lagu-lagu Perjuangan Dalam Karya Monumental

Lagu-lagu Perjuangan dalam karya Monumental

Lagu-lagu Perjuangan adalah karya monumental, beberapa hal yang termasuk dalam kriteria tersebut. Pertama, lagu-lagu perjuangan Indonesia bersifat peringatan hari besar nasional sering dikumandangkan pada moment tertentu. Kedua, fungsinya meningkatkan kewibawaan pencipta dan lingkungannya. Diindentifikasikan melalui proses yang panjang dari pengakuan pemerintah dan publik, sekaligus penghargaan yang diterima oleh para penciptanya. Ketiga, eksistensi karya seni yang bersangkutan telah dibahas melalui opini publik, media massa, buku, seminar dan diskusi.[1] Lagu-lagu perjuangan dalam rangka Sapta Usaha Tama, Menteri Muda Dep. P dan K. telah mengeluarkan Instruksi No. 1 tanggal 17 April 1960 yang ditujukan kepada seluruh sekolah-sekolah agar mempelajari dan menyanyikan lagu-lagu wajib nasional yang berjumlah tujuh buah. Setelah adanya perkembangan di Indonesia, maka jumlah lagu-lagu wajib nasional berjumlah menjadi 16 buah, kemudian berkembang lagi saat ini menjadi 45 lagu-lagu perjuangan. Lagu-lagu perjuangan dari 45 buah tersebut dapat di klasifikasikan menjadi 3 jenis yaitu. Satu, lagu-lagu perjuangan bersifat mars. Dua, lagu-lagu perjuangan bersifat Himne. Ketiga, lagu-lagu perjuangan bersifat percintaan (Romans). Keberadaan dan penciptaan lagu-lagu perjuangan dapat pula diklasifikasikan menjadi 3 periode. Pertama, lagu-lagu perjuangan yang di cipatakan pada masa prakemerdekaan tahun 1928 contohnya lagu ‘Indonesia Raya’. (W.R.Suprtman) Kedua, lagu-lagu yang diciptakan masa Revolusi Indonesia 1945-1949, contohnya lagu ‘Maju Tak Gentar (Cornel Simanjuntak). Ketiga, lagu-agu perjuangan yang diciptakan pada masa pasca kemerdekaan, contohnya lagu Andika Bhayangkari (Amir Pasaribu). Fungsi lagu-lagu perjuangan sebagai kegiatan upacara dapat di jumpai pada HUT RI 17 Agustus, antara lain menjadi 3 macam kegiatan. Pertama berfungsi sebagai Defile penghormatan upacara seperti lagu kebangsaaan ‘Indonesia Raya’, lagu ‘Andhika Bhayangkari’, lagu ‘Mengheningkan cipta’. Kedua, berfungsi sebagai Aubade, kegiatan paduan suara dan orkes simponi menyanyikan lagu-lagu perjuangan bergema setelah upacara pengibaran sang saka mereh putih, dan juga menjelang upacara penurunan bendera merah putih. Seperti menyanyikan lagu ‘Hari Merdeka’ lagu ‘berkibarlah Benderaku’ lagu ‘Dari Sabang sampai Mereuke’ lagu ‘Syukur’ dan lain sebagainya. Ketiga berfungsi sebagai parade, yaitu jenis iringan musik mars lagu-lagu perjuangan dalam kegiatan mengawali dan menghakhiri pawai barisan dengan derap langkah semangat perjuangan memasuki atau keluar lapangan upacara HUT RI 17 Agustus di Istana Presiden gedung Agung Ygyakarta. Dalam acara karnaval lagu-lagu perjuangan sering dipakai pada reportoar Drumband atau kelompok Marching Band yang sering mengumandangkan lagu Mars ‘Maju tak gentar’ atau Mars ‘Bambu Runcing’ dan lain sebagainya.

Lagu-lagu perjuangan saat ini seperti panggang jauh dari api, semakin jauh semakin dilupakan. Pada umumnya lagu-lagu dikenal oleh masyarakat Indonesia secara hafalan baik melodi maupun syairnya. Karena tidak pernah dijelaskan latar belakang lagu-lagu itu muncul, dan bagaimana terjadi proses terciptanya sehingga orang memahami dengan latar belakang peristiwa saat itu, yang secara umum penulis lagu tersebut adalah seorang pejuang.

Pengamatan interpretasi lagu  dengan revitalisasi sejarah perjuangan muncul ketika kita masuk museum Venderburg Yogyakarta melihat diorama  perjuangan lewat audio visual dan sinopsis peristiwa yang dibacakan dengan iringan musik lagu perjuangan. Atau pada saat kita mengikuti detik-detik proklamasi kenerdekaan di Istana Negara Jakarta dan di Istana Presiden gedung Agung Yogyakarta, menyebabkan interpretasi rasa nasionalisme kita makin kuat saat itu. Selain itu memahami sejarah prakemerdekaan saat menyanyikan lagu ‘Indoesia Raya’ lagu ini juga menggambarkan sumpah pemuda 28 Oktober 1928.[2] Jadi untuk memahami lagu perjuangan sebaiknya dibarengi dengan pengetahuan sejarah perjuangan Indonesia secara utuh, sehingga identitas lagu-lagu perjuangan terlihat jelas kedudukannya. Beberapa tokoh pencipta lagu-lagu perjuangan bersifat monumental yaitu sbb.

