lagu-lagu Perjuangan Dalam Karya Monumental

Lagu-lagu Perjuangan dalam karya Monumental

Lagu-lagu Perjuangan adalah karya monumental, beberapa hal yang termasuk dalam kriteria tersebut. Pertama, lagu-lagu perjuangan Indonesia bersifat peringatan hari besar nasional sering dikumandangkan pada moment tertentu. Kedua, fungsinya meningkatkan kewibawaan pencipta dan lingkungannya. Diindentifikasikan melalui proses yang panjang dari pengakuan pemerintah dan publik, sekaligus penghargaan yang diterima oleh para penciptanya. Ketiga, eksistensi karya seni yang bersangkutan telah dibahas melalui opini publik, media massa, buku, seminar dan diskusi.[1] Lagu-lagu perjuangan dalam rangka Sapta Usaha Tama, Menteri Muda Dep. P dan K. telah mengeluarkan Instruksi No. 1 tanggal 17 April 1960 yang ditujukan kepada seluruh sekolah-sekolah agar mempelajari dan menyanyikan lagu-lagu wajib nasional yang berjumlah tujuh buah. Setelah adanya perkembangan di Indonesia, maka jumlah lagu-lagu wajib nasional berjumlah menjadi 16 buah, kemudian berkembang lagi saat ini menjadi 45 lagu-lagu perjuangan. Lagu-lagu perjuangan dari 45 buah tersebut dapat di klasifikasikan menjadi 3 jenis yaitu. Satu, lagu-lagu perjuangan bersifat mars. Dua, lagu-lagu perjuangan bersifat Himne. Ketiga, lagu-lagu perjuangan bersifat percintaan (Romans). Keberadaan dan penciptaan lagu-lagu perjuangan dapat pula diklasifikasikan menjadi 3 periode. Pertama, lagu-lagu perjuangan yang di cipatakan pada masa prakemerdekaan tahun 1928 contohnya lagu ‘Indonesia Raya’. (W.R.Suprtman) Kedua, lagu-lagu yang diciptakan masa Revolusi Indonesia 1945-1949, contohnya lagu ‘Maju Tak Gentar (Cornel Simanjuntak). Ketiga, lagu-agu perjuangan yang diciptakan pada masa pasca kemerdekaan, contohnya lagu Andika Bhayangkari (Amir Pasaribu). Fungsi lagu-lagu perjuangan sebagai kegiatan upacara dapat di jumpai pada HUT RI 17 Agustus, antara lain menjadi 3 macam kegiatan. Pertama berfungsi sebagai Defile penghormatan upacara seperti lagu kebangsaaan ‘Indonesia Raya’, lagu ‘Andhika Bhayangkari’, lagu ‘Mengheningkan cipta’. Kedua, berfungsi sebagai Aubade, kegiatan paduan suara dan orkes simponi menyanyikan lagu-lagu perjuangan bergema setelah upacara pengibaran sang saka mereh putih, dan juga menjelang upacara penurunan bendera merah putih. Seperti menyanyikan lagu ‘Hari Merdeka’ lagu ‘berkibarlah Benderaku’ lagu ‘Dari Sabang sampai Mereuke’ lagu ‘Syukur’ dan lain sebagainya. Ketiga berfungsi sebagai parade, yaitu jenis iringan musik mars lagu-lagu perjuangan dalam kegiatan mengawali dan menghakhiri pawai barisan dengan derap langkah semangat perjuangan memasuki atau keluar lapangan upacara HUT RI 17 Agustus di Istana Presiden gedung Agung Ygyakarta. Dalam acara karnaval lagu-lagu perjuangan sering dipakai pada reportoar Drumband atau kelompok Marching Band yang sering mengumandangkan lagu Mars ‘Maju tak gentar’ atau Mars ‘Bambu Runcing’ dan lain sebagainya.

Lagu-lagu perjuangan saat ini seperti panggang jauh dari api, semakin jauh semakin dilupakan. Pada umumnya lagu-lagu dikenal oleh masyarakat Indonesia secara hafalan baik melodi maupun syairnya. Karena tidak pernah dijelaskan latar belakang lagu-lagu itu muncul, dan bagaimana terjadi proses terciptanya sehingga orang memahami dengan latar belakang peristiwa saat itu, yang secara umum penulis lagu tersebut adalah seorang pejuang.

Pengamatan interpretasi lagu  dengan revitalisasi sejarah perjuangan muncul ketika kita masuk museum Venderburg Yogyakarta melihat diorama  perjuangan lewat audio visual dan sinopsis peristiwa yang dibacakan dengan iringan musik lagu perjuangan. Atau pada saat kita mengikuti detik-detik proklamasi kenerdekaan di Istana Negara Jakarta dan di Istana Presiden gedung Agung Yogyakarta, menyebabkan interpretasi rasa nasionalisme kita makin kuat saat itu. Selain itu memahami sejarah prakemerdekaan saat menyanyikan lagu ‘Indoesia Raya’ lagu ini juga menggambarkan sumpah pemuda 28 Oktober 1928.[2] Jadi untuk memahami lagu perjuangan sebaiknya dibarengi dengan pengetahuan sejarah perjuangan Indonesia secara utuh, sehingga identitas lagu-lagu perjuangan terlihat jelas kedudukannya. Beberapa tokoh pencipta lagu-lagu perjuangan bersifat monumental yaitu sbb.

  1. Wage Rudolf Supratman.(1903-1938)

Pencipta lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ setelah tergugah hatinya membaca surat kabar Fajar Asia. Artikel itu menyatakan ‘mana ada komponis bangsa kita yang mampu menciptakan lagu ‘Kebangsaan Indonesia’ yang dapat menggugah semangat rakyat. Setelah tidak lama kemudian ia berhasil menciptakan lagu Indonesia Raya sesudah berkonsultasi dengan Ketua Himpunan pelajar Indonesia A. Sigit, Sugondo Djoyo Puspito dan Monomutu. Setelah mendapat izin Ketua kongres pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 berkumandang pertamakalinya karya monumental lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ digedung Indonesische Club jalan Kramat 106 Jakarta, setelah ikrar sumpah pemuda. Betapa hebatnya lagu itu berkumandang hingga peserta kongres pemuda memberi sambutan luar biasa, Supratman menerima ucapan selamat dan pelukan dari rekan-rekannya. Sebagai karya monumental lambang negara pada tanggal 17 Agustus 1945 setelah pembacaan teks proklamasi oleh Sukarno maka, lagu “kebangsaan Indonesia Raya’ berkumandang mengiringi sangsaka merah putih sebagai hari kemerdekaan RI di Pegangsaan Timur Jakarta. Atas jasa-jasanya menciptakan lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ pada tanggal 28 Oktober tahun 1953 almarhum W.R. Supratman menerima anugerah penghargaan Bintang Maha Putera Klas III dari Pemerintah RI. Kemudian guna mengenang hasil perjuangannya menciptakan lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ Hari kelahiran W.R. Supratman tanggal 9 Maret oleh pemerintah RI diperingati sebagai hari Musik Nasional.

  1. Kusbini (1910-1991)

Pencipta lagu ‘Bagimu Neg’ri’ sebagai lambang simbolis penandatanganan sumpah jabatan Kepala negara dan para pejabat berbakti dan mengabdi kepada negara RI. Lagu ini diciptakan atas permintaan Sukarno untuk mengimbangi lagu-lagu propaganda Jepang yang marak saat itu. Kusbini bekerja sebagai pemain biola dan penyiar taman kanak-kanak bersama Ibu Sud di Radio Houso Kanri Kyoku. Menurut Ki Suratman tahun 1943-1944 pemerintah Jepang melarang mengumandangkan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ maka lagu ‘Bagimu Neg’ri diperdengarkan sebagai pengganti sementara lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’. Lagu ini memiliki peranannya dimasa revolusi Indonesia tahun 1945. Atas jasa-jasanya dibidang musik Kusbini memperoleh penghargaan piagam Anugerah Seni dari Pemerintah RI.

  1. Cornel Simanjuntak (1920-1946)

Pencipta lagu ‘Maju tak Gentar’ asal mulanya lagu Maju putera-puteri Indonesia’ propaganda Jepang. Untuk mendukung revolusi tahun 1945 judul dan syairnya diubah oleh penciptanya seperti sekarang yang berkumandang memepringati HUT RI 17 Agustus setiap tahunnya. Lagu ini dimaksudkan untuk memotivasi rakyat perang semesta guna membangkitkan semangat membela tanah air, yang secara realitas sering ditampilkan potret pertempuran melawan sekutu dan Belanda yang tidak seimbang. Menurut Franz Seda dan Alex Rumambi lagu ini menjadi terkenal di front Tentara Pelajar Yogyakarta yang mampu membakar semanagat pejuang di medan pertempuran. Lagu ‘Maju tak Gentar’ menggambarkan keberanian rakyat dengan perlengkapan seadanya melawan Belandayang bersenjatakan lengkap dan modern, tapi dengan jiwa semangat lagu ini mampu membangkitkan pejuang digaris depan.Atas jasa-jasanya pada pemerintah RI tahun 1961 menerima kehormatan piagam Satya lencana Kebudayaan, setingkat bintang Gerilya.

  1. Ismail Marzuki (19134-1958)

Pencipta lagu ‘Hallo-hallo Bandung’ Lagu ini sangat populer dibawah kom…ando H.A. Nasution dengan sandi opersi Bandung rebut kembali 24 Maret 1946 melawan tentara Belanda dan Sekutu, atas jasa-jasanya pemerintah menganugerahkan penghormatan piagam Wijaya Kusuma dan pada tahun 2007 menerima tanda jasa Bintang Budaya Parama Dharma dari pemerintah RI. Lagu ini bersifat lokal berskala nasional mampu menunjukan jati diri bangsa dengan gagah berani memotivasi perjuangan masyarakat Jawa Barat mengusir penjajah. lagu ini berkumandang setap peringatan HUT RI 17 Agustus setiap tahun dan memperingati Bandung Lautan Api setiap tanggal 24 Maret di Bandung.

  1. Bintang Sudibyo atau Ibu Sud (1908-1993)

Salah satu wanita nasionalisme pencipta lagu-lagu perjuangan ‘Berkibarlah Benderaku’ dikumandangkan setiap 17 Agustus dalam rangka HUT RI. lagu ini diciptakan berdasarkan kisah nyata masa revolusi Indonesia 1945, setelah menyaksikan pengalaman Yusup Rono Dipuro pelaku sejarah rekaman teks proklamsi adalah pimpinan RRI yang mempertahankan sang saka merah putih berkibar dihalaman kantornya, meskipun dalam ancaman senjata para kaum penjajah. Atas jasa-jasanya dibidang musik tahun 2007 almarhumah Ibu Sud menerima anugerah penghargaan Bintang Budaya Paramadharma dari pemerintah RI. Selain itu Ibu Sud dikenal sebagai penyiar radio dan pencipta lagu anak-anak.

  1. Liberty Manik (1924-1993)

Pencipta lagu ‘Satu Nusa Satu Bangsa’ seorang pemain biola, penyanyi, peny…iar radio RRI Yogyakarta, penulis buku dan jurnalis majalah Arena pimpinan Usmar Ismail 1946. Lagu ini diciptakan setelah menyaksikan semangat perjuangan rakyat mempertahakan kemerdekaan, sehngga lagu ini berisi anjuran persatuan dan kesatuan bangsa. Lagu ‘Satu Nusa Satu Bangsa’ pertamakali diperdengarkan lewat siaran radio tahun 1947, ketika beliau bekerja di RRI Yogyakarta saat hangat-hangatnya agresi Belanda I. Atas jasa-jasanya dalam karya monumental dibidang musik tahun 2007 almarhum menerima penghargaan bintang Budaya Paramadharma dari pemerintah RI.

  1. Husein Mutahar (1916-2004)

Pencipta lagu ‘Syukur’ sejenis lagu himne puji syukur diciptakan dan dipersiapkan untuk menyambut kemerdekaan RI yang ketika itu diduganya hampir tercapai.Lagu ini pertamakali dikumandangkan th 1946 di Istana Gedung Agung Yogyakarta. H. Mutahar tokoh utama pendiri gerakan Pramuka Indonesia, dan seorang perancang paskibraka pertama kali di Indonesia yang beranggotakan pelajar dari berbagai daerah. H. Mutahar adalah mayor Laut ABRI,memiliki tanda jasa Bintang Gerilya tahun 1948-1949 dan Bintang Maha putera menyelamatkan bendera Pusaka dari tangan pendudukan Belanda di Yogyakarta.

  1. DR. HC. Alfred Simanjuntak (1920)

Pencipta lagu ‘Bangun Pemudi Pemuda’ berfungsi sebagai kontra propaganda Jepang wlaupun ia berprofesi sebagai guru hampir sepanjang hidupnya. saat menulis lagu ini di tahun 1943 ia bekerja sebagai guru sekolah rakyat sempurna Indonesia di Semarang, sebuah sekolah dengan dasar jiwa pratriotisme yang didirikan DR. Barder Djohan, Mr. Wongsonegoro dan Prada Harahap. Lagu ‘Bangun Pemudi Pemuda’ digubahnya dalam suasana batin seorang anak yang gundah di negeri yang terjajah. Ide lagu ini diangkat Ketika tahun 1945 rasa ingin merdeka kuat sekali bila bertemu kawan, pemuda saling berucap salam merdeka tutur Alfred Simanjuntak. Bahkan menurut pengakuannya, lagu tersebut nyaris mengancam jiwannya. Sebab gara-gara lagu yang dinilai patriotik itu, nama Alfred Simanjuntak masuk daftar orang yang dicari Kempetai Jepang untuk dihabisi karena lagunya dianggap kontra propaganda Jepang.Hingga saat ini lagu ‘Bangun Pemudi Pemuda masih tetap dikumandangkan setiap perayaan Kemerdekaan 17 Agustus.

