosen Muda 2007. PARIWISATA BERBASIS BUDAYA PELAYANAN JASA YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN
· · Bagikan · Hapus

  • Anda menyukai ini.
  • Tekan Shift+Enter untuk memulai baris baru.

Facebook © 2011 · Bahasa Indonesia
Posted in Uncategorized | Leave a comment

9 Pencipta Lagu-lagu Perjuangan Indonesia

1. Wage Rudolf Supratman.(1903-1938) Pencipta lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ setelah tergugah hatinya membaca surat kabar Fajar Asia. Artikel itu menyatakan ‘mana ada komponis bangsa kita yang mampu menciptakan lagu ‘Kebangsaan Indonesia’ yang dapat menggugah semangat rakyat. Setelah tidak lama kemudian ia berhasil menciptakan lagu Indonesia Raya sesudah berkonsultasi dengan Ketua Himpunan pelajar Indonesia A. Sigit, Sugondo Djoyo Puspito dan Monomutu. Setelah mendapat izin Ketua kongres pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 berkumandang pertamakalinya karya monumental lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ digedung Indonesische Club jalan Kramat 106 Jakarta, setelah ikrar sumpah pemuda. Betapa hebatnya lagu itu berkumandang hingga peserta kongres pemuda memberi sambutan luar biasa, Supratman menerima ucapan selamat dan pelukan dari rekan-rekannya. Sebagai karya monumental lambang negara pada tanggal 17 Agustus 1945 setelah pembacaan teks proklamasi oleh Sukarno maka, lagu “kebangsaan Indonesia Raya’ berkumandang mengiringi sangsaka merah putih sebagai hari kemerdekaan RI di Pegangsaan Timur Jakarta. Atas jasa-jasanya menciptakan lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ pada tanggal 28 Oktober tahun 1953 almarhum W.R. Supratman menerima anugerah penghargaan Bintang Maha Putera Klas III dari Pemerintah RI. Kemudian guna mengenang hasil perjuangannya menciptakan lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ Hari kelahiran W.R. Supratman tanggal 9 Maret oleh pemerintah RI diperingati sebagai hari Musik Nasional.

2. Kusbini (1910-1991) pencipta lagu ‘Bagimu Neg’ri’ sebagai lambang simbolis penandatanganan sumpah jabatan Kepala negara dan para pejabat berbakti dan mengabdi kepada negara RI. Lagu ini diciptakan atas permintaan Sukarno untuk mengimbangi lagu-lagu propaganda Jepang yang marak saat itu. Kusbini bekerja sebagai pemain biola dan penyiar taman kanak-kanak bersama Ibu Sud di Radio Houso Kanri Kyoku. Menurut Ki Suratman tahun 1943-1944 pemerintah Jepang melarangmengumandangkan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ maka lagu ‘Bagimu Neg’ri diperdengarkan sebagai pengganti sementara lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’. Lagu ini memiliki peranannya dimasa revolusi Indonesia tahun 1945. Atas jasa-jasanya dibidang musik Kusbini memperoleh penghargaan piagam Anugerah Seni dari Pemerintah RI.

3. Cornel Simanjuntak (1920-1946) pencipta lagu ‘Maju tak Gentar’ asal mulanya lagu Maju putera-puteri Indonesia’ propaganda Jepang. Untuk mendukung revolusi tahun 1945 judul dan syairnya diubah oleh penciptanya seperti sekarang yang berkumandang memepringati HUT RI 17 Agustus setiap tahunnya. Lagu ini dimaksudkan untuk memotivasi rakyat perang semesta guna membangkitkan semangat membela tanah air, yang secara realitas sering ditampilkan potret pertempuran melawan sekutu dan Belanda yang tidak seimbang. Menurut Franz Seda dan Alex Rumambi lagu ini menjadi terkenal di front Tentara Pelajar Yogyakarta yang mampu membakar semanagat pejuang di medan pertempuran. Lagu ‘Maju tak Gentar’ menggambarkan keberanian rakyat dengan perlengkapan seadanya melawan Belandayang bersenjatakan lengkap dan modern, tapi dengan jiwa semangat lagu ini mampu membangkitkan pejuang digaris depan.Atas jasa-jasanya pada pemerintah RI tahun 1961 menerima kehormatan piagam Satya lencana Kebudayaan, setingkat bintang Gerilya.

4. Ismail Marzuki (19134-1958) prencipta lagu ‘Hallo-hallo Bandung’ Lagu ini sangat populer dibawah kom…ando H.A. Nasution dengan sandi opersi Bandung rebut kembali 24 Maret 1946 melawan tentara Belanda dan Sekutu, atas jasa-jasanya pemerintah menganugerahkan penghormatan piagam Wijaya Kusuma dan pada tahun 2007 menerima tanda jasa Bintang Budaya Parama Dharma dari pemerintah RI. Lagu ini bersifat lokal berskala nasional mampu menunjukan jati diri bangsa dengan gagah berani memotivasi perjuangan masyarakat Jawa Barat mengusir penjajah. lagu iniberkumandang setap peringatan HUT RI 17 Agustus setiap tahun dan memperingati Bandung Lautan Api setiap tanggal 24 Maret di Bandung.

