Jurnal Kete’g ISI Surakarta.Vol. 8 No.1 Mei 2008. PENGETAHUAN EKSPRESI KARYA MUSIK

PENGETAHUAN EKSPRESI KARYA MUSIK

A. Karya Cipta Seni

Seniman memiliki potensi mewujudkan daya ciptanya  merupakan bentuk pernyataan dirinya dalam ekspresi seni. Ia mewujudkan ekspresi itu dapat melalui gerak tubuh seperti dalam seni tari, melalui mulut dalam bentuk lagu-lagu atau puisi, dan lewat tangan seperti karya seni rupa. Menurut pakar seni manusia menampilkan kehendaknya, pikirannya, rasa dan sebagainya. Jika gairah  dilakukan melalui media bunyi, yaitu nada, irama dan ilmu harmoni, kemudian diolah menjadi satu, karya ini disebut sebuah komposisi musik1 Jikalau seorang seniman yang mendapat ilham, ia dapat menghayati perasaan senang, berupa gairah menemukan bentuk nuansa keindahan yang berwujud hasil karya seni. Tujuannya ialah untuk dipersembahkan kepada masyarakat agar masyarakat itu sendiri dapat menikmatinya, karena fungsi seni itu sendiri adalah makanan jiwa yang diperlukan umat manusia.2  Sebagai santapan rohani proses terbentuknya seni sebagai kebutuhan umat manusia, hal ini disebabkan seniman tergerak hatinya untuk memberikan pernyataan emosi dan perasaan yang menguasai dirinya untuk mendapat gema sosial dilingkungan kehidupan masyarakat sekitarnya. Inspirasi yang menjadi tolak ukur sebuah ide dalam pikirannya berguna bagi orang lain agar dapat merasakan gema sosial itu lewat penghayatan dan pengalaman seniman diaktualisasikan lewat ekspresi dalam seni pertunjukan. Kesimpulan dari kedua pendapat diatas dapat dijadikan landasan pemikiran sebagai dasar motivasi pada pembahasan berikut ini.

Ekspresi dalam musik adalah gerak perasaan diujudkan lewat media bunyi. Artinya musik keluar dari jiwa penciptanya melalui pendengaran, dialami dan diresapi manusia yang menyediakan seluruh jiwa dan perasaannya menikmati musik. Bentuk pernyataan musikal bersumber pada alam pikiran, angan-angan serta perasaan seniman dipengaruhi kekuatan dari luar dirinya sebagai inspirasi. Selain itu proses penciptaan selalu disertai pengetahuan musik. Untuk itu proses penciptaan harus menitik beratkan pada penguasaan yang bersifat ilmiah, sehingga keinginan mencipta tidak perlu menunggu datangnya bulan purnama tiba. Cukup dengan pengetahuan Ilmu Harmoni, llmu Kontrapunk, Ilmu Orkestrasi, dan Ilmu Bentuk Analisa Musik pada ilmu komposisi musik, pencipta musik yang dibekali kemampuan penguasaan instrumen musik, tidak perlu pergi jauh ke gunung, atau ke pantai, cukup dalam satu ruangan saja ia dapat mengekspresikan karya ciptaannya.

B. Lembaga Pendidikan Musik

Untuk menjaga dan mengembangkan nilai karya musik, baik karya para pemain, maupun karya penciptanya maka perlu didirikan lembaga pendidikan musik. Karena itu sejak tahun 1951 pemerintah Indonesia telah mendirikan Sekolah Menengah Musik Indonesia (SMM) yang pertama, disusul dengan pembukaan Akademi Musik Indonesia (sekarang ISI Yogyakarta). Kedua lembaga pendidikan ini, yang memberi pendidikan musik yang bersistim diatonis. Sedang keperluan pendidikan musik bersistim selendro-pelog telah didirikan pula KOKAR kemudian Akademi Karawitan di pusat perkembangan musik slendro-pelog seperti yang kita kenal sekarang ISI Surakarta, STSI Bandung ISI Yogyakara, dan ISI Denpasar. Kemudian menyusul pula dengan lembaga pendidikan yang memiliki jurusan musik diatonis di Padangpanjang, Medan, Pekanbaru, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar, baik yang berstatus milik pemerintah maupun swasta yang dianggap daerah memerlukannya.