  1. Amir Pasaribu.

Pencipta lagu ‘Andika bayangkari’ ialah seorang komponis dan pelopor musik klasik Indonesia. Mars defille ABRI ‘Andika Bhayangkari diperdengarkan pada detik-detik proklamasi 17 Agustus di Istana Negara. Amir Pasaribu telah berjasa dibidang musik sebagai tanda kehormatan Presiden RI Megawati Soekarno Putri pada tanggal 15 Agustus 2002 menganugerahi Bintang Budaya Pa adharma.

Ismail Marzuki


[1] Supriatun. Pedoman Nasah Porto Folio Karya Seni Monumental/Pertunjukan. (Jakarta:Depdiknas, 2008), hal. 9.

[2] Sutrisno Kutojo dan Mardanas Safwan. Pahlawan Nasional W.R. Supratman (Jakarta: Mutiara, 1978), hal. 70.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Lagu-lagu Perjuangan dalam Karya Mnumental

Lagu-lagu Perjuangan dalam karya Monumental
Lagu-lagu Perjuangan adalah karya monumental, beberapa hal yang termasuk dalam kriteria tersebut. Pertama, lagu-lagu perjuangan Indonesia bersifat peringatan hari besar nasional sering dikumandangkan pada moment tertentu. Kedua, fungsinya meningkatkan kewibawaan pencipta dan lingkungannya. Diindentifikasikan melalui proses yang panjang dari pengakuan pemerintah dan publik, sekaligus penghargaan yang diterima oleh para penciptanya. Ketiga, eksistensi karya seni yang bersangkutan telah dibahas melalui opini publik, media massa, buku, seminar dan diskusi. Lagu-lagu perjuangan dalam rangka Sapta Usaha Tama, Menteri Muda Dep. P dan K. telah mengeluarkan Instruksi No. 1 tanggal 17 April 1960 yang ditujukan kepada seluruh sekolah-sekolah agar mempelajari dan menyanyikan lagu-lagu wajib nasional yang berjumlah tujuh buah. Setelah adanya perkembangan di Indonesia, maka jumlah lagu-lagu wajib nasional berjumlah menjadi 16 buah, kemudian berkembang lagi saat ini menjadi 45 lagu-lagu perjuangan. Lagu-lagu perjuangan dari 45 buah tersebut dapat di klasifikasikan menjadi 3 jenis yaitu. Satu, lagu-lagu perjuangan bersifat mars. Dua, lagu-lagu perjuangan bersifat Himne. Ketiga, lagu-lagu perjuangan bersifat percintaan (Romans). Keberadaan dan penciptaan lagu-lagu perjuangan dapat pula diklasifikasikan menjadi 3 periode. Pertama, lagu-lagu perjuangan yang di cipatakan pada masa prakemerdekaan tahun 1928 contohnya lagu ‘Indonesia Raya’. (W.R.Suprtman) Kedua, lagu-lagu yang diciptakan masa Revolusi Indonesia 1945-1949, contohnya lagu ‘Maju Tak Gentar (Cornel Simanjuntak). Ketiga, lagu-agu perjuangan yang diciptakan pada masa pasca kemerdekaan, contohnya lagu Andika Bhayangkari (Amir Pasaribu). Fungsi lagu-lagu perjuangan sebagai kegiatan upacara dapat di jumpai pada HUT RI 17 Agustus, antara lain menjadi 3 macam kegiatan. Pertama berfungsi sebagai Defile penghormatan upacara seperti lagu kebangsaaan ‘Indonesia Raya’, lagu ‘Andhika Bhayangkari’, lagu ‘Mengheningkan cipta’. Kedua, berfungsi sebagai Aubade, kegiatan paduan suara dan orkes simponi menyanyikan lagu-lagu perjuangan bergema setelah upacara pengibaran sang saka mereh putih, dan juga menjelang upacara penurunan bendera merah putih. Seperti menyanyikan lagu ‘Hari Merdeka’ lagu ‘berkibarlah Benderaku’ lagu ‘Dari Sabang sampai Mereuke’ lagu ‘Syukur’ dan lain sebagainya. Ketiga berfungsi sebagai parade, yaitu jenis iringan musik mars lagu-lagu perjuangan dalam kegiatan mengawali dan menghakhiri pawai barisan dengan derap langkah semangat perjuangan memasuki atau keluar lapangan upacara HUT RI 17 Agustus di Istana Presiden gedung Agung Ygyakarta. Dalam acara karnaval lagu-lagu perjuangan sering dipakai pada reportoar Drumband atau kelompok Marching Band yang sering mengumandangkan lagu Mars ‘Maju tak gentar’ atau Mars ‘Bambu Runcing’ dan lain sebagainya.
Lagu-lagu perjuangan saat ini seperti panggang jauh dari api, semakin jauh semakin dilupakan. Pada umumnya lagu-lagu dikenal oleh masyarakat Indonesia secara hafalan baik melodi maupun syairnya. Karena tidak pernah dijelaskan latar belakang lagu-lagu itu muncul, dan bagaimana terjadi proses terciptanya sehingga orang memahami dengan latar belakang peristiwa saat itu, yang secara umum penulis lagu tersebut adalah seorang pejuang.
Pengamatan interpretasi lagu dengan revitalisasi sejarah perjuangan muncul ketika kita masuk museum Venderburg Yogyakarta melihat diorama perjuangan lewat audio visual dan sinopsis peristiwa yang dibacakan dengan iringan musik lagu perjuangan. Atau pada saat kita mengikuti detik-detik proklamasi kenerdekaan di Istana Negara Jakarta dan di Istana Presiden gedung Agung Yogyakarta, menyebabkan interpretasi rasa nasionalisme kita makin kuat saat itu. Selain itu memahami sejarah prakemerdekaan saat menyanyikan lagu ‘Indoesia Raya’ lagu ini juga menggambarkan sumpah pemuda 28 Oktober 1928. Jadi untuk memahami lagu perjuangan sebaiknya dibarengi dengan pengetahuan sejarah perjuangan Indonesia secara utuh, sehingga identitas lagu-lagu perjuangan terlihat jelas kedudukannya. Beberapa tokoh pencipta lagu-lagu perjuangan bersifat monumental yaitu sbb.
1. Wage Rudolf Supratman.(1903-1938)
Pencipta lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ setelah tergugah hatinya membaca surat kabar Fajar Asia. Artikel itu menyatakan ‘mana ada komponis bangsa kita yang mampu menciptakan lagu ‘Kebangsaan Indonesia’ yang dapat menggugah semangat rakyat. Setelah tidak lama kemudian ia berhasil menciptakan lagu Indonesia Raya sesudah berkonsultasi dengan Ketua Himpunan pelajar Indonesia A. Sigit, Sugondo Djoyo Puspito dan Monomutu. Setelah mendapat izin Ketua kongres pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 berkumandang pertamakalinya karya monumental lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ digedung Indonesische Club jalan Kramat 106 Jakarta, setelah ikrar sumpah pemuda. Betapa hebatnya lagu itu berkumandang hingga peserta kongres pemuda memberi sambutan luar biasa, Supratman menerima ucapan selamat dan pelukan dari rekan-rekannya. Sebagai karya monumental lambang negara pada tanggal 17 Agustus 1945 setelah pembacaan teks proklamasi oleh Sukarno maka, lagu “kebangsaan Indonesia Raya’ berkumandang mengiringi sangsaka merah putih sebagai hari kemerdekaan RI di Pegangsaan Timur Jakarta. Atas jasa-jasanya menciptakan lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ pada tanggal 28 Oktober tahun 1953 almarhum W.R. Supratman menerima anugerah penghargaan Bintang Maha Putera Klas III dari Pemerintah RI. Kemudian guna mengenang hasil perjuangannya menciptakan lagu ‘Kebangsaan Indonesia Raya’ Hari kelahiran W.R. Supratman tanggal 9 Maret oleh pemerintah RI diperingati sebagai hari Musik Nasional.

2. Kusbini (1910-1991)
Pencipta lagu ‘Bagimu Neg’ri’ sebagai lambang simbolis penandatanganan sumpah jabatan Kepala negara dan para pejabat berbakti dan mengabdi kepada negara RI. Lagu ini diciptakan atas permintaan Sukarno untuk mengimbangi lagu-lagu propaganda Jepang yang marak saat itu. Kusbini bekerja sebagai pemain biola dan penyiar taman kanak-kanak bersama Ibu Sud di Radio Houso Kanri Kyoku. Menurut Ki Suratman tahun 1943-1944 pemerintah Jepang melarang mengumandangkan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ maka lagu ‘Bagimu Neg’ri diperdengarkan sebagai pengganti sementara lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’. Lagu ini memiliki peranannya dimasa revolusi Indonesia tahun 1945. Atas jasa-jasanya dibidang musik Kusbini memperoleh penghargaan piagam Anugerah Seni dari Pemerintah RI.
3. Cornel Simanjuntak (1920-1946)
Pencipta lagu ‘Maju tak Gentar’ asal mulanya lagu Maju putera-puteri Indonesia’ propaganda Jepang. Untuk mendukung revolusi tahun 1945 judul dan syairnya diubah oleh penciptanya seperti sekarang yang berkumandang memepringati HUT RI 17 Agustus setiap tahunnya. Lagu ini dimaksudkan untuk memotivasi rakyat perang semesta guna membangkitkan semangat membela tanah air, yang secara realitas sering ditampilkan potret pertempuran melawan sekutu dan Belanda yang tidak seimbang. Menurut Franz Seda dan Alex Rumambi lagu ini menjadi terkenal di front Tentara Pelajar Yogyakarta yang mampu membakar semanagat pejuang di medan pertempuran. Lagu ‘Maju tak Gentar’ menggambarkan keberanian rakyat dengan perlengkapan seadanya melawan Belandayang bersenjatakan lengkap dan modern, tapi dengan jiwa semangat lagu ini mampu membangkitkan pejuang digaris depan.Atas jasa-jasanya pada pemerintah RI tahun 1961 menerima kehormatan piagam Satya lencana Kebudayaan, setingkat bintang Gerilya.
4. Ismail Marzuki (19134-1958)
Pencipta lagu ‘Hallo-hallo Bandung’ Lagu ini sangat populer dibawah kom…ando H.A. Nasution dengan sandi opersi Bandung rebut kembali 24 Maret 1946 melawan tentara Belanda dan Sekutu, atas jasa-jasanya pemerintah menganugerahkan penghormatan piagam Wijaya Kusuma dan pada tahun 2007 menerima tanda jasa Bintang Budaya Parama Dharma dari pemerintah RI. Lagu ini bersifat lokal berskala nasional mampu menunjukan jati diri bangsa dengan gagah berani memotivasi perjuangan masyarakat Jawa Barat mengusir penjajah. lagu ini berkumandang setap peringatan HUT RI 17 Agustus setiap tahun dan memperingati Bandung Lautan Api setiap tanggal 24 Maret di Bandung.
5. Bintang Sudibyo atau Ibu Sud (1908-1993)
Salah satu wanita nasionalisme pencipta lagu-lagu perjuangan ‘Berkibarlah Benderaku’ dikumandangkan setiap 17 Agustus dalam rangka HUT RI. lagu ini diciptakan berdasarkan kisah nyata masa revolusi Indonesia 1945, setelah menyaksikan pengalaman Yusup Rono Dipuro pelaku sejarah rekaman teks proklamsi adalah pimpinan RRI yang mempertahankan sang saka merah putih berkibar dihalaman kantornya, meskipun dalam ancaman senjata para kaum penjajah. Atas jasa-jasanya dibidang musik tahun 2007 almarhumah Ibu Sud menerima anugerah penghargaan Bintang Budaya Paramadharma dari pemerintah RI. Selain itu Ibu Sud dikenal sebagai penyiar radio dan pencipta lagu anak-anak.
6. Liberty Manik (1924-1993)
Pencipta lagu ‘Satu Nusa Satu Bangsa’ seorang pemain biola, penyanyi, peny…iar radio RRI Yogyakarta, penulis buku dan jurnalis majalah Arena pimpinan Usmar Ismail 1946. Lagu ini diciptakan setelah menyaksikan semangat perjuangan rakyat mempertahakan kemerdekaan, sehngga lagu ini berisi anjuran persatuan dan kesatuan bangsa. Lagu ‘Satu Nusa Satu Bangsa’ pertamakali diperdengarkan lewat siaran radio tahun 1947, ketika beliau bekerja di RRI Yogyakarta saat hangat-hangatnya agresi Belanda I. Atas jasa-jasanya dalam karya monumental dibidang musik tahun 2007 almarhum menerima penghargaan bintang Budaya Paramadharma dari pemerintah RI.
7. Husein Mutahar (1916-2004)
Pencipta lagu ‘Syukur’ sejenis lagu himne puji syukur diciptakan dan dipersiapkan untuk menyambut kemerdekaan RI yang ketika itu diduganya hampir tercapai.Lagu ini pertamakali dikumandangkan th 1946 di Istana Gedung Agung Yogyakarta. H. Mutahar tokoh utama pendiri gerakan Pramuka Indonesia, dan seorang perancang paskibraka pertama kali di Indonesia yang beranggotakan pelajar dari berbagai daerah. H. Mutahar adalah mayor Laut ABRI,memiliki tanda jasa Bintang Gerilya tahun 1948-1949 dan Bintang Maha putera menyelamatkan bendera Pusaka dari tangan pendudukan Belanda di Yogyakarta.
8. DR. HC. Alfred Simanjuntak (1920)
Pencipta lagu ‘Bangun Pemudi Pemuda’ berfungsi sebagai kontra propaganda Jepang wlaupun ia berprofesi sebagai guru hampir sepanjang hidupnya. saat menulis lagu ini di tahun 1943 ia bekerja sebagai guru sekolah rakyat sempurna Indonesia di Semarang, sebuah sekolah dengan dasar jiwa pratriotisme yang didirikan DR. Barder Djohan, Mr. Wongsonegoro dan Prada Harahap. Lagu ‘Bangun Pemudi Pemuda’ digubahnya dalam suasana batin seorang anak yang gundah di negeri yang terjajah. Ide lagu ini diangkat Ketika tahun 1945 rasa ingin merdeka kuat sekali bila bertemu kawan, pemuda saling berucap salam merdeka tutur Alfred Simanjuntak. Bahkan menurut pengakuannya, lagu tersebut nyaris mengancam jiwannya. Sebab gara-gara lagu yang dinilai patriotik itu, nama Alfred Simanjuntak masuk daftar orang yang dicari Kempetai Jepang untuk dihabisi karena lagunya dianggap kontra propaganda Jepang.Hingga saat ini lagu ‘Bangun Pemudi Pemuda masih tetap dikumandangkan setiap perayaan Kemerdekaan 17 Agustus.
9. Amir Pasaribu.
Pencipta lagu ‘Andika bayangkari’ ialah seorang komponis dan pelopor musik klasik Indonesia. Mars defille ABRI ‘Andika Bhayangkari diperdengarkan pada detik-detik proklamasi 17 Agustus di Istana Negara. Amir Pasaribu telah berjasa dibidang musik sebagai tanda kehormatan Presiden RI Megawati Soekarno Putri pada tanggal 15 Agustus 2002 menganugerahi Bintang Budaya Pa adharma.