5. Bintang Sudibyo atau Ibu Sud (1908-1993) salah satu wanita nasionalisme pencipta lagu-lag perjuanga…n ‘Berkibarlah Benderaku’ dikumandangkan setiap 17 Agustus dalam rangka HUT RI. lagu ini diciptakan berdasarkan kisah nyata masa revolusi Indonesia 1945, setelah menyaksikan pengalaman Yusup Rono Dipuro pelaku sejarah rekaman teks proklamsi adalah pimpinan RRI yang mempertahankan sang saka merah putih berkibar dihalaman kantornya, meskipun dalam ancaman senjata para kaum penjajah. Atas jasa-jasanya dibidang musik tahun 2007 almarhumah Ibu Sud menerima anugerah penghargaan Bintang Budaya Paramadharma dari pemerintah RI. Selain itu Ibu Sud dikenal sebagai penyiar radio dan pencipta lagu anak-anak.

6. Liberty Manik (1924-1993) pencipta lagu ‘Satu Nusa Satu Bangsa’ seorang pemain biola, penyanyi, penyiar radio RRI Yogyakarta, penulis buku dan jurnalis majalah Arena pimpinan Usmar Ismail 1946. Lagu ini diciptakan setelah menyaksikan semangat perjuangan rakyat mempertahakan kemerdekaan, sehngga lagu ini berisi anjuran persatuan dan kesatuan bangsa. Lagu ‘Satu Nusa Satu Bangsa’ pertamakali diperdengarkan lewat siaran radio tahun 1947, ketika beliau bekerja di RRI Yogyakarta saat hangat-hangatnya agresi Belanda I. Atas jasa-jasanya dalam karya monumental dibidang musik tahun 2007 almarhum menerima penghargaan bintang Budaya Paramadharma dari pemerintah RI.

7. Husein Mutahar (1916-2004) pencipta lagu ‘Syukur’ sejenis lagu himne puji syukur diciptakan dan dipe…rsiapkan untuk menyambut kemerdekaan RI yang ketika itu diduganya hampir tercapai.Lagu ini pertamakali dikumandangkan th 1946 di Istana Gedung Agung Yogyakarta. H. Mutahar tokoh utama pendiri gerakan Pramuka Indonesia, dan seorang perancangpaskibraka pertama kali di Indonesia yang beranggotakan pelajar dari berbagai daerah. H. Mutahar adalah mayor Laut ABRI,memiliki tanda jasa Bintang Gerilya tahun 1948-1949 dan Bintang Maha putera menyelamatkan bendera Pusaka dari tangan pendudukan Belanda di Yogyakarta.

8. DR. HC. Alfred Simanjuntak (1920) Pencipta lagu ‘Bangun Pemudi Pemuda’ berfungsi sebagai kontra prop…aganda Jepang wlaupun ia berprofesi sebagai guru hampir sepanjang hidupnya. saat menulis lagu ini di tahun 1943 ia bekerja sebagai guru sekolah rakyat sempurna Indonesia di Semarang, sebuah sekolah dengan dasar jiwa pratriotisme yang didirikan DR. Barder Djohan, Mr. Wongsonegoro dan Prada Harahap. Lagu ‘Bangun Pemudi Pemuda’ digubahnya dalam suasana batin seorang anak yang gundah di negeri yang terjajah. Ide lagu ini diangkat Ketika tahun 1945 rasa ingin merdeka kuat sekali bila bertemu kawan, pemuda saling berucap salam merdeka tutur Alfred Simanjuntak. Bahkan menurut pengakuannya, lagu tersebut nyaris mengancam jiwannya. Sebab gara-gara lagu yang dinilai patriotik itu, nama Alfred Simanjuntak masuk daftar orang yang dicari Kempetai Jepang untuk dihabisi karena lagunya dianggap kontra propaganda Jepang.Hingga saat ini lagu ‘Bangun Pemudi Pemuda masih tetap dikumandangkan setiap perayaan Kemerdekaan 17 Agustus.

9. Amir Pasaribu. Pencipta lagu ‘Andika bayangkari’ ialah seorang komponis dan pelopor musik klasik Ind…onesia. Mars defille ABRI ‘Andika Bhayangkari diperdengarkan pada detik-detik proklamasi 17 Agustus di Istana Negara. Amir Pasaribu telah berjasa dibidang musik sebagai tanda kehormatan Presiden RI Megawati Soekarno Putri pada tanggal 15 Agustus 2002 menganugerahi Bintang Budaya Paradharma.

Ismail Marzuki [1934-1958]
· · Bagikan · Hapus

  • Tekan Shift+Enter untuk memulai baris baru.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to Berpacu dlm Kreatifitas dan Prestasi. Ini adalah halaman pertama posting. Revisi atau hapus halaman ini, kemudian silahkan ngeblog dan saatnya ISI Surakarta mendunia lewat dunia maya….

UPT. Pusat Informatika (PUSTIKA) ISI Surakarta

Posted in Uncategorized | 1 Comment