Pada dasarnya, tujuan mendirikan lembaga pendidikan musik yaitu untuk memberi pendidikan kepada calon pemusik profesional. Calon-calon inilah nantinya diharapkan akan menjadi pendorong utama kelangsungan kehidupan musik di Indonesia. Tujuan ini tentu saja tidak melepaskan kemungkinan, bahwa lulusan lembaga pendidikan musik baik setingkat Sekolah Menengah Musik (SMM) maupun pendidikan tinggi tidak memilih musik sebagai mata pencarian utamanya dikemudian hari karena menjadi karyawan di suatu perusahan atau sebagai PNS atau TNI/Polri yang menangani musik upacara kenegaraan.  Pada kenyataannya, bahwa lulusan pendidikan musik yang tidak menjadi profesional tadi pun, menduduki fungsi yang tidak kalah penting oleh lulusan yang menjadi profesional. Fungsi yang dimaksud ialah membimbing kehidupan musik apakah menjadi  peneliti musik, kritikus atau pengamat musik, birokrat atau penyelenggara pertunjukan musik seperti impresario dan sebagainya. Semuanya dapat memperbesar jumlah penggemar musik dalam masyarakat di Indonesia.

Selain itu sudah menjadi suatu kenyataan, bahwa golongan nonprofesional memiliki keakhlian musik ini, ada yang meneruskan keakhlian serta kepandaiannya kepada para penggemar musik dalam masyarakat. Mereka membuka kursus belajar memainkan alat musik yang tersebar diseluruh Indonesia seperti Yayasan Musik  Indonesia (YMI), dan sanggar musik lainnya yang membuka kursus maupun privat piano, gitar, perkusi, biola, Vokal dan sebagainya.

C. Diatonis dan Pentatonis

Hampir semua remaja yang pernah sekolah, sedikit banyak dapat membaca notasi musik diatonis ketika belajar menyanyikan lagu-lagu nasional dalam paduan suara disekolah maupun saat upacara. Sebenarnya membaca notasi musik angka sama sukarnya atau sama mudahnya dengan membaca notasi balok, masalahnya adalah kebiasaan. Untuk memainkan alat musik umumnya lebih mudah melakukannya kalau notasi dibuat dengan para nada. Karena dengan para nada secara teknis lebih banyak membantu pemain musik menggunakan nada yang dibaca.

Istilah diatonis pertamakali diambil dari bahasa Latin. Diatonicus yaitu nada-nada yang terdiri dari tujuh nada do, re, mi, fa, sol, la, si. Oleh karena tangga nada diatonis berasal dari Eropa maka segala perhitungan teori musik ditentukan oleh penemunya yaitu bangsa Eropa. Orang pertama yang menemukan tangga nada diatonis ialah Guido Aretinus d’arezo seorang pastor katolik dari Mazhab Benedikus. Ia lahir di Perancis pada abad IX selain sebagai guru, ia menetap di Italia sampai akhir ayatnya. Jasa Guido menemuykan aturan diatonis itu menyebabkan orang menyebut Skala Guidonis. Adapun nada-nadanya berasal dari rentetan kata-kata pujaan kepada sancta Loannis, murid termuda Yesus Kristus, yang artinya memohon kepadanya agar suara penyanyi yang memuji Tuhan tetap merdu tidak parau dan susunan nadanya berikut ini.