  1. Wage Rudolf Supratman.(1903-1938)

Pencipta lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ setelah tergugah hatinya membaca surat kabar Fajar Asia. Artikel itu menyatakan ‘mana ada komponis bangsa kita yang mampu menciptakan lagu ‘Kebangsaan Indonesia’ yang dapat menggugah semangat rakyat. Setelah tidak lama kemudian ia berhasil menciptakan lagu Indonesia Raya sesudah berkonsultasi dengan Ketua Himpunan pelajar Indonesia A. Sigit, Sugondo Djoyo Puspito dan Monomutu. Setelah mendapat izin Ketua kongres pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 berkumandang pertamakalinya karya monumental lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ digedung Indonesische Club jalan Kramat 106 Jakarta, setelah ikrar sumpah pemuda. Betapa hebatnya lagu itu berkumandang hingga peserta kongres pemuda memberi sambutan luar biasa, Supratman menerima ucapan selamat dan pelukan dari rekan-rekannya. Sebagai karya monumental lambang negara pada tanggal 17 Agustus 1945 setelah pembacaan teks proklamasi oleh Sukarno maka, lagu “kebangsaan Indonesia Raya’ berkumandang mengiringi sangsaka merah putih sebagai hari kemerdekaan RI di Pegangsaan Timur Jakarta. Atas jasa-jasanya menciptakan lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ pada tanggal 28 Oktober tahun 1953 almarhum W.R. Supratman menerima anugerah penghargaan Bintang Maha Putera Klas III dari Pemerintah RI. Kemudian guna mengenang hasil perjuangannya menciptakan lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ Hari kelahiran W.R. Supratman tanggal 9 Maret oleh pemerintah RI diperingati sebagai hari Musik Nasional.

  1. Kusbini (1910-1991)

Pencipta lagu ‘Bagimu Neg’ri’ sebagai lambang simbolis penandatanganan sumpah jabatan Kepala negara dan para pejabat berbakti dan mengabdi kepada negara RI. Lagu ini diciptakan atas permintaan Sukarno untuk mengimbangi lagu-lagu propaganda Jepang yang marak saat itu. Kusbini bekerja sebagai pemain biola dan penyiar taman kanak-kanak bersama Ibu Sud di Radio Houso Kanri Kyoku. Menurut Ki Suratman tahun 1943-1944 pemerintah Jepang melarang mengumandangkan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ maka lagu ‘Bagimu Neg’ri diperdengarkan sebagai pengganti sementara lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’. Lagu ini memiliki peranannya dimasa revolusi Indonesia tahun 1945. Atas jasa-jasanya dibidang musik Kusbini memperoleh penghargaan piagam Anugerah Seni dari Pemerintah RI.

  1. Cornel Simanjuntak (1920-1946)

Pencipta lagu ‘Maju tak Gentar’ asal mulanya lagu Maju putera-puteri Indonesia’ propaganda Jepang. Untuk mendukung revolusi tahun 1945 judul dan syairnya diubah oleh penciptanya seperti sekarang yang berkumandang memepringati HUT RI 17 Agustus setiap tahunnya. Lagu ini dimaksudkan untuk memotivasi rakyat perang semesta guna membangkitkan semangat membela tanah air, yang secara realitas sering ditampilkan potret pertempuran melawan sekutu dan Belanda yang tidak seimbang. Menurut Franz Seda dan Alex Rumambi lagu ini menjadi terkenal di front Tentara Pelajar Yogyakarta yang mampu membakar semanagat pejuang di medan pertempuran. Lagu ‘Maju tak Gentar’ menggambarkan keberanian rakyat dengan perlengkapan seadanya melawan Belandayang bersenjatakan lengkap dan modern, tapi dengan jiwa semangat lagu ini mampu membangkitkan pejuang digaris depan.Atas jasa-jasanya pada pemerintah RI tahun 1961 menerima kehormatan piagam Satya lencana Kebudayaan, setingkat bintang Gerilya.

  1. Ismail Marzuki (19134-1958)

Pencipta lagu ‘Hallo-hallo Bandung’ Lagu ini sangat populer dibawah kom…ando H.A. Nasution dengan sandi opersi Bandung rebut kembali 24 Maret 1946 melawan tentara Belanda dan Sekutu, atas jasa-jasanya pemerintah menganugerahkan penghormatan piagam Wijaya Kusuma dan pada tahun 2007 menerima tanda jasa Bintang Budaya Parama Dharma dari pemerintah RI. Lagu ini bersifat lokal berskala nasional mampu menunjukan jati diri bangsa dengan gagah berani memotivasi perjuangan masyarakat Jawa Barat mengusir penjajah. lagu ini berkumandang setap peringatan HUT RI 17 Agustus setiap tahun dan memperingati Bandung Lautan Api setiap tanggal 24 Maret di Bandung.