Ismail Marzuki

Posted in Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Intisari Lagu-lagu Perjuangan

Lagu-lagu Perjuangan adalah karya monumental, beberapa hal yang termasuk dalam kriteria tersebut. Pertama, lagu-lagu perjuangan Indonesia bersifat peringatan hari besar nasional sering dikumandangkan pada moment tertentu. Kedua, fungsinya meningkatkan kewibawaan pencipta dan lingkungannya. Diindentifikasikan melalui proses yang panjang dari pengakuan pemerintah dan publik, sekaligus penghargaan yang diterima oleh para penciptanya. Ketiga, eksistensi karya seni yang bersangkutan telah dibahas melalui opini publik, media massa, buku, seminar dan diskusi.[1] Lagu-lagu perjuangan dalam rangka Sapta Usaha Tama, Menteri Muda Dep. P dan K. telah mengeluarkan Instruksi No. 1 tanggal 17 April 1960 yang ditujukan kepada seluruh sekolah-sekolah agar mempelajari dan menyanyikan lagu-lagu wajib nasional yang berjumlah tujuh buah. Setelah adanya perkembangan di Indonesia, maka jumlah lagu-lagu wajib nasional berjumlah menjadi 16 buah.

Lagu-lagu perjuangan saat ini seperti panggang jauh dari api, semakin jauh semakin dilupakan. Pada umumnya lagu-lagu dikenal oleh masyarakat Indonesia secara hafalan baik melodi maupun syairnya. Karena tidak pernah dijelaskan latar belakang lagu-lagu itu muncul, dan bagaimana terjadi proses terciptanya sehingga orang memahami dengan latar belakang peristiwa saat itu, yang secara umum penulis lagu tersebut adalah seorang pejuang.

Pengamatan interpretasi lagu dengan revitalisasi sejarah perjuangan muncul ketika kita masuk museum Venderburg Yogyakarta melihat diorama perjuangan lewat audio visual dan sinopsis peristiwa yang dibacakan dengan iringan musik lagu perjuangan. Selain itu memahami sejarah prakemerdekaan saat menyanyikan lagu ‘Indoesia Raya’ lagu ini juga menggambarkan sumpah pemuda 28 Oktober 1928.[2] Jadi untuk memahami lagu perjuangan sebaiknya dibarengi dengan pengetahuan sejarah perjuangan Indonesia secara utuh, sehingga identitas lagu-lagu perjuangan terlihat jelas kedudukannya. (Alex Wisnu Mintargo)

[1] Supriatun. Pedoman Nasah Porto Folio Karya Seni Monumental/Pertunjukan. (Jakarta:Depdiknas, 2008), hal. 9.

[2] Sutrisno Kutojo dan Mardanas Safwan. Pahlawan Nasional W.R. Supratman (Jakarta: Mutiara, 1978), hal. 70.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Intisari Lagu-lagu Perjuangan Lagu-lagu Perjuangan adalah karya monumental, beberapa hal yang termasuk dalam kriteria tersebut. Pertama, lagu-lagu perjuangan Indonesia bersifat peringatan hari besar nasional sering dikumandangkan pada moment tertentu. Kedua, fungsinya meningkatkan kewibawaan pencipta dan lingkungannya. Diindentifikasikan melalui proses yang panjang dari pengakuan pemerintah dan publik, sekaligus penghargaan yang diterima oleh para penciptanya. Ketiga, eksistensi karya seni yang bersangkutan telah dibahas melalui opini publik, media massa, buku, seminar dan diskusi.[1] Lagu-lagu perjuangan dalam rangka Sapta Usaha Tama, Menteri Muda Dep. P dan K. telah mengeluarkan Instruksi No. 1 tanggal 17 April 1960 yang ditujukan kepada seluruh sekolah-sekolah agar mempelajari dan menyanyikan lagu-lagu wajib nasional yang berjumlah tujuh buah. Setelah adanya perkembangan di Indonesia, maka jumlah lagu-lagu wajib nasional berjumlah menjadi 16 buah. Lagu-lagu perjuangan saat ini seperti panggang jauh dari api, semakin jauh semakin dilupakan. Pada umumnya lagu-lagu dikenal oleh masyarakat Indonesia secara hafalan baik melodi maupun syairnya. Karena tidak pernah dijelaskan latar belakang lagu-lagu itu muncul, dan bagaimana terjadi proses terciptanya sehingga orang memahami dengan latar belakang peristiwa saat itu, yang secara umum penulis lagu tersebut adalah seorang pejuang. Pengamatan interpretasi lagu dengan revitalisasi sejarah perjuangan muncul ketika kita masuk museum Venderburg Yogyakarta melihat diorama perjuangan lewat audio visual dan sinopsis peristiwa yang dibacakan dengan iringan musik lagu perjuangan. Selain itu memahami sejarah prakemerdekaan saat menyanyikan lagu ‘Indoesia Raya’ lagu ini juga menggambarkan sumpah pemuda 28 Oktober 1928.[2] Jadi untuk memahami lagu perjuangan sebaiknya dibarengi dengan pengetahuan sejarah perjuangan Indonesia secara utuh, sehingga identitas lagu-lagu perjuangan terlihat jelas kedudukannya. (Alex Wisnu Mintargo) [1] Supriatun. Pedoman Nasah Porto Folio Karya Seni Monumental/Pertunjukan. (Jakarta:Depdiknas, 2008), hal. 9. [2] Sutrisno Kutojo dan Mardanas Safwan. Pahlawan Nasional W.R. Supratman (Jakarta: Mutiara, 1978), hal. 70.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Biodata Wisnu Mintargo

Nama Lengkap : Wisnu Mintargo
NIP : 195608271991121001
Pangkat Golongan : Pembina, IV a.
Jabatan : Lektor Kepala
Alamat : Kadipaten Wetan KP I/176 A. Yogyakarta
Telpon/HP : 08153502523
Email : Wis_num@ Yahoo.com

Keluarga
Istri : Mumun Kusinah
Anak : Indah Nur Mariam. Ajeng Annisa saraswati, Muhamad Dimas Mintargo.

A. Riwayat Pendidikan

Tahun 1971 : Lulus SD. Dewi Sartika III Kodya Bogor (Jawa-Barat)

Tahun 1974 : Lulus SMP Islam Teladan Kodya Palembang (Sum-Sel)

Tahun 1977 : Lulus SMEA Taman Siswa Rawamangun (Jak-Tim) dan
Sekolah Pariwisata Indonesia Kramat IV. No. 50 (Jak-Pus)

Tahun 1980 : Lulus D-III Institut Pariwisata Indonesia Yogyakarta

Tahun 1989 : Lulus S-1 Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jur. Musik
Judul Skripsi: Program Pengajaran Gitar pada Program Pen didikan Seni Musik S-1 di IKIP Negeri Yogyakarta.

Tahun 1996 : Lulus mendapat sertipikat Akta V di IKIP Negeri Padang.

Tahun 2001 : Lulus S-2 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa UGM Yogyakarta. Judul Tesis : Fungsi Lagu Perjuangan Indonesia dalam Konteks Kemerdekaan Tahun 1945-1949.

Tahun 2009 : Sekolah Pascasarjana Studi S-3 Fak. Multi Disiplin Prodi Seni Pertunjukan & Seni Rupa UGM Yogyakarta.

B. Pengalaman Mengajar

1. Th 1990 s/d 2004 sebagai tenaga edukatif di Jurusan Musik STSI Padangpanjang mengajar sebagai berikut.

- Pengetahuan Musik I, II
- Sejarah Musik I, II
- Metode Klas Musik
- Musik Melayu
- Direksi Koor/Orkes
– Orkestrasi I, II
– Mayor Tiup Logam
– Mayor Gitar
– Metode Klas Gitar
– Seni Pertunjukan Indonesia
– Managemen Pergelaran I, II
– Ansambel/Orkes III, IV.
2. Th 1993 s/d 1997 sebagai tenaga pengajar Program Pendidikan Kesenian Jangka Pendek (PPKJP) untuk guru kesenian SD, SLTP Propinsi Sum-Bar & Riau sbb.

- - Praktek Arransemen Musik
- - Teori Musik

3. Tahun 1995 s/d 2009 mutasi sebagai tenaga pengajar di ISI Surakarta mengajar

– Praktek Instrumen Barat I, II
– Musik Etnik Nusantara III, IV
– Managemen Organisasi Pergelaran
– Teori Musik barat I
– Musikologi Barat III
– Musik Tradisional (Prodi TV)
.
C . Penelitian

1. Tahun 1994 : Karakteristik Lagu-lagu Komponis Zaman Revolusi

2. Tahun 1995 : Pengaruh Kualitas Alat Musik Gesek Terhadap Proses Belajar Mengajar di ASKI Padangpanjang.

3. Tahun 1997 : Pengaruh Kualitas Alat Musik Tiup Terhadap Proses Belajar Mengajar di ASKI Padangpanjang

4. Tahun 2004 : Hiba Penliti Muda DIKTI “Pemahaman Nasionalisme Dalam Rekonstruksi Sejarah Lagu Perjuangan Indonesia”.

D. Karya Ilmiah

1. Tahun 1997 :Edisi Jurnal Palanta Seni Budaya No. 2. ASKI Padangpanjang.‘Pemikiran Lanjutan tentang Perpaduan Musik Assimilasi II’.

2. Tahun 1998 :D iktat Pengetahuan Musik ASKI Padangpanjang

3. Tahun 2000 :Edisi Jurnal Seni Palanta Seni Budaya No. 6 STSI Padangpanjang.‘Lagu Perjuangan Sebagai Media Propaganda’

4. Tahun 2001 :Tesis S-2 UGM Yogyakarta. ‘ Fungsi Lagu Lagu perjuangan Indonesia dalam Konteks Kemerdekaan Tahun 1945-1949’.

5. Tahun 2002 :Edisi Jurnal Racmi.Vol. 2. No. 2. PPG Yogyakarta ‘Peranan lagu-lagu perjuangan terhadap Pemahaman pendidikan kesadaran nasionalisme di Indonesia’.

6. Tahun 2002 :Edisi Jurnal Racmi. Vol. 2. No. 3. PPG Yogyakarta. ‘Tiga Perempat Abad Perjalanan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya mempersatukan Bangsa’

7. Tahun 2002 :P idato Ilmiah Sidang Senat Terbuka Wisuda Tingkat Sarjana S-I Periode I Tgl 30 Desember, di STSI Padangpanjang. ‘Tiga Perempat Abad Lagu Kebanagsaan Indonesia Raya Berjuang mempersatukan Bangsa’.

8. Tahun 2003 :Edisi Jurnal Humaniora. Vol. XV. No. 1, Fakultas Ilmu Budaya UGM Yogyakarta. ‘Lagu Propaganda dalam Revolusi Indonesia: 1945-1949.

9. Tahun 2003 :Edisi Jurnal Seni. Pengetahuan dan Penciptaan Seni. Vol. IX, No. 4. ISI Yogyakarta. ‘Perjalanan sejarah Lagu-lagu Perjuangan Indonesia dalam Konteks persatuan Bangsa’.

10. Tahun 2004 :Edisi Jurnal Racmi. Vol. 4, no. 1, Mei 2004. Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Yogyakarta. ‘Bagimu Neg’ri’ Lagu Seremonial Bersifat Kenegaraan’.

11. Tahun 2005 : Membuat buku Silabus Praktek Instrumen Gitar dalam mata kuliah Prektek Instrumen Barat I & II Etnomusikologi

12. Tahun 2006 : Edisi Jurnal Racmi Vol. 05 No. 1 Mei 2006 Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Yogyakarta. “Pendidikan Seni di Sekolah Tujuan dan Keberadaannya”

13. Tahun 2007 : Juara Lomba Penulisan Ilmiah Dosen Muda. “Pariwisata Berbasis Budaya, Pelayanan Berwawasan Lingkungan” dari Asosiasi Akademisi Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia (ASASI), dan dipublikasikan di Harian Kedaulatan Rakyat.