Ut queant laxis   Sebagai nada Ut    1 (do) Dominus artinya Tuhan

Renonare fibris  Sebagai nada Re    2

Mira gestorum   Sebagai nada Mi    3

Famuli tuorun   Sebagai nada Fa    4

Solve polluti      Sebagai nada Sol   5

Labii reatum     Sebagai nada La    6

Sancta loannis  Sebagai nada Si    7

Demikian dengan tujuh nada diatas terciptalah berjuta-juta lagu. Sistem notasi musik barat digunakan sangkar nada, garis birama berfungsi untuk membedakan tinggi dan rendah nada, maka disebut tangga nada dalam notasi absolut. Karena notasi balok dipergunakan secara internasional, maka selayaknya masyarakat Indonesia pada umumnya dengan mudah menerimanya. Musik diatonis sudah menggunakan standarisasi dalam menentukan tinggi (pitch) digunakan sistem penalaan Equal temperament yaitu berjarak 1 – 1 – ½ – 1 – 1 – 1 – ½. Dengan contoh tersebut dibuktikan antara nada satu dengan memiliki jarak tertentu dan disepakati nada A memiliki 440 Heartz. Akibatnya penggunaan tangganada dasar G merasa terlalu tinggi maka dapat diturunkan sesuai kemampuannya misalnya nada dasar F. Penurunan tinggi rendah nada dasar (modulasi) hanya dapat dilakukan pada tangganada diatonis.

Musik karawitan Indonesia telah mengenal notasi kepatihan. Biasanya yang ditulis hanya balungannya atau tema pokoknya saja, dan tidak seluruh melodinya. Tulisan itu biasanya dikerjakan sebagai pencatatan menegenai dasar-dasar melodi yang sudah ada. Notasi biasanya dipergunakan untuk mengingat-ingat perkembangan melodinya, jadi bersifat deskriptif. Akan tetapi tidak jarang pula, notasi demikian digunakan untuk menyajikan musik. Titinada yang dicatat sesuai dengan tema pokok lagu tetap harus diikuti, akan tetapi penyaji mempunyai kebebasan terbatas untuk menggarap melodinya dengan hiasan-hiasan, yang merupakan kreatif pemain atau penyanyi itu sendiri. Pada tangga nada pentatonis karawitan Indonesia khususnya di Jawa terbagi dua yaitu pelog urutan nadanya Bem (1), Gulu (2), Dadha (3), Lima (5), Nem (6),dan Barang (7). Sedang slendro, Barang (1), Gulu (2), Dadha (3), Lima (5), dan Nem (6). Notasi yang digunakan adalah notasi angka (relatif) atau juga disebut dengan istilah notasi kepatihan.

D. Bidang Garapan Musik

Dalam bidang garapan musik istilah mencipta adanya suatu tindakan yang dapat menghasilkan suatu bentuk pernyataan musikal dilakukan oleh semua orang. Tetapi selain itu ada pula bidang-bidang lain seperti istilah karya arransemen dan orkestrasi dalam pembahasan berikut ini masing-masing memiliki perbedaan. Untuk mendekati permasalahan tersebut sebagai wacana apresiasi masyarkat pemahaman bidang karya musik sebagai berikut.

1. Komposisi

Pada karya komposisi musik, komposer berangkat dari pengetahuan ilmu komposisi musik yang belum diciptakan oleh orang lain. Artinya didalam proses penciptaan komposer mencari identitas dirinya dengan menciptakan melodi sebagai tema musiknya yang belum diciptakan oleh komponis-komponis sebelumnya. Dalam sebuah komposisi musik ide garapan karyanya dicurahkan sepenuhnya melalui frase hingga menjadi sebuah rangkaian melodi yang konstruktif dan dinamis dalam bentuk mikro maupun makro, dari melodi pertama hingga pada akhir lagu.Komposisi dalam bentuk tulisan seperti dalam bentuk notasi musik merupakan ciptaan abadi bersifat absolut, bagaimanapun karya itu dituliskan begitu pula dibaca untuk selama-lamanya. Orisinalitas suatu bentuk komposisi sangat diperlukan dalam sebuah karya, agar jangan sampai karya ciptaannya merupakan  plagiat karya orang lain  seperti berikut ini.3