  1. Bintang Sudibyo atau Ibu Sud (1908-1993)

Salah satu wanita nasionalisme pencipta lagu-lagu perjuangan ‘Berkibarlah Benderaku’ dikumandangkan setiap 17 Agustus dalam rangka HUT RI. lagu ini diciptakan berdasarkan kisah nyata masa revolusi Indonesia 1945, setelah menyaksikan pengalaman Yusup Rono Dipuro pelaku sejarah rekaman teks proklamsi adalah pimpinan RRI yang mempertahankan sang saka merah putih berkibar dihalaman kantornya, meskipun dalam ancaman senjata para kaum penjajah. Atas jasa-jasanya dibidang musik tahun 2007 almarhumah Ibu Sud menerima anugerah penghargaan Bintang Budaya Paramadharma dari pemerintah RI. Selain itu Ibu Sud dikenal sebagai penyiar radio dan pencipta lagu anak-anak.

  1. Liberty Manik (1924-1993)

Pencipta lagu ‘Satu Nusa Satu Bangsa’ seorang pemain biola, penyanyi, peny…iar radio RRI Yogyakarta, penulis buku dan jurnalis majalah Arena pimpinan Usmar Ismail 1946. Lagu ini diciptakan setelah menyaksikan semangat perjuangan rakyat mempertahakan kemerdekaan, sehngga lagu ini berisi anjuran persatuan dan kesatuan bangsa. Lagu ‘Satu Nusa Satu Bangsa’ pertamakali diperdengarkan lewat siaran radio tahun 1947, ketika beliau bekerja di RRI Yogyakarta saat hangat-hangatnya agresi Belanda I. Atas jasa-jasanya dalam karya monumental dibidang musik tahun 2007 almarhum menerima penghargaan bintang Budaya Paramadharma dari pemerintah RI.

  1. Husein Mutahar (1916-2004)

Pencipta lagu ‘Syukur’ sejenis lagu himne puji syukur diciptakan dan dipersiapkan untuk menyambut kemerdekaan RI yang ketika itu diduganya hampir tercapai.Lagu ini pertamakali dikumandangkan th 1946 di Istana Gedung Agung Yogyakarta. H. Mutahar tokoh utama pendiri gerakan Pramuka Indonesia, dan seorang perancang paskibraka pertama kali di Indonesia yang beranggotakan pelajar dari berbagai daerah. H. Mutahar adalah mayor Laut ABRI,memiliki tanda jasa Bintang Gerilya tahun 1948-1949 dan Bintang Maha putera menyelamatkan bendera Pusaka dari tangan pendudukan Belanda di Yogyakarta.

  1. DR. HC. Alfred Simanjuntak (1920)

Pencipta lagu ‘Bangun Pemudi Pemuda’ berfungsi sebagai kontra propaganda Jepang wlaupun ia berprofesi sebagai guru hampir sepanjang hidupnya. saat menulis lagu ini di tahun 1943 ia bekerja sebagai guru sekolah rakyat sempurna Indonesia di Semarang, sebuah sekolah dengan dasar jiwa pratriotisme yang didirikan DR. Barder Djohan, Mr. Wongsonegoro dan Prada Harahap. Lagu ‘Bangun Pemudi Pemuda’ digubahnya dalam suasana batin seorang anak yang gundah di negeri yang terjajah. Ide lagu ini diangkat Ketika tahun 1945 rasa ingin merdeka kuat sekali bila bertemu kawan, pemuda saling berucap salam merdeka tutur Alfred Simanjuntak. Bahkan menurut pengakuannya, lagu tersebut nyaris mengancam jiwannya. Sebab gara-gara lagu yang dinilai patriotik itu, nama Alfred Simanjuntak masuk daftar orang yang dicari Kempetai Jepang untuk dihabisi karena lagunya dianggap kontra propaganda Jepang.Hingga saat ini lagu ‘Bangun Pemudi Pemuda masih tetap dikumandangkan setiap perayaan Kemerdekaan 17 Agustus.

  1. Amir Pasaribu.

Pencipta lagu ‘Andika bayangkari’ ialah seorang komponis dan pelopor musik klasik Indonesia. Mars defille ABRI ‘Andika Bhayangkari diperdengarkan pada detik-detik proklamasi 17 Agustus di Istana Negara. Amir Pasaribu telah berjasa dibidang musik sebagai tanda kehormatan Presiden RI Megawati Soekarno Putri pada tanggal 15 Agustus 2002 menganugerahi Bintang Budaya Pa adharma.

Ismail Marzuki


[1] Supriatun. Pedoman Nasah Porto Folio Karya Seni Monumental/Pertunjukan. (Jakarta:Depdiknas, 2008), hal. 9.

[2] Sutrisno Kutojo dan Mardanas Safwan. Pahlawan Nasional W.R. Supratman (Jakarta: Mutiara, 1978), hal. 70.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>