14. Tahun 2007 : Edisi Jurnal Ilmiah Seni & Budaya Panggung STSI Bandung. Vol. 17 No. 3 Oktober- Januari 2008.(Tterakreditasi). “Hallo-hallo Bandung Lagu Konstruktif Peristiwa Bandung Lautan Api 1946”

15. Tahun 2007 : Edisi Jurnal Pengetahuan, Pemikiran & Kajian Tentang Bunyi Keteg ISI Surakarta. Vol. 7 No. 2 Nopember 2007.”Musik Keroncong, Akulturasi Budaya Timur dan Barat”

16. Tahun 2007 : Edisi Jurnal Pengetahuan, Pemikiran & Kajian Tentang Bunyi Keteg ISI Surakarta Vol. 8 no. 1 Mei 2008. “Pengetahuan Ekspresi Karya Musik”

17. Tahun 2008 : Menerbitkan Buku “Musik Revolusi Indonesia” diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Ombak Yogyakarta ISBN. 978-979-3472-98-0

E. Karya Seni

1. Tahun 1996 : Komposisi musik ‘Cokek Betawi’ pada Festival Orkes Simponi
di Institut Teknologi MARA Shah Alam Selangor Malaysia

2. Tahun 1997 : Komposisi ‘Assimilasi II’ Yogyakarta International Gamelan
Festival FKY IX

3. Tahun 1998 : Komposisi Musik ‘Desain Struktur’ Festival Musik Dies Natalis
XXXIV STSI Surakarta.

4. Tahun 1991 : Arransemen ‘Cavatina’ cipt. Stanley Sadie untuk Orkes Simponi ASKI di Jurusan Musik di Universitas Nommensen Medan.

5. 5. Tahun 1996 : Arransemen ‘Irama desa’ cipt. M Embut untuk orkes dan solist
sopran Siti Chairani di ITM, Gedung Experimental kuala lum pur dan di Akademi seni malaka Malaysia.

6. Tahun 1995 : Orkestrasi Overtur der Calif von Bagdad cipt. A. Boieldie untuk
Orkes simponi pada Festival Istiqlal II, Conductor Jazeed Jamin

7. Tahun 1998 : Orkestrasi Cavalleria Rusticana (Santuzza)cipt. Pietro Mascagni
Orkestra Gabungan ITM & ASKI pada Dies Natalis ASKI di Padangpanjang. Solist Soprano Siti Chairani Dosen ITM Malaysia

8. Tahun 2004 : Ilustrator Musik Teater ‘ Jambo’ Karya/Sutradara Sulaiman Juned, S.Sn. Di Gedung Hoerijah Adam STSI Padangpanjang.

F. Kegiatan Profesi

1. Tahun 1992 : Peserta Simposium Sehari di ASKI Padangpanjang

2. Tahun 1993 : Penata Musik lapangan Festival Tari Mhs TK. Nasional di ASKI Padangpanjang

3. Tahun 1993 : Ketua Dewan Juri Under Coper 93 di Padangpanjang

4. Tahun 1993 : Dewan Juri Panggung Musik Desember 93 di Padangpanjang

5. Tahun 1994 : Juri I Gebyar Seni Rescoutic Club 94 di Padangpanjang

6. Tahun 1994 : Peserta Penataran Pemantapan Tenaga Peneliti Staf Pengajar ASKI Padangpanjang.

7. Tahun 1994 : Arranger & Orkestrasi Ujian Akhir Mahasiswa Jurusan Musik ASKI Padangpanjang.

8. Tahun 1994 : Juri I Pentas Seni 94 Fantastic Club di Padangpanjang

9. Tahun 1994 : Pelatih DrumBand SMP Negeri III Gunung Padangpanjang

10 Tahun 1994 : Juri Festval Musik Rock Wilayah..Sumatera Barat dan Riau di Payakumbuh.

10. Tahun 1994 : Panitia Koord. Seksi Dana Lomba Lagu Rakyat Perguruan Tinggi TK. Nasional di Padangpanjang

11. Tahun 1995 : Arranger dan pemain Orkes Simphony Semen Padang dalam rangka 50 Tahun R.I. di Padang

12. Tahun 1995 : Juri Lomba Lagu Minang Dies ke-30 ASKI Padangpanjang

13 Tahun 1996 : Pelatih Drum Band perguruan Diniyah Puteri Padangpanjang

13. Tahun 1996 : Pembimbing Latihan Ketrampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar ASKI Padangpanjang

14. Tahun 1996 : Juri Festival Electone Yamaha Tk. Sumatera Barat di Padang

15. Tahun 1996 : Komposer, Arranger dan peserta Festival Orkes Simphoni Institut Teknologi MARA Shah Alam Selangor darul Ehsan Malaysia

16. Tahun 1996 : Pelatih Marching Band Sekolah Perikanan SPPN Pariman

17. Tahun 1997 : Pelatih Drum Band SMA Muhammadiya Padangpanjang

18. Tahun 1997 : Sekretaris UPT Gedung Pertunjukan Festival Seni Mahsiswa Tingkat Nasional di ASKI Padangpanjang

19. Tahun 1997 : Wakil Ketua Bidang Dana Festival Seni Mahasiswa Tingkat Nasional di ASKI Padangpanjang

20. Tahun 1997 : Peserta Seminar Internasional “Paradigma Pendidikan Kesenian, Beberapa Problema” di ASKI Padangpanjang

21.. Tahun 1998 : Pelatih Drum Band SMP Negeri I Bukittnggi.

22. Tahun 1998 : Peserta Diskusi Gebyar Musik Islam di Medan

23. Tahun 1998 :Komposer Gebyar Musik Islam di Medan

24. Tahun 1998 : Juri Bintang Radio Dewsa Tingkat Propinsi Jawa Tengah di Semarang

25. Tahun 1998 : Peserta Seminar Sehari Fak Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta

26. Tahun 1998 : Peserta Simposium Internasional Ilmu-ilmu Humaniora Ke-5 Fak. Sastra UGM Yogyakarta

27. Tahun 1999 : Peserta Seminar Sehari Festival dan Konferensi XX Liga Komponis Asia di Yogyakarta

28. Tahun 2000 : Peserta Kegiatan Pelatihan Intensive Internet dejava di Yogyakarta

29. Tahun 2003 : Koord Orkes Simphoni STSI Padangpanjang dalam Festival Kesenian Indonesia III di STKW Surabaya.

30 Tahun 2003 : Peserta Seminar Festival Kesenian Indonesia III di Surabaya

31. Tahun 2007 : Juri Lomba Lagu Keroncong Tk. SLTA Kabupaten Klaten

32. Tahun 2007 : Juri Pentas Seni Penyandang cacat Sejawa Tengah di Boyolali

33. Tahun 2008 : Juri Festival Band Siswa Berbakat Istimewa Tingkat Nasional diselenggarakan Depdiknas di yogyakarta

34. Tahun 2009 : Peserta Launching dan Bedah Buku di Sekolah Pascasarjana UGM di Yogyakarta.

G. Riwayat Pekerjaan dan Pengalaman Organisasi

1. Tahun 1995 s/d 1998 menjabat sebagai Sekretaris UPT Pertunjukan ASKI Padangpanjang telah melakukan kegiatan dan kerjasama sponsor sebagai berikut.

- – Tahun 1995 Ketua Tim Kesenian Peksiminas festival Orkes Simponi ke Jakarta.atas bantuan dan kerjasama Pemda Sumatera Barat, Orkes Simponi Padang, Cempaka Kosmetik.
-
- Tahun 1996 Ketua Tim Kesenian ASKI Padangpanjang ke Malaysia atas bantuan dan kerjasama Dinas Pariwisata Sumatera-Barat, Gubernur Sumatera Barat, PT. Semen Padang dan Institut Teknologi MARA Malaysia.
-
- Tahun 1997 Ketua Tim Kesenian FKY IX di Yogyakarta pada International Gamelan Festival atas bantuan dan kerjasama ASTEK Departemen Tenaga Kerja Bapak Menaker Abdul Latief, PT. Semen Padang, Pemda Kabupaten seluruh Sumatera Barat dalam bentuk bantuan donatur dan sponsor dari ASTEK dan Dinas Pariwisata Sumatera Barat.
-
- Tahun 1998 Ketua Tim Kesenian Festival Musik Dies Natalis STSI Surakarta XXXIV di Surakarta atas bantuan dan kerjasama STSI Surakarta, donatur seluruh Pemda Kabupaten Sumatera Barat.

– Tahun 1996 s/d 1998 Manager Marketing SCP Theatre Bukittinggi

- Tahun 2003. Ketua Tim Kesenian Pada Festival Orkes Simponi BKS Perguruan Tinggi Seni Indonesia. dalam Festival Kesenian III di STKW Wilwatikta Surabaya
-
- Tahun 2004. Pimpinan Produksi Ujian S-2 STSI Surakarta‘Gondang Sapuarar’ Karya Dra. Rosmegawaty Tindaon atas bantuan dan kerja sama BRI di Padangpanjang.
-
- 2. Tahun 1998 Sekretaris UPT Dokumentasi/Inventarisasi/Humas STSI Padangpanjang.

H. Kegiatan Sosial

1. Tahun 2002 :Sekretaris RW 07 Periode 2002-2005 Kel. Kadipaten. Kec. Kraton Kota Yogyakarta

2. Tahun 2005 :Ketua RW 07 Periode 2005-2008 Kel. Kadipaten Kec. Kraton Kota Yogyakarta.

3. Tahun 2006 :Ketua Pengurus Koperasi Serba Usaha Mitra Kencana BKM Periode 2006-2011. Kel. Kadipaten. Kec. Kraton Kota Yogyakarta

4. Tahun 2006 :Ketua KPPS Pemilihan Pilkada Wali Kota dan Wakil Wali Kota Yogyakarta.

5.Tahun 2008 :Ketua II. Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Periode 2008-2013. Kelurahan Kadipaten Kecamatan Kraton Kota Yogyakarta.

Demikian surat pernyataan biodata riwayat hidup ini saya buat dengan sebenar-sebenarnya berdasarkan pengalaman dan data yang diperoleh selama ini, sekian dan terimakasih.

Yogyakarta, 2 Mei 2010

Drs. Wisnu Mintargo, M.Hum

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Jurnal Palanta ASKI Padangpanjang No:2 Th. 2 September 1997.PEMIKIRAN LANJUTAN TENTANG PERPADUAN MUSIK (Karya MusikAsimilasi II)

PEMIKIRAN LANJUTAN TENTANG PERPADUAN MUSIK

(Karya Musik “Assimilasi II”)

Sebagaimana pada jurnal yang lalu, Yoesbar Djaelani menulis tentang konsep komposisi musik karyanya berjudul “Assimilasi” yang ditampilkan pada Yogyakarta International Gamelan Festival 1995, maka untuk melanjutkan ide gagasan tersebut pada kesempatan mengikuti festival yang sama bulan Juli 1997, saya menggarap komposisi musik yang berdasarkan proses pengembangan dari yang telah lalu. Karya komposisi musik Assimilasi II akhirnya digarap oleh dua orang: Wisnu Mintergo dan I Dewa Nyoman Supenida. Pergelaran Assimilasi II ditampilkan pada tanggal 4 Juli 1997 di Gedung Pertunjukkan Purna Budaya UGM Bulaksumur D.I. Yogyakarta, seiring dengan Festival Kesenian Yogyakarta IX 1997.

Karya komposisi musik Assimilasi II merupakan kelanjutan dari konsep yang telah ada sebelumnya yang telah ditulis secara rinci oleh Yoesbar Djaelani, yaitu mencari titik temu dari tiga konsep musik tradisional yang berasal dari berbagai latar belakang menuju arah kesempurnaan baik secara konseptual maupun estetika. Tiga konsep musik yang digarap itu adalah: Musik Tradisional Minangkabau berupa Talempong Gandang Aguang, Indang Pariaman, Rabab Pasisia, Saluang, dan Dendang; Gamelan Jawa dan Bali; dan Musik Barat (musik diatonis). Perpaduan yang dimaksud diarahkan kepada perpaduan nada-nada yang diproduksi oleh masing-masing instrumen musikal dan vokal tersusun dalam rangkaian Jalua, Laras Pelog, dan Selendro, dan tangga nada diatonis musik Barat.

Berangkat dari kenyataan ini tentunya dapat peluang bagi ASKI Padangpanjang untuk memasukkan seluruh Jalua (sistem tangga nada) musik tradisional Minangkabau yang ada untuk mencapai suatu tujuan eksistensinya di Nusantara.

Festival Gamelan yang berlangsung dari tanggal 2 – 6 Juli 1997 dihadiri oleh para pakar musik, masyarakat pencinta gamelan dan karya-karya musik baru (kreasi), para duta seni dari dalam dan luar negeri seperti USA, Canada, Perancis, Belanda, Australia, Jepang, Singapura. Dari dalam negeri di hadiri oleh sivitas Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung, Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, Universitas HKBP Nonmensen Medan, Sekolah Tinggi Seni Wilwatikta (STKW) Surabaya, Group Kesenian Komunitas Seni Tadulako Palu, Group dari Jakarta, dan lain-lain.