Komposisi Gitar Entree. Cipt. John W. Duarte

Selain karya komposisi musik yang tertulis, kemudian ada pula bentuk ciptaan komposisi yang tidak tertulis yang hanya dimainkan pada saat itu saja. Ciptaan komposisi musik ini dapat kita jumpai pada karya komposisi musik daerah dalam tradidsi lisan. Lalu bagaimana proses komposisi tersebut menjadi sebuah ekspresi kesenian yang mengagumkan, tentu tidak terlepas dari unsur-unsur pendukung lainnya. Di dalam musik unsur-unsur musikal disebutkan komposer sebagai konseptor, melalui dorongan kreatifnya nada-nada berhasil diciptakan. Dengan melibatkan banyak pemain musik orkestra, saat itu diperlukan seorang konduktor (dirigen) yang mampu menterjemahkan dan menjembatani antara pencipta dengan pemain musik untuk mendapat kesatuan ekspresi bermain musik sesuai dengan konsep keinginan penciptanya. Sedang unsur pemain musik adalah menginterpretasikan atau juru bicara yang ditulis penciptanya untuk disajikan kepada pendengar atau publik. Penciptanya sendiri adakalanya sudah wafat beberapa tahun yang lalu, namun tugas konduktor dan pemain musik berguna dalam pelestarian yang dapat mengagumkan nama penciptanya tanpa mengurangi  artistik karya komponisnya, atau sebaliknya dapat juga menjatuhkan nama harum komponisnya didepan publik akibat kesalahan pemain dan konduktor yang jelek.

Pada pembahasan bidang garapan komposisi musik dalam sebuah orkestra, pemain utama sangat diperlukan bagi pemain musik orkestra lainnya guna membimbing teknis permainan biola misalnya, pada bagian-bagian yang sulit. Kemampuan Concert master atau pemain utama ini dianggap sebagai juru bicara utama dari komponisnya sebagai asisten konduktor yang dapat dipercaya mengatasi kesulitan sesuai interpretasi keinginan penciptanya dalam sebuah pertunjukan musik. Landasan teori yang dipakai dalam proses pembuatan komposisi musik ialah ilmu harmoni, yaitu ilmu yang mempelajari tentang perpaduan nada-nada yang harmonis. Ilmu kontrapung, membahas tentang perlawanan diantara nada-nada melodi. Ilmu bentuk analisa musik, membahas tentang bentuk makro maupun mikro pada lagu. Ilmu orkestrasi, membahas tentang berbagai macam instrumen musik seperti dalam susunan formasi orkes simponi. Bentuk komposisi tertulis kita kenal seperti karya Sonata untuk piano, Suita untuk biola, Simponi untuk orkestra, dan sebagainya.

2. Improvisasi

Improvisasi adalah jenis ciptaan yang tidak bersifat abadi artinya hanya berlangsung sekali saja, sebab improvisasi tidak tertulis. Pemain musik tidak dapat mengulangi kembali dalam bentuk serta intesitas yang sama, seperti ketika untuk pertamakali dihidangkan dan sekaligus diciptakan. Pada kesempatan lain kalau ingin menghidangkan lagu itu kembali persis seperti semula tentunya perasaan serta angan-angan musiknya sudah tentu nuansanya sudah berubah karena tidak sama dengan yang dulu lagi

Improvisasi merupakan ciptaan langsung sebagai ekspresi dari pola-pola musik yang diberikan terlebih dahulu. Pola ini biasanya diambil dari lagu yang sudah ada sebelumnya. Improvisasi seperti ini kita dapatkan permainan dalam nusik Jazz atau musik undeground seperti musik Rock, untuk memberi kesempatan pemain musik memperagakan kemampuannya didepan publik. Hanya pemain-pemain yang berbakat mampu melakukan improvisasi, terutama pada permainan yang sulit dengan teknik yang tinggi disajikan kepada publik pendengar. Namun  pada bagian-bagian tersebut telah ditentukan sebelumnya oleh penciptanya agar ada terkaitan hubungn antara pencipta dan pemain musik. Bentuk improvisasi dapat kita dengar pada lagu ‘Fell like Jazz’ yang dimainkan oleh seorang pemain Flute terkenal Dave Valentin.

3. Arransemen

Arransemen artinya gubahan, penyusunan, menata gubah membubuhi suatu iringan pada lagu yang berangkat dari melodi yang telah ada sebelumnya. Arransemen adalah produk kedua dari karya penciptanya, dimana kebebasan arranger dalam mengekspresikan kemampuannya berpeluang mengubah pada bagian intro, interlud dan pada bagian akhir disebut coda. Arransemen dalam arti luas ialah mengubah dan memberi nuansa baru pada suatu lagu terdengar lebih baik dan lebih indah tanpa mengurangi daya tarik lagu ciptaan aslinya. Selain itu arransemen adalah penyegaran lagu-lagu yang dianggap usang atau sudah lama supaya lagu itu tidak membosankan, maka arransemen diperlukan untuk menyegarkan suasana serta memperbaruhi lagu supaya terasa seperti lagu baru. Arransemen dapat dilakukan dengan menggunakan notasi atau tanpa notasi. Sifatnya relatif tidak harus sama antara pembuat arransemen yang satu dengan lainnya, tergantung kemampuan dari masing-masing arranger itu sendiri. Jika arransemen dibuat secara tertulis, maka arranger harus membubuhkan nama dirinya sebagai tanggung jawabnya terhadap hasil karyanya yang ditulis setelah pencipta aslinya. Beberapa bentuk ekspresi arransemen yang sering dilakukan sebagai berikiut.

a. Memberikan akor iringan arransemen dengan berbagai instrumen yang banyak melibatkan para pemain musik orkestra, diperlukan seorang konduktor (dirigen) yang mampu menjembatani antar pencipta lagu dengan pemain, untuk mendapat kesatuan ekspresi bermain musik sesuai dengan konsep keinginan  seorang arranger.

b. memberikan akor iringan dengan mempergunakan instrumen piano atau gitar secara perorangan dalam bentuk group band yang melibatkan beberapa orang pemain, namun tidak mengurangi kualitas lagu yang telah di arransir tersebut.

c. Menambah suara dua, atau tiga atau empat suara dalam bentuk paduan suara atau vokal group yang banyak melibatkan suara manusia dari jenis sopran, alto, tenor, bariton dan bass. Dalam bentuk paduan suara diperlukan seorang dirigen sebagai pemimpin pertunjukan untuk mengendalikan kesatuan ekspresi bernyanyi bersama.4 Selain itu tata cara perlu diperhatikan dalam membuat karya arransemen agar mudah terjangkau secara teknis para pemain musik yaitu sebagai berikut.

1) Dapat menentukan proyeksi akor yang sesuai dalam menyusun melodi yang harmonis, indah sesuai dengan tingkat kemampuan para pemain dan penyanyi secara teknis. Ketentuan lain yang harus dihindari adalah kesulitan-kesulitan yang dapat menjatuhkan nama baik komponis maupun arrangernya sendiri, karena kualitas pemain yang tidak baik.

2) Menentukan nada dasar yang tepat bagi wilayah register suara vokal maupun instrumen musik yang dipergunakan. Untuk itu arranger perlu mengetahui dan menguasai sedikit tentang vokal suara manusia atau sifat-sifat instrumen musik dipergunakan, agar ekspresi arranger benar-benar terwakili sesuai dengan keinginan dan kepuasan pemain sampai kepada publik pendengar.

3) Memadukan berbagai macam teknis komposisi dalam bentuk variasi, seperti menambah melodi selingan disela-sela melodi aslinya dengan mempergunakan filler harmonik, filler melodik dan filler ritmik dengan menambah nada sisipan didalam kalimat lagu. Memadukan berbagai macam nada melodi yang berlawanan berperan sebagai counter melodi. Penguasaan teknik komposisi ini merupakan permainan variasi agar musik tidak monoton, mengakibatkan kualitas pemain meningkat dan publik pendengar merasa puas. Berikut ini  karya vokal dan Instrumen organ arransemen lagu karya The Beatles.