Perkembangan musik di Indonesia pada abad XVIII dan XIX berada pada situasi yang cukup unik, tidak satupun negara lain dengan keanekaragaman budaya etnis seperti negara Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya ciri khas budaya lisan yang berkembang, dikotomi antara pengertian tradisi dan modern bahkan kontemporer, ditambah banyaknya kerumitan pengertian budaya nasional dan sejumlah budaya daerah. Disisi lain berkembangnya pengaruh Barat dalam bidang musik populer maupun musik lainnya (Dieter Mack, 1995 : 495).

Keanekaragaman budaya musikal menjadi penting dalam upaya penggarapan komposisi musik Assimilasi II sebagaimana juga pada komposisi musik Assimilasi I. Konsep yang dikembangkan sebagai unsur-unsur penting dalam keanekaragaman budaya dikerjakan oleh sumber daya di ASKI Padangpanjang yang berlatar belakang budaya etnis Minangkabau, Bali, dan Jawa. Atas kerjasama itu terciptalah karya komposisi musik Assimilasi II.

Kekuatan yang dimiliki ketiga etnik ini menimbulkan suasana baru bagi ASKI Padangpanjang, karena disisi lain pembaharuan dalam garapan komposisi Assimilasi II melibatkan metode ilmu musik konvensional yaitu cara mempelajari desain struktur dan desain dramatis sebagai konsep, sedangkan peran musik Minangkabau menjadi tema utama pada komposisi ini.

A. Musik Tradisonal Minangkabau

Dasar garapan karya komposisi musik ini melibatkan tradisi musik diberbagai sub etnik Minangkabau, etnik Jawa, dan etnik Bali. Beberapa tradisi musik Minangkabau yang dipergunakan untuk komposisi musik ini adalah: Talempong Gandang Aguang, yaitu salah satu musik tradisional yang terdapat di daerah Sialang, Kecematan Kapur IX, Kabupaten 50 kota, Sumatera Barat yang tumbuh dan berkembang ditengah-tengah masyarakat Sialang (Herawati, Skar, 1995 : 17). Dua lagu yang dipilih pada komposisi musik Assimilasi II lagu Siamang Babunyi dan lagu Timang Baju.

Talempong Pacik, secara umum banyak dipergunakan dalam menanti tamu dan acara lainnya yang menyangkut acara hiburan (Bahrul Padek,SH., 1993 : 22).

Rabab Pasisia berkembang di lingkungan Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Pada konteks perkembangan sekarang ini, masyarakat Pesisir Selatan baik tua maupun muda cukup bangga dengan musik Rabab Pasisia yang dimiliki daerahnya. Mereka dapat terhibur dengan penyajian jenis ini karena materi musikal dan teksnya sangat komunikatif dengan generasi muda, tua, dan anak-anak. Oleh sebab itu seni pertunjukkan seperti itu memiliki fungsi hiburan yang tinggi bagi penikmatnya. Kesenian ini selalu diundang untuk memeriahkan berbagai konteks keramaian upacara atau Alek (Drs. Hajizar, 1995 : 136).

Saluang Darek, adalah jenis alat-alat musik tiup yang berkembang di Luhak Nan Tigo, yaitu Luhak Tanah Datar, Agam, dan Limo Puluan. Bagi masyarakat pencinta seni ini menyebutkan suatu pertunjukkan Saluang dengan Basaluang. Pertunjukkan bersifat memenuhi kebutuhan masyarakat tradisional, dan secara spesifik dalam suatu pertunjukkan Saluang Bagurau terhidang pantun-pantun yang dapat melibatkan para penggemarnya (Andar, 1995 : 2).

Beberapa unsur dendang yang lain diangkat dari dendang-dendang tradisional, diantaranya: Muaro Peti (Luhak 50 Koto); Sirompak (Luhak Limo 50 Koto); Dampeang (Kabupaten Padang Pariaman); Ragam Duiya (Kabupaten Padang Pariaman) (Misda Elina, 1985 : 10).

B. Musik Bali

Musik dari etnik Bali diarahkan kepada gaya kebyar. Latar belakang sejarah gaya kebyar terdapat diberbagai tulisan, diantaranya Collin Mc Phee, Ruby Sue Ornstein. Secara sekilas bisa dikatakan bahwa kebyar berkembang pada abad ke-20 (tahun 1915) di Bali, walaupun kecenderungan ke arah sana sudah berkembang sebelumnya. Perkembangan gaya ini berhubungan dengan pengaruh penjajahan Belanda dalam arti bahwa suatu unsur cara kehidupan menjadi kondusif untuk suatu ekspresi yang baru. Walaupun gaya kebyar lazimnya dapat dikaitkan dengan suatu perangkat alat gamelan yang spesifik, istilah kebyar harus diartikan lebih umum (Dieter Mack, op.cit, hal 517).

Gaya kebyar merupakan suatu gaya musik yang sepenuhnya duniawi dan pada mulanya mengarahkan sejumlah karya instrumental digunakan untuk iringan tari. Gaya kebyar cepat sekali menyebar di seluruh Bali dan pada akhir tahun 1920 kelihatan menjadi milik masyarakat. Gamelan kebyar sesungguhnya sebagai instrumen yang bebas dipergunakan dalam berkreativitas dan tidak diikat oleh peristiwa keagamaan atau upacara (IDN, Supenida, SSKar Wawancara 1997).

Unsur-unsur gamelan kebyar yang diangkat dalam komposisi Assimilasi II dalam konsep desain struktur dipakai pada bagian klimaks introduction dan coda yang mampu berdiri sendiri disebut dengan istilah Auxillary Member bukan bagian dari tubuh lagu. Fungsi gamelan kebyar padakomposisi Assimilasi Iimerupakan salah satu gebrakan bagian klimaks pembukaan dan bagian akhir penutup lagu, yang diharapkan terkesan megah dan ekspresive.

Dalam karya komposisi musik ini dipergunakan beberapa instrumen kebyar yaitu penyacah, gong, reong, kejar, dan cengceng.

C. Musik Jawa dan Barat

Silang budaya antara gamelan Jawa dengan musik Eropa dimulai pada pertemuan suatu terompet dan musik gesek Eropa yang dimainkan oleh para pelaut kapal layar seperti Francis Drake, Coenelis de Houtman, Jacob Van Eck yang mendarat di peisisir Jawa pada akhir abad XVI. Kemudian kedatangan bangsa Portugis, sambil berdagang mengenalkan berbagai musik Eropa seperti musik gereja dan musik sekuler.

Pada abad XVIII dan XIXI, musik Eropa dan gamelan ditempatkan di bawah atap yang sama, tetapi pada umumnya mereka memainkan lagunya sendiri-sendiri, bersamaan atau berurutan. Seolah-olah mereka mempertahankan diri dan terkesan satu dengan yang lainnya berkompetisi. Gending Mares Prajurit dan Wigati merupakan contoh perpaduan kedua bentuk musik yang pernah dilakukan orang Jawa dan orang Eropa. Peristiwa itu terjadi pada periode Sri Sultan Hamengkubuwono V (1823 – 1855). Permainan alat tiup hanya menduplikasi lagu saron, gendangnya menambah suatu ritme ulang yang sederhana dengan tekanan menjelang bunyi gong.

Terkesan pula keterbatasan pengolahan musikal alat tiup Eropa dalam gending mares adalah irama. Permainannya hanya terbatas pada irama Tanggung (Sumarsam, 1997 : 2).

Peristiwa perpaduan musik sebagaimana yang ditulis di atas dapat ditinjau kembali, barangkali kasus seperti itu dapat dipelajari dalam komposisi musik Assimilasi II, yaitu perpaduan dua jenis instrumen: Saron Barung Laras Pelog dan Salendro, gendang dan gender, terompet, alto saxophone, french horn, tenor saxophone dan trombone.

Landasan ilmu yang melandasi proses pembuatan komposisi Assimilasi II ialah: Ilmu harmoni, dipergunakan memecahkan masalah perpaduan nada-nada yang harmonis, kontrapung, ilmu yang dipergunakan untuk membahas tentang perlawanan nada-nada, ilmu bentuk analisa musik, dipergunakan untuk membahas tentang struktur makro ataupun mikro dalam orkestrasi serta menjelaskan tentang perpaduan berbagai macam instrumen.

Pembahasan pada bagian ini menekankan sifat analisis dan teknis. Untuk jelasnya uraian ini maka selanjutnya disesuaikan dengan proses yang dilalui dalam membuat garapan komposisi musik Assimilasi II sebagai berikut :

1. Penjelajahan

Langkah pertama yang harus dilakukan membuat sistem penalaan (steming) berbagai jenis instrumen seperti talempong, saluang, sarunai, rebab, siter, terompet, alto saxsophone, french horn, tenor saxophone, dan trombone. Instrumen itu disesuaikan dengan berorientasi kepada laras pelog dan salendro. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan nada gamelan yang tidak mungkin dirubah untuk disesuaikan dengan instrumen lainnya, kecuali talempong misalnya.

Ketiga jenis instrumen yang berbeda-beda itu diproses melalui reportoar yang dipilih kemudian mencarai kesamaanya dalam rangkaian laras Jalua, laras Pelog/Salendro, dan tangga nada diatonis. Untuk menyamakan kedudukan seluruh jenis alat, maka orientasinya diarahkan kepada sistem tangga nada pelog dan salendro.

Dengan memiliki notasi ketiga larat di atas, penjelajahan untuk mencari Balung melodi inti berpedoman kepada sebuah gending. Balung yang dibawakan oleh permainan saron dalam gamelan Jawa, sedangkan pada gamelan kebyar dibawakan oleh Penyacah dan Pengisep. Instrumen tersebut menjadi patokan bermain bagi permainan instrumen gamelan lainnya. Balung selalu disusun dalam gatra, sehingga komposisi gamelan lebih dikenal memiliki akar balung 4 dan akar balung 8. Dengan demikian peranan balung merupakan nyawa dari sebuah komposisi gamelan. Untuk menyesuaikannya, karena itu lagu Timang Baju, Siamang Babunyi, Talempong Gandang Aguang, Dendang Muaro Peti, dan Ragam Duiya, dibuatkan balungannya agar bisa menyatu dengan gamelan. Sedangkan akar balung 8 khusus dipergunakan pada dendang sirompak.

2. Konsep Desain

Ide yang kedua dalam membuat struktur bagaimana menyusun urutan-urutan materi bahan komponen lagu yang akan diolah. Kerumitan yang dijumpai dalam menggarap komposisi ini dijumpai pada perpindahan dari satu melodi ke melodi yang lain dengan tonika yang berbeda, ditambah pula dengan permainan modulasi. Problem lain menyangkut teknik mengembangkan tema kontras dengan mempergunakan jembatan (bridge pasage) yang memerlukan pengamatan dan pertimbangan yang hati-hati tanpa merusak struktur komposisi. Sedangkan penyusunan bentuk makro dan mikro yang menentukan kesatuan suatu komposisi musik harus mengacu pula kepada desain drametik yang akan diwujudkan.

3. Analisis Struktur Komposisi

Bagian introduktion tergolong kedalam intro independen yang mampu berdiri sendiri dan cukup panjang. Diawali dengan Talempong Gandang Aguang dengan lagu Timang Baju. Selanjutnya pengenalan gamelan kebyar dengan Talempong Pacik, dan alat tiup. Gamelan kebyar bermain dengan laras pelog dan Talempong Pacik yang memiliki register tinggi berperan sebagai harmonik ritmis. Warna bunyi gamelan diikuti oleh bunyi alat tiup logam yang berperan sebagai harmonik filler dan pembawa melodi utama. Kedua instrumen ini dianggap mampu bersaing sehingga didapat suasana yang klimaks dengan mempergunakan akar balung 4 laras pelog gamelan kebyar tanpa meninggalkan prinsip ciri tradisi musik Bali.

Pada bagian intro, instrumen tiup memainkan lagu Siamang Babunyi (Talempong Gandang Aguang) dan Talempong Pacik sebagai harmonik ritmik, serta gamelan kebyar pengiring.

Komponen lagu kalimat A makro, rebab dan gender bermain secara cadenza (penonjolan kemampuan teknis pemain). Rebab diikuti pula gender secara improvisasi dan bersahut-sahutan.

Kalimat B makro yang terdiri dari dua unsur komponen kalimat A dan kalimat B mikro. Perpaduan antara Saluang Darek dan Gender memperkenalkan paduan warna suara, disamping itu menjadi jembatan antara perpaduan instrumen Rebab ke instrumen Saluang Darek pada kalimat A mikro. Kalimat B mikro merupakan perpaduan yang dianggap unik antara dendang Muaro Peti dengan laras salendro balung 4 untuk saron, sedangkan alat tiup dipercayakan sebagai harmonik back ground.

Kalimat C makro terdiri dari tiga komponen lagu, yaitu kalimat A mikro lagu Dampeang. Untuk komponen B dan C mikro dipilih Indang Pariaman dan Dendang Siropak. Kekuatan lagu Dampeang dianggap mampu memberi keunikan. Gamelan Jawa mempergunkan kombinasi laras salendro dan pelog dirangkap oleh seksi tiup dengan konsep Tutti.

Komponen B makro kontrak, dinamik diambil alih oleh Rapa’i alat musik Indang Pariaman dengan mengambil nuansa Kecak dan Janger yang didukung dengan hadirnya cengceng, disamping itu kajar dan gong ditekankan sebagai unsur perpaduan musik. Kekuatan ritme dianggap cukup dinamis membawa suasana klimaks.

Hadirnya dendang Sirompak dipadu dengan gamelan Jawa laras salendro balung 8 terasa sekali bahwa komposisi ini membawamakna perpaduan antara konsep musikal Jawa, Bali, dan Minangkabau dikombinasikan dengan teknik Barat yang diproduksi oleh vokal seriosa yang membawa kepada suasana baru. Instrumen trombone, French Horn, Saluang, dan Genggong, sebagai ilustrasi memperkuat suasana romatis dan tegang.

Kalimat D mikro terdiri dari dua buah komponen mikro, yaitu A mikro lagu Timang Baju untuk Talempong Gandang Aguang dan B mikro untuk dendang Ragam Duiya. Motif kalimat G mikro merupakan tema pengulanggan yang dimodifikasi tiup pada bagian pertama, sedangkan kalimat B mikro memadukan dendang Ragam Duiya dengan unsur gamelan Jawa sebagai pengiring. Alat musik tiup digunakan sebagai melodik filler, backing vokal unisono, dan Rapa’i membawa irama kedalam suasana jenaka merupakan akhir kalimat lagu.

Kalimat Coda merupakan bagian akhir lagu, gamelan kebyar dan seksi tiup silih berganti. Apabila tiup berperan sebagai melodi utama maka gaya kebyar mengambil posisi sebagai pengiring. Teknik unisono pada bagian ini sangat diperlukan dengan membuka jarak interval tiga oktaf sehingga balance suara dapat dicapai dengan sempurna.

PENUTUP

Sebelum komposisi musik ini disajikan, dilakukan latihan berulangkali untuk menguji struktur yang sudah direncanakan termasuk struktur makro, struktur mikro, jembatan, permainan mudulasi sebagai satu keutuhan komposisi. Setelah diyakini konsep komposisi musik sesuai dengan gagasan maka layaklah dipertunjukkan.

Penyelenggaraan Festival Gamelan Yogyakarta bertaraf Internasional ini akan berlangsung terus setiap tahun dan terbuka peluang bagi ASKI Padangpanjang berperan dalam forum seperti ini. Karya musik Assimilasi II masih dalam proses menuju kesempurnaan. Pada forum yang sama tahun 1998 diharapkan munculnya karya Assimilasi III dalam kondisi yang lebih baik lagi, untuk itu peluang terbuka bagi rekan-rekan sejawat yang ingin mewujudkan misi ini.

DAFTAR PUSTAKA

Mack, Dieter.1995. Sejarah Musik Jilid 4. Jakarta: Pusat Musik Liturgi.

Elina, Misda.1985. “Dendang Minangkabau”. Laporan Penelitian ASKI Padangpanjang.

Fountaine, Paul.1941. Basic Formula Struktures in Music. New York: Appleton Century Groffist.

Genichi, Kawakami.1970. Arranging Populer Musical a Practical Guide. Zen on: Foundation Musical Yamaha.

Hajizah.1995. “Seni Pertunjukkan Rebab Minangkabau”. Surakarta: Masyarakat Seni Pertunjukkan Indonesia (MSPI).

Herawati.1993. “Studi Diskriptif Musik Talempong Gandang Aguang di Desa Sialang Kecamatan Kapur IX Kabupaten 50 Kota”. Laporan Penelitian. ASKI Padangpanjang.

Kitson, C.H.1924. The Art Counter Point. Oxford, The Clarendo Press.

Otman, Robert.1961. Advanced Harmony Theory and Praktive. New Jersey: Prentice Hal Inc.

Sastra, Andar Indra.1995. “Eksistensi Dendang Lawang Dalam Ensambel Saluang Darek”. Laporan Penelitian. ASKI Padangpanjang.

· · Bagikan · Hapus

  • Septian Syamsudin menyukai ini.
  • Tekan Shift+Enter untuk memulai baris baru.

Facebook © 2011 · Bahasa Indonesia
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Jurnal Palanta Seni Budaya ASKI Padangpanjang Nomor: 6 Maret 2000. LAGU PERJUANGAN SEBAGAI MEDIA PROPAGANDA

LAGU PERJUANGAN SEBAGAI MEDIA PROPAGANDA

PENDAHULUAN

Dalam dunia politik disebutkan bahwa fungsi musik merupakan alat yang ampuh untuk propaganda dan agitasi politik (Suka Harjana, 1983 : 40). Asal mula propaganda melalui musik dimulai oleh negara Inggris pada abad ke-18 dengan lagu Rule Britania dan God Save The King.

Pada waktu revolusi Perancis, di negara sosialis berkumandang lagu Marsillase dan di negara fasis berkumandang lagu Giovinnessa; sedangkan bagi Nazi Jerman berkumandang pula lagu propaganda The Hars Wessel.

Dalam masa perang dunia I dan perang dunia II, terdapat lagu-lagu yang sengaja diajarkan kepada para serdadu, seperti lagu Tupperary pada masa perang dunia I dan lagu Lili Marlien pada perang dunia II. Pada masa itu tak ada propaganda yang dilancarkan secara terang-terangan. Di Inggris pada waktu itu, lagu sentimentil seperti There’il be an England digunakan sebagai propaganda peningkatan moral secara terselubung (Djoenaesih S. Sunarjo, 1982 : 6).

Sebagai upaya untuk menciptakan propaganda, Sastropoetro (1991 : 22) mengemukakan bahwa sifat propaganda dapat dilakukan secara terang-terangan (terbuka) dan atau secara tersembunyi (tertutup) sesuai dengan situasi ketika itu.

Menjelang pendaratan balatentara Jepang di bumi Indonesia pada awal Maret 1942, radio pemerintah Jepang di Tokyo dan radio pusat di Jakarta mengumandangkan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”. Sebelumnya pemerintah Belanda melarang mengumandangkan lagu tersebut. Selanjutnya Jepang melancarkan propaganda melalui lagu dengan menggunakan pemimpin-pemimpin bangsa Indonesia yangbersedia bersama-sama menyanyikan lagu 3A, yaitu: Nippon Pemimpin Asia, Nippon Pelindung Asia, dan Nippon Cahaya Asia.

Ketika rakyat Indonesia dengan bersemangat membantu usaha balatentara Jepang mengatur keamanan dalam menyelenggarakan pemerintahan, mendadak radio di Jakarta tidak menyiarkan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”. Perdana Menteri Jenderal Poyo Hideri telah memulai mengumandangkan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dan pengibaran bendera merah putih (M.C. Ricklop, 1976 : 308). Perkembangan kemudian pusat siaran radio di Jakarta diganti dengan nama Hoso Kanrt Kyoku, sedangkan cabang-cabangnya di Bandung, Purwokerto, Yogyakarta, Surakarta, Malang, dan Surabaya disebut Hoso Kyotu semuanya di bawah barisan Sendenbu.

Lagu-lagu propaganda Jepang masa itu ialah lagu kebangsaan Kimigayo, Umi Yu Kaba, Aikoku No Hana. Lagu-lagu komponis Indonesia yang digunakan oleh pemerintah Jepang ialah Mananam Kapas, Mananam Jagung, Membuat Kapal, Bekerja, Menabung, Bersatu, Bagimu Negeri. Dengan dilarangnya menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dimanapun juga, jadi untuk membangkitkan cinta tanah air dan bangsa, maka berkumandanglah lagu Bagimu Negeri sebagai gantinya (Kamajaya, 1979 : 46).

Uraian tersebut di atas mengenai lagu-lagu propaganda dapat dikembangkan menjadi 2 (dua) pokok pembahasan sebagai berikut :

1.   Fungsi lagu-lagu propaganda yang bersifat tertutup dan yang bersifat terbuka.

2.   Jenis lagu-lagu magnetis danlagu-lagu bersifat rhetoric.

LATAR BELAKANG

Berdirinya Pusat Kesenian Indonesia yang diresmikan pada tanggal 6 Oktober 1942 di Jakarta, telah menciptakan suasana para seniman terlibat dalam perjuangan sejalan dengan cita-cita bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan.

Pemerintah Jepang melarang segala macam perkumpulan mulai dari gerakan politik, ekonomi, dan sosial budaya. Secara kebetulan perhatian para pemimpin Jepang saat itu antusias terhadap kesenian Indonesia yang bersifat aktif melakukan propaganda secara rahasia tanpa sepengetahuan pemerintah Jepang. Pembentukkan Pusat Kesenian Indonesia yang dianggap oleh pihak Jepang sebagai tempat atau wadah kreatif para seniman, mendapat tanggapan dan persetujuan Bung Karno. Prakarsa tersebut dicetuskan dalam pertemuan di rumah Bung Karno di Jalan Oranye Boulevard No. 11 (sekarang Jalan Diponegoro, Jakarta).

Lagu Propaganda Bersifat Tertutup

Waktu Kusbini mempertimbangkan lagu ciptaannya Bagimu Negeri pada tahun 1942, tentara Jepang telah berkuasa di Indonesia. Lagu ini dimaksudkan oleh penciptanya untuk mengimbangi lagu-lagu propaganda Jepang yang masuk ke Indonesia.

Dilarangnya lagu kebangsaan “Indonesia Raya” merupakan pertanda, bahwa perjuangan kemerdekaan tidak dapat dilancarkan secara terbuka. Sampailah Kusbini berkesimpulan bahwa dalam hati pemimpin-pemimpin bangsa kita yang bekerja sama dengan Jepang tetap berkobar untuk merdeka, namun semangat itu ditekannya bahkan disembunyikan demi perjuangan bangsa kita. Pikiran seperti tersebut di atas mengilhami Kusbini merahasiakan pula semangat kemerdekaan dalam lagunya yang sentimentil. Maka tersiratlah dalam ingatannya untuk memasukkan sebauh kata sandi negeri pada setiap kalimat lagunya yang artinya negara Republik Indonesia.

Cornel pernah dikritik sebagai kolaburator Jepang bekerja pada kantor kebudayaan Jepang Keimin Bunka Shidoso membuat lagu-lagu propaganda yang sering disiarkan lewat radio umum dan suatu ketika diantara lagu-lagu propaganda tersebut terdengar lagu Kupinta Lagi yang terasa mengungkapkan semangat penuh harapan terhadap hari dengan cerah, didasarkan atas iman yang teguh.

Binsar Sitompul, kawannya sejak di Medan dan Muntilan tidak percaya bahwa Cornel telah menjadi antek Jepang, semenjak didengarnya lagu Kupinta Lagi, Binsar mulai paham Cornel membuat lagu-lagu propaganda Jepang hanya untuk menyiarkan hasil karyanya kepada masyarakat luas melalui radio, yang ditunjang oleh subsidi pemerintah Jepang (Binsar Sitompul, 1987 : 79).

Begitu pula padalagu Rayuan Pulau Kelapa ciptaan Ismail Marzuki pada tahun 1944. Syair lagu tidak berhubungan dengan tema perjuangan, musik mempergunakan irama sentimentil. Interprestasi lagu ini diilhami oleh keindahan tanah air yang mengarah kepada adanya promosi pariwisata, banyak kritikan dari masyarakat waktu itu ditujukan kepada Ismail Marzuki. Masyarakat menilai lagu ini mengenai pemujaan tanah air yang merupakan baik milik wisatawan asing yang berlibur ke Indonesia tinggal dipegunungan atau di pesisir pantai (Firdaus Burhan, 1983 : 47).

Ketiga lagu di atas merupakan contoh kasus masa itu. Kasus lagu-lagu ini ternyata hanya dapat diketahui sebagai gerakan propaganda Indonesia yang hanya dapat dipahami oleh kalangan terpelajar dan kaum pergerakan yang terorganisir sebagai gerakan moral bangsa, terutama bagi oraganisasi Pusat Kesenian Indonesia.

Hubungan antara seni dan propaganda dalam kontak tersebut bersifat satu arah dan terselubung. Dalam artian bahwa kberadaan seni dengan segala potensi dan karakteristiknya yang berfungsi sebagai media ide atau pesan yang dapat mempengaruhi masa tertentu yang dimanfaatkan sebagai pendukung propaganda Indonesia.

Pemikiran ini sangat berkaitan dengan teori bahwa karya seni tidak saja diciptakan untuk kepentingan artistik saja, tetapi juga untuk pencapaian suatu tujuan tertentu (Arnold Isenberg, 1973 : 37).

Lagu Propaganda Bersifat Terbuka

Sejarah membuktikan bahwa kemerdekaan Indonesia ditebus dengan darah dan jiwa raga bangsa akibat perjuangan bersenjata. Revolusi ini di Indonesia telah mendorong terjadi perkembangan pesat dalam lagu-lagu perjuangan. Jiwa revolusi menimbulkan kebebasan serta menghilangkan rasa rendah dan sebaliknya menimbulkan keberanian. Ritme dan irama pada lagu-lagu perjuangan baru pada masa revolusi 1945 – 1949 dapat dikatakan lain dari masa sebelumnya.

Uraian di atas menunjukkan bahwa seniman menciptakan seni ketika berhasil menemukan momen-momen estetis yang terjadi di dalam dirinya. Menurutnya keindahan bukan sekedar dialami, namun diaktualisasikan ke dalam karya. Seorang seniman ingin menghadirkan pengalaman yang dipengaruhi lingkungan alam sekitarnya yang terjadi konflik. Menjadi seniman minciptakan karya, dengan demikian berarti memberontak, pemberontakan berarti kreatif. Pemberontakan dan kreatifitas adalah hal yang teramat sulit untuk dipisahkan. Semua tindakan kreatif selalu merupakan suatu bentuk pemberontakan. Demikian sebaliknya dalam setiap pemberontakan terkandung usaha-usaha kreatif. Keduanya merupakan perjuangan untuk membebaskan diri dari cengkraman (Albert Camus, 1998 : XVII).