Lagu Here There and Everywhere Ciptaan. John Lennon

4. Orkestrasi

Membuat karya orkestrasi sangat berbeda dengan membuat karya arransemen dan karya komposisi. Sebuah karya orkestrasi berangkat dari piano score yang sudah ada. Pemberian ideologi pada orkestrasi terbatas pada perpaduan instrumen alat musik gesek, alat musik tiup dan perkusi dalam formasi orkestra. Sebaliknya pemberian ideologi pada arransemen sangat luas dibandingkan karya orkestrasi, oleh karena arransemen hampir seluruhnya dapat diubah oleh arranger mulai dari intro, interlud maupun coda.

Landasan teori ilmu orkestrasi banyak buku yang memperbincangkan tentang teknik orkestrasi. Hal ini disebabkan antara buku satu dengan lainnya memiliki cara tersendiri pendekatan dan pembahasannya. Buku orkestrasi karya Kent Wheler Keenan The Tehnique of Orchestration tidak ditemukan bagaimana menyelesaikan tentang perpaduan warna bunyi alat musik. Sebaliknya konsep yang dikembangkan dalam buku ini banyak membahas persoalan konsep tutti.5 Buku orkestrasi karya nikolay Rimsky korsakof Principle of Orchestration yaitu konsep yang diterapkan membahas secara terperinci perpaduan warna alat-alat musik.6 Buku orkestrasi karya gordon Yakob fokus pembahasan mengenai peran instrumen menggarap harmoni, melodi dengan bermacam instrumen mulai string, tiup kayu, tiup logam dan perkusi. Sedang buku karya Samuel Adler The Study of Orchestration fokus pembahasannya menekankan dasar-dasar orkestrasi dan instrumentasi tentang register suara dari alat-alat musik.7

Sebuah karya orkestrasi berangkat dari sebuah piano score yang sudah ada diciptakan oleh para komponis sebelumnya. Pada umumnya piano score milik penciptanya bukan milik orkestrator. Penambahan ide pada orkestrator sangat tertutup kemungkinannya untuk dapat dikembangkan. Ilmu orkestrasi adalah suatu cara memindahkan sebuah komposisi untuk piano kedalam bentuk susunan alat musik dalam format orkes simponi besar (Grant Orchestra) atau dalam format kecil ansambbel trio atau kwartet. Meskipun orkestrasi tidak begitu asli dibanding komposisi musik namun masalah karakter alat musik yang bermacam-macam diperlukan keakhlian musikalitas dan imanjinasi yang baik untuk menterjemahkan nuansa lagunya dengan menggunakan perpaduan warna bunyi instrumen yang di orkestrasi. Contoh adalah karya untuk piano Quartet in G minor op. 25 ciptaan Brams yang diorkestrasi oleh Arnold Schonberg untuk orkes simponi. Adapu kualifikasi untuk menjadi orkestrator yang baik sebgai berikuit.

a. Seorang orkestrator memiliki kemampuan dalam menganalisa karakter pianistik style, dimana teknik orkestrasi dipergunakan sesuai karakter musik yang sebenarnya. Memahami sifat-sifat alat musik digunakan seideal mungkin sesuai warna suara yang dibutuhkan.

b. Piano score dan konduktor score harus mempunyai timbal balik. Pertama kita harus memngenal gaya komponisnya, kemudian kenalilah zamannya, negaranya dimana ia hidup dan alat musik yang digunakan. Misalnya pada zaman barok instrumen musik Saxophone belum ada, jadi tidak perlu instrumen itu digunakan karena menimbulkan nuansa musik yang berbeda tidak sesuai dengan latar belakang komponisnya dan zamannya.

c. Seorang orkestrator mempunyai kempuan imanjinasi pendengaran dapat mengenal jenis warna bunyi alat musik sesuai partitur orkes. Mengenai desain struktur dan konstruksi lagu seluruhnya tetap mempertahankan agar semangat lagu sesuai keinginan komponisnya

d. Notasi musik sebelum digarap sebagai karya orkestrasi lebih dahulu dipertimbangkan guna dianalisa setiap bagian. Agar balans dan kontras suara pada desain orkestrasi pada open position cenderung suara menjadi terang, close position cenderung suara semua alat musik menjadi gelap. Hindari pemborosan ide yang dapat mengacaukan warna musiknya, seperti memakai semua alat musik berbunyi terus menerus dan sebaliknya dipakai secara bergantian. Misalnya mencoba menggarap bergantian yaitu string dan tiup kayu berbunyi. kemudian pada bagian yang lain tiup kayu istirahat, diganti tiup logam berbunyi dengan string demikian seterusnya. Karena orkestrasi adalah bagian dari karya musik sebagai rasa tanggung jawab maka nama orkestrator yg menggarap dicantumkan setelah nama komponisnya. Berikut adalah contoh diagram teknik orkestrasi yang dipakai dalam formasi orkes simponi sebagai berikut.