Sebagai lagu propaganda yang bersifat terbuka selama tahun 1943 – 1945 merupakan tahun-tahun produktif bagi Cornel Simanjuntak, meskipun pada masa itu sebagian ciptaannya berbentuk lagu-lagu mars (Marwati Djoned Poesponegoro, 1984 : 202).

Sebelum masa akhir hidupnya Cornel Simanjuntak pernah mengemukakan kepada rekan-rekan, bahwa penjajahan harus diakhiri melalui perjuangan memanggul senjata. Cornel bergabung dengan rekan-rekannya dalam barisan Angkatan Pemuda Indonesia di Jakarta.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Cornel bersama pemuda aktif memberi penerangan mengenai arti kemerdekaan kepada masyarakat dari kampung ke kampung pada kawasan Jakarta hingga ke daerah Kerawang. Barisan API mengobarkan semangat perjuangan dan ikut berperang. Melalui tentara sekutu, Belanda ikut membonceng masuk Indonesia. Dalam pertempuran melawan sekutu di Tangsi penggorengan di daerah Senen, paha Cornel tertembak dan terpaksa di rawat di Rumah Sakit Pusat Jakarta. Selanjutnya takut akan pasukan sekutu, dalam keadaan belum sembuh Cornel terpaksa diselundupkan dari RSUP Jakarta ke Kerawang. Kemudian untuk memperoleh perawatan yang lebih baik, Cornel dipindahkan dan di rawat Sanatorium Pakem Yogyakarta. Di Rumah Sakit inilah Cornel Simanjuntak menciptakan lagu-lagu yang tetap menggetarkan jiwa patriotisme Indonesia seperti lagu Maju Tak Gentar, Indonesia Tetap Merdeka, Tanah Tumpah Darahku, Teguh Kukuh Berlapis Baja (Payman J. Simanjuntak, 1942 : 40).

Periode semenjak 1945 – 1948 merupakan periode istimewa bagi ciptaan Ismail Marzuki yang membuat setiap lagu-lagunya mengingatkan pada suatu tempat peristiwa heroisme.

Ismail Marzuki betapapun kurang agresif dan kurang agitasinya dalam keperluan perjuangan politik, namun sebagai seniman pemusik telah mewakili perasaan bangsanya, ia cukup respon terhadap semangat kebangkitan nasional dan cinta tanah air. Dalam perjalanannya berkelana dari front ke front pertempuran ia memberikan hiburan kepada para pejuang serta masyarakat setempat yang dikunjunginya dengan selalu membawakan lagu ciptaannya sendiri. Jauh pengembaraan Ismail Marzuki menjalankan misinya yang kelihatan sederhana namun sangat besar artinya.

Lagu Halo-halo Bandung mengingatkan peristiwa APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) di Bandung Selatan, terkenal dengan Toha Pahlawan Bandung Selatan. Peristiwa pada tanggal 24 Maret 1946 dikenal dengan sebutan Bandung Lautan Api. Dari peristiwa penting ini Ismail Marzuki tergugah hatinya bersemangat menciptakan lagu-lagu perjuangan yang tetap dinyanyikan sepanjang masa (Radik Utoyo Sudirjo, 1976 : 99). Selama pengembaraannya banyak ciptaan lainnya kita kenal seperti Sepasang Mata Bola, Bandung Selatan, Selamat Datang Pahlawan Muda, dan lain-lain sebagainya.

Pada masa revolusi, Sarijah Bintang Sudibyo (Ibu Sud) membentuk perkumpulan kesenian tugasnya dalam siaran taman kanak-kanak di RRI Jakarta. Disini Ibu Sud sempat menciptakan lagu-lagu bernada perjuangan disirkan melalui Hoso Kanri Kyoku. Bersama Kusbini ia dipercaya mengisi siaran taman kanak-kanak merupakan santapan rohani yang menyegarkan. Sebagai pencipta lagu wanita sejak tahun 1925, ia mulai menggarap lagu-lagu berbahasa Indonesia. Guna mengimbangi propaganda Jepang di masa revolusi 1945 dengan lagu Bendera Merah Putih. Lagu tersebut diciptakan pada tahun 1945 memperlihatkan kegagahan bendera kita, pada waktu itu tidak seorang rakyat Indonesia mau menurunkannya walaupun di bawah ancaman senjata bala tentara Jepang (R.Z. Leirissa, 1994 : 253).

Liberty Manik selama revolusi ia bermukim di Yogyakarta bersama Cornel Simanjuntak di sekolah guru Muntilan. Selama di Yogyakarta ia menyaksikan kehebatan semangat perjuangan rakyat mempertahankan kemerdekaan. Keadaan ini mengilhami L. Manik untuk menciptakan lagu Satu Nusa Satu Bangsa yang memotivasi persatuan dan kesatuan. Pada masa itu ia bekerja di RRI Yogyakarta pada tahun 1945 lagu ini dibuat guna mengisi kekurangan lagu perjuangan (L. Manik, 1992 : 73).

Lagu-lagu tersebut di atas dikategorikan sebagai lagu-lagu perjuangan yang bersifat propaganda terbuka.

Magnetis Song dan Rhetoric Song

Propaganda yang menggunakan lagu-lagu (propagandas songs) pada masa revolusi, berbagai lagu-lagu menrupakan alat yang biasa digunakan. Lagu-lagu ini disebut sebagai Song of Persuasion.

Lagu-lagu tersebut terdiri dari 2 (dua) jenis yaitu: Magnetic Sons atau lagu-lagu yang mempunyai daya tarik magnetis, dan Rhetorical Songs atau lagu-lagu yang bersifat menjelaskan.

Dimaksud dengan propaganda song atau lagu-lagu propaganda menurut R. Sergenisoff adalah lagu-lagu memiliki 3 unsur dan sifat yaitu memotivasi timbulnya suatu kesadaran nasional serta memotivasi timbulnya tertentu, dan suatu kesadaran terhadap suatu kepentingan atau kelompok, serta suatu kesadaran dan kesiapan untuk menggunakan sarana secara kolektif guna kepentingan politik dan kepentingan lain.

Magnetic Propaganda Songs adalah suatu lagu yang diciptakan sedemikian rupa, sehingga menimbulkan suatu dorongan dan desakan yang menyebabkan komunikan tertarik dan mengikuti jejak dari komunikator. Contohnya adalah “Indonesia Raya” sebagai lagu kebangsaan Indonesia selain menguraikan suatu kondisi tertentu, juga berisikan daya tarik yang sedemikian kuatnya, sehingga setiap orang Indonesia akan merasa terbawa dan sadar akan dirinya sebagai warga negara Indonesia yang merdeka. Tarikannya seperti besi magnet terasa sangat kuat, dan bahkan tidak jarang mencucurkan air mata karena keagungan lagu tersebut.

Lagu Halo-halo Bandung bagi setiap pejuang kemerdekaan Indonesia, lagu tersebut merupakan suatu kenangan dan memilik arti yang tersendiri. Bilamana lagu ini dinyanyikan di masa ini orang merasa tertarik untuk turut dan ikut ke kancah kegiatan tersebut.

Rhetoric Songs atau lagu yang bersifat seperti pidato adalah lagu yang berisikan suatu uraian atau penjelasan yang menarik, misalnya lagu Bandung Selatan Di Waktu Malam. Lagu ini terkenal sepanjang masa, mengingatkan kenangan suatu peritiwa romantika perjuangan.

Semua lagu-lagu dan uraian tersebut di atas merupakan lagu-lagu propaganda yang masing-masing kelompoknya mempunyai ciri dan tugasnya atau fungsinya dalam menuju kepada jiwa dari komunikannya. Ada yang bersifat magnetis maupun yang bersifat uraian (rhetorical), namun semuanya tetap mendorong kemunikan untuk menerima sesuatu pesan, memberikan reaksinya sesuai dengan keinginan komunikator.

PENUTUP

Lagu-lagu perjuangan menurut teori propaganda dilakukan secara terselubung (tertutup), agar tidak diketahui oleh pihak penjajah supaya mengimbangi lagu-lagu propaganda Jepang di Indonesia. Contohnya pada lagu Bagimu Negeri ciptaan Kusbini, Rayuan Pulau Kelapa ciptaan Ismail Marzuki, dan Kupinta Lagi ciptaan Cornel Simanjuntak.

Jiwa revolusi menimbulkan kebebasan serta menghilangkan rasa rendah dan sebaliknya menimbulkan keberanian (Propaganda Terbuka). Lagu-lagu perjuangan masa revolusi 1945 – 1949 dapat dikatakan lain dari pada masa sebelumnya, dan selalu diikuti oleh peritiwa heroisme. Contohnya lagu Maju Tak Gentar ciptaan Cornel Simanjuntak, Halo-halo Bandung ciptaan Ismail Marzuki, Bendera Merah Putih ciptaan Ibu Sud, dan Satu Nusa Satu Bangsa ciptaan Liberty Manik.

Jenis lagu-lagu yang mempunyai daya tarik magnetis, contohnya lagu kebangsaan “Indonesia Raya” ciptaan W.R. Supratman dan lagu Halo-halo Bandung ciptaan Ismail Marzuki.

Jenis lagu-lagu yang bersifat menjelaskan contohnya Bandong Selatan Di Waktu Malam ciptaan Ismail Marzuki. Jenis lagu ini mengingatkan pada romantika perjuangan bangsa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Burhan, Firdaus 1983, Ismail Marzuki Hasil Karya dan Pengabdiannya, Jakarta: Depdikbud

Camus, Albert, 1998, Seni Politik Pemberontakan, Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya

Harjana, Suka, 1983, Estetika Musik, Jakarta: Depdikbud

Isenberg, Arnold, 1973, Sejarah Bagimu Negeri Lagu Nasional, Yogyakarta: U.P. Indonesia

Lerrissa, R.Z., 1994, Ensiklopedi Tokoh Kebudayaan, Jakarta: Depdikbuid

Maniki, Liberty, 1993, Cornel Simanjuntak Sebagai Pejuang dan Seniman, Jakarta: HIPSMI

Riclep, M.C., 1976, Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarta: UGM Press

Sudirjo, Radik Utoyo, 1976, Lima Tahun Perang Kemerdekaan 1945 – 1949, Jakarta: Badan Penerbit Alda

Simanjuntak, Payman J., 1992, Seniman Pejuang dan Pejuang Seniman, Jakarta: HIPSMI

Sunarjo Djoenasih S., 1982, Cornel Simanjuntak Komponis Penyanyi Pejuang, Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya

—————————–, 1970, Kumpulan Hymne Nasional, Jakarta: Penerbit Wijaya

Sastropoetro, R.A. Santoso, 1991, Propaganda Salah Satu Bentuk Komunikasi Massa, Bandung: Penerbit Alumni

Poesponegoro, Marwati, Djoened, 1984, Sejarah Nasional Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka

· · Bagikan · Hapus

  • Tekan Shift+Enter untuk memulai baris baru.

Facebook © 2011 · Bahasa Indonesia
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Jurnal Racmi BPG Vol2 No2 Mei 2002 Peranan lagu2 Perjuangan Terhadap Pemahaman Pendidikan Kesadaran Nasionalisme di Indonesia

PERANAN LAGU-LAGU PERJUANGAN TERHADAP PEMAHAMAN PENDIDIKAN KESADARAN NASIONALISME DI INDONESIA.

PENGANTAR

Berkembangnya nasionalisme modern di Eropa yang dipelopori oleh kalangan ahli ilmu pengetahuan, di Indonesia lahir kebangkitan nasionalisme yang dipandang sebagai awal tumbuh dan berkembangnya sejarah yang pertama kali dipelopori oleh tokoh nasional seperti Dr. Sutomo dan Dr. Wahidin Sudirohusodo.

Bangkitnya nasionalisme ditandai oleh lahirnya semangat kebangkitan nasional melalui organisasi Boedi Oetomo yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 dengan tujuan “Mencerdaskan Bangsa”, yang berdasarkan kesadaran, tekad dan upaya untuk memajukan bangsa atas dasar falsafah dan wawasan yaitu bersumber pada kepribadian Nusantara, didukung para cendekiawan yang berbasis pada pendidikan nasional untuk melawan bangsa penjajah (H. Kaelan, 2001 : 705).

Nasionalisme merupakan kesadaran bersama yang dapat memeprsatukan suku-suku bangsa yang hidup di Nusantara. Nasionalisme di Indonesia lahir bersamaan dengan tumbuhnya keinginan seluruh rakyat Indonesia membentuk negara kesatuan (B. Setiawan, 1998 : 33). Dalam perjalanan sejarah di Indonesia bangsa Belanda pernah mengajarkan instrumen musik Barat kepada Abdi Dalem di Kasultanan Kraton Yogyakarta dan Kraton Surakarta tujuannya ialah agar dapat memainkan lagu kebangsaan “Wilhelmus” saat upacara kunjungan tamu resmi para pejabat dari negeri Belanda. Di sisi lain perlakuan yang istimewa terhadap lagu kebangsaan “Indonesia Raya” serta diakuinya bahasa Melayu sebagai bahasa Indonesia memicu timbulnya peluang bagi kelompok cendekiawan Jawa yang ingin menguasai lagu kebangsaan dengan alternatif musik ritual yang khas dapat mewakili puncak kebudayaan nasional melalui instrumen gamelan. Usaha tersebut dilakukan dengan mencoba untuk mengerahkan para empu gamelan di tahun 1930-an untuk memodernisir gamelan baik dari segi praktek maupun teori. Perubahan-perubahan dalam notasi musik diantaranya pernah ditulis dalam buku kecil Mr. Muhammad Yamin, bahwa usaha-usaha untuk memainkan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” terbukti mengalami kegagalan, oleh karena secara teknis lagu tersebut memakai sistem tangga nada diatonis, sedang untuk instrumen gamelan memakai sistem tangga nada pentatonik. Pada masa perjuangan Indonesia melawan kolonialisme perkembangan musik diatonis berubah menjadi fenomena politik, disebabkan perbedaan pandangan tentang musik nasional. Perkembangan msuik diatonis sebagai sarana pendidikan nasionalisme mengalir seiring munculnya generasi penerus setelah W.R. Supratman dan M. Syafei pendiri sekolah I.N.S. Kayutanam di Sumatera Barat, yaitu kelompok pemusik asal daerah Tapanuli dengan latar belakang pengetahuan musik gereja misionaris Jerman yang cukup handal. Para pemusik terkenal adalah Cornel Simandjuntak (Komponis), Amir Pasaribu (Kompnis, Kritikus), J.A. Dungga (Kritikus), L. Manik (Komponis, Kritikus), Binsar Sitompul (Kompnis), dan W. Lumban Tobing (Etnomusikolog) (Franki, 1994 : 7). Di Jawa dikenal Ismail Marzuki (Komponis), Kusbini (Komponis), Bintang Sudibyo (Komponis), R.A. Sudjasmin (Komponis, Pendidik). Pemusik ini tidak hanya beranggapan bahwa budaya musik nasional eksotisme tidak boleh dibangun diatas budaya musik Jawa, tetapi harus mengikuti pola musik diatonis yang secara umum lebih mudah diterima oleh seluruh lapisan masyarakat dengan berbagai kebinekaannya. Usaha seperti ini sebanarnya telah dirintis jauh sebelum itu oleh para pemuda di tahun 1920-an menjelang sumpah pemuda, mengenai peranan musik diatonis yang dapat mewakili berbagai suku di Indonesia. Diantaranya dihimpun oleh organisasi kepemudaan antara lain Paguyuban Pasundan, Jong Java, Jong Sumatera Bond, Jong Minahasa, Jong Ambon, Jong Celedas, Jong Timorsch Verbond, Kaum Betawi, Sekar Rukun, Islamieten Bond. Perkumpulan itu adalah cikal bakal perjuangan kedaerahan setelah tahun 1926 meningkat kearah persatuan pemuda semakin kuat.

Sejak itu tumbuh dan berkembangnya nasionalisme di Indonesia tidak semata-mata didasarkan pada persamaan-persamaan primordialistik, akan tetapi sudah bersifat terbuka. Diilhami oleh cita-cita kebangkitan nasional dari tahun 1908, pada tanggal 28 Oktober 1928 para pemuda Indonesia mengikrarkan Sumpah Pemuda, yaitu satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa. Bahasa Melayu yang diakui sebagai bahasa nasional, merupakan suatu kekalahan bagi bangsa Belanda, sebagai simbol ikrar, teks Sumpah Pemuda serta lagu kebangsaan “Indonesia Raya” menggunakan bahasa Indonesia dan berlakunya musik diatonis. Akhirnya disimpulkan guna menetralisir keanekaragaman para pemuda Indonesia peranan musik nasional tidak lagi berpihak kepada etnis Jawa atau salah satu budaya etnis di Nusantara, melainkan harus bersifat universal seperti dalam kedudukan musik diatonis. Oleh karena itu sistem tangga nada diatonis dan pelog yang mendasari lagu-lagu instrumen gamelan perlu dihindari (R.M. Soedarsono, 1998 : 39).

FUNGSI LAGU PERJUANGAN INDONESIA

Lagu perjuangan Indonesia disebut juga sebagai musik fungsional yaitu musik yang diciptakan untuk tujuan nasional. Salah satu contoh dimaksudkan musik fungsional dalam sejarah musik, seperti musik digunakan mengiringi peribadatan agama (ritual), musik untuk mengiringi tari sebagai sarana hiburan. Fungsi primer dari lagu-lagu perjuangan adalah sebagai sarana upacara, dimana kedudukan pemain serta peserta didalam seni pertunjukkan harus terlibat, hingga seni pertunjukkan jenis ini bisa disebut Art of participation. Fungsi sekunder lagu-lagu perjuangan digunakan sebagai media agitasi politik dalam membangkitkan semangat perjuangan melawan penjajah, dan keberadaan jenis lagu-lagu ini di Indonesia pada masa perang kemerdekaan jumlahnya cukup banyak (R.M. Soedarsono, 2001 : 170-171). Sebagai seni pertunjukkan dalam lagu-lagu perjuangan idiom musik Barat dikemas berdasarkan kemampuan musikal masyarakat pendukungnya. Unsur teknis bernyanyi tidak begitu penting, diutamakan makna serta isi teks lagu bersifat agitasi disampaikan kepada masyarakat pendukungnya mudah dinyanyikan dan dihayati seluruh masyarakat Indonesia.

Secara umum pengertian lagu perjuangan adalah kemampuan dan daya upaya yang muncul melalui media kesenian di dalam peranannya pada peristiwa sejarah kemerdekaan di Indonesia (Sri Martono, 1953 : 668). Upaya ini disebut sebagai sikap patriotis di dalam konteks sejarah sebelum dan sesudah Kemerdekaan R.I. tanggal 17 Agustus 1945, pada masa perang kemerdekaan dan revolusi di Indonesia. Dalam pengertian yang luas sebagai perasaan nasional lagu-lagu perjuangan disebut sebagai lagu wajib yang diajarkan mulai pada tingkat pendidikan dasar, hingga perguruan tinggi dan wajib diketahui seluruh masyarakat Indonesia. Ditegaskan pula menurut peraturan pemerintah berdasarkan Instruksi Menteri Muda Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan No. 1 tanggal 17 Agustus 1959 yang diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1963, telah ditetapkan 7 (tujuh) buah lagu perjuangan sebagai lagu wajib yaitu: (1) Lagu kebangsaan “Indonesia Raya” ciptaan Wage Rudolf Supratman. (2) Lagu “Bagimu Negeri” ciptaan Kusbini. (3) Lagu “Maju Tak Gentar” ciptaan Cornel Simanjuntak. (4) Lagu “Halo-halo Bandung” ciptaan Ismail Marzuki. (5) Lagu “Rayuan Pulau Kelapa” ciptaan Ismail Marzuki. (6) Lagu “Berkibarlah Benderaku” ciptaan Bintang Sudibyo. (7) Lagu “Satu Nusa Satu Bangsa” ciptaan L. Manik.

Fakta sejarah dapat dipahami dengan baik, hanya jika terlebih dahulu memahami kondisi yang melatar belakanginya dan dapat menentukan hubungan antara kondisi dan fakta. Hal ini disebabkan setiap masyarakat sebagai unit merasakan pengaruh dan bereaksi terhadap lingkungannya. Teori geografi mengenai interaksi manusia dan alam yang penting disini adalah teori posibilisme, yang menerangkan bahwa alam sekedar menawarkan berbagai kemungkinan untuk dimanfaatkan oleh manusia melalui sikap dan cara berpikirnya (Garraghan, 1957 : 339) (Daldjoeni, 1987 : 7). Menurut James C. Dibdin (1962), analisis secara historis karakter suatu bangsa dapat dianalisis melalui sikap serta pemikiran nasionalnya yaitu: (1) Karakter bangsa yang mempunyai sifat pendendam dan kejam dalam peperangan. (2) Karakter bangsa yang mempunyai sifat pemalas dan enggan berusaha. (3) Karakter bangsa yang mempunyai sifat kesatria bila harus berjuang menghadapi tantangan dan penindasan (Rolland, 1962 : 525). Sikap patriotisme dan pemikiran nasional pada bagian akhir inilah yang dimiliki oleh bangsa Indonesia dengan berhasil merebut kemerdekaan, tercermin dari motivasi lagu-lagunya yang mampu menggelorakan semangat patriotisme berdasarkan cita-cita kemerdekaan yang sedang diperjuangkan. Sebab sejak meletusnya revolusi tahun 1945, lenyap pula lagu-lagu berbahasa Jepang dan lagu propaganda Asia Timur Raya, dalam kondisi seperti ini terjadi kekosongan bagi dunia pendidikan yang sangat memerlukan pelajaran kesenian. Pemerintah Indonesia tidak dapat berbuat banyak, untuk mengimbangi kekosongan setiap sekolah harus mengusahakan sendiri lagu-lagu tersebut, salah satunya adalah memanfaatkan lagu-lagu perjuangan sebagai sarana pendidikan kesadaran nasionalisme dan patriotisme. Selain itu sebagai ujud kecintaan pada tanah air peranan tersebut selain simbol nasional seperti bendera nasional, lagu kebangsaan, cerita kepahlawanan rakyat, dan ornamen-ornamen lain juga dapat memotivasi warga negara dalam mewujudkan kebersamaan di dalam perjuangan. Untuk itu pendidikan nasionalisme melalui kesenian mulai diajarkan kepada anak-anak sejak dini baik di sekolah, di rumah, dan di lingkungannya, karena dapat menimbulkan rasa memiliki terhdaap nilai-nilai kesintaan pada tanah air, misalnya dengan menampilkan tokoh kepahlawanan lewat media kesenian dapat pula menyalurkan rasa nasionalisme kedalam diri individu sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia yaitu membangkitkan persatuan dan kesatuan. Uraian tersebut di atas secara singkat dapat dijelaskan bahwa nasionalisme memiliki pengaruh besar terhadap musik nasional. Bahasa sebagai alat komunikasi merupakan faktor pemersatu berbagai jenis etnis yang berbeda-beda.

ANALISIS KONSTRUKTIF LAGU RITUAL DAN SEMANGAT PATRIOTISME

Selanjutnya keberadaan media kesenian seperti fungsi lagu-lagu perjuangan Indonesia di dalam perkembangannya saat ini dapat dikategorikan menjadi 2 bagian sebagai berikut. Fungsi Konstruktif lagu untuk upacara fungsi primer bersifat konstruktif berisi pesan pembangunan sebagai sarana seremonial dalam suatu kegiatan upacara bersifat kenegaraan yaitu lagu kebangsaan “Indonesia Raya” ciptaan W.R. Supratman dan lagu “Bagimu Negeri” ciptaan Kusbini. Lagu-lagu tersebut usianya lebih tua dibandingkan dengan lagu perjuangan lainnya dan secara umum dilaksanakan pada saat tertentu dalam posisi berdiri ditempat sebagai penghormatan terhadap lambang negara dan lagu sumpah bakti kepada nusa dan bangsa diungkapkan dengan rasa khidmat secara mendalam. Lagu-lagu tersebut diciptakan sebelum revolusi bahkan peranannya sangat penting pada masa perang kemerdekaan di Indonasia tahun 1945 – 1949. Selain itu dengan diperdengarkannya lagu adanya tanda bahwa Indonesia masih memiliki harapan untuk bangkit sebagai negara yang merdeka, guna merubah persepsi pada siatuasi keadaan yang pesimis menjadi suatu sikap yang optimis menjadi perbuatan konstruktif (Victor Tuner, 1967 : 53). Hal ini dapat dibuktikan pada tanggal 22 Juli 2001 lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dan lagu “Bagimu Negeri” berkumandang mengiringi upacara pembukaan serta acara penandatanganan serah terima jabatan Kepala Negara. Dalam sidang Istimewa tampak ketua MPR Amin Rais memberikan mandat kepada Presiden R.I. Megawati Sukarnoputri, disaksikan para wakil rakyat dalam upacara penetapan dan pengangkatan Wakil Presiden menjadi Presidan R.I. di Gedung MPR R.I. Jakarta (Slade, 1997 : 170).

Fungsi sekunder bersifat konstruktif, ialah lagu perjuangan sebagai sarana pembangkit semangat solidaritas bangsa cinta tanah air digunakan menghimpun persatuan dan kesatuan melawan penjajahan di Indonesia. Revolusi di Indonesia mendorong perkembangan pesat dan perubahan lagu-lagu perjuangan Indonesia. Jiwa revolusi menimbulkan kebebasan serta menghilangkan rasa rendah, sebaliknya merubah keberanian. Ritme dan irama mars satu diantaranya lagu hasil kolaborasi propaganda Jepang dimanfaatkan, dan baru pada masa revolusi tahun 1945 – 1949 dapat dikatakan lain dari pada masa sebelumnya.

Munculnya lagu-lagu perjuangan akhirnya mampu membangkitkan semangat patriotisme di seluruh Nusantara. Jenis lagu-lagu ini menjadi populer, terutama di Jawa sebagai pusat perjuangan. Masyarakat dapat menghafalnya dengan baik mulai dari pelosok kota yang ramai sampai ke daerah pelosok terpencil, melalui karnaval barisan pemuda, barisan tentara pelajar sampai gerakan pelajar, mahasiswa beserta masyarakat berunjuk rasa hingga saat ini masih tetap relevan digunakan lagu-lagu tersebut.

Pada masa perang kemerdekaan penyebaran jenis lagu ini biasanya dilakukan secara lisan seperti mendengar siaran radio, melalui perorangan atau kelompok perkumpulan masyarakat ssuai dengan perkembangan politik pada saat itu. Siaran radio ternyata banyak dimanfaatkan oleh para guru di daerah, mereka mencatat lagu-lagu Indonesia baik melodi maupun syairnya, untuk dilestarikan, kemudian diajarkan kepada murid-murid sekolah swasta yang tidak dikelola oleh pemerintah penjajahan (Non Government) sebagai mata pelajaran nilai-nilai patriotisme (Wisnu, 2001 : 66).

Kondisi tersebut di atas secara bertahap mengalami kemajuan dan memiliki komunitas tersendiri guna mengimbangi lagu-lagu asing yang populer