1. Teknik Interlocking

2. Teknik Enclosure

3. Teknik Overlapping

4. Teknik Super Imposed

Piano Score lagu Jesu, meine Freude Cipt. J.S. Bach

Konduktor score Teknik Super Imposed Jesu, meine Freud Cipt. J.S Bach di orkestrasi untuk String, biola I, biola II. biola alto, Celo dan Kontra Bass.

5. Transkripsi

Apabila suatu lagu ditulis dari suatu alat musik lalu dipindahkan ke alat musik yang lain istilah ini disebut transkripsi. Selain itu transkripsi banyak dipergunakan pada lagu tradisi yang berkembang secara lisan terutama pada lagu-lagu daerah di nusantara. Alih tulis dari lagu tradisi secara oral yang dipindahkan dalam bentuk penulisan notasi banyak dilakukan oleh para peneliti etnomusikologi. Apa bila transkripsi berhasil ditulis dan didokumentasikan dalam bentuk notasi balok atau notasi angka. Maka peneliti disebut sebgai seorang transkriptor harus membubuhkan namnya sebagai penulis atas tanggungjawabnya terhadap kepunahan lagu itu dalam rangka pelestarian budaya.

E. Penutup

Syarat-syarat adanya kehidupan musik ialah adanya penciptanya, pemain musik dan publik pendengar. Ketergantungan ketiga unsur tersebut sangat besar dalam kelangsungan kehidupan musik. Misalnya tidak terdapat publik pendengar, yang ada hanyalah pencipta dan pemain musik. Praktis kegiatan musik tidak akan berlangsung lama karena tidak ada pengunjung yang menonton konser tersebut. Praktek musik demikian hanya dapat dinikmati oleh segolongan kecil manusia yang terbatas jumlahnya. Gedung pertunjukan misalnya dalam masyarakat seperti itu tidak akan ada artinya, sebab tidak ada publik yang mengunjungi gedung pertunjukan, kehidupan musik ini tidak mungkin berkembang.

Publik pendengar merupakan pendorong kegiatan para pemusik baik moril maupun materil. Dalam bentuk materil yaitu bantuan dalam bentuk honorarium atau bentuk yang terkumpul dari hasil penjuaan tiket para pengunjung konser guna merubah kesejahteraan hidup pencipta dan pemain musik.

KEPUSTAKAAN

1Muji Sutrisno. Estetika Filsafat Keindahan. (Yogyakarta: Kanisius, 1992), hlm. 5.

2Sidi Gazalba. Pandangan Islam Tentang Kesenian. (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), hlm. 23.

3Sumaryo. LE. Komponis, Pemain dan Publik. (Jakarta: Pustaka Jaya, 1978), hlm. 19.

4Genichi, Kawakami. Arranging Popular Musical & Practical Guide. (Zen-on:Foudation Musical Yamaha, 1970), hlm. 239.

5Keenan, Kent Wheeler. The Technique of Orchestration. (New York: W.W. Norton and Company, 1964), hlm. 83.

6Korsakof, Nikolay Rimsky. Principle of Orchestration with Musical Example drawn from his awn Work. (New York: Maxmillan Stimberg, 1964), hlm. 127.

7Adler, Samuel. The Study of Orchestration. (New York: W.W. Norton & Company, 1982), hlm. 16.

Jurnal Kete’g ISI Surakarta Mei 2008. PENGETAHUAN EKSPRESI KARYA MUSIK
· · Bagikan · Hapus

Facebook © 2011 · Bahasa Indonesia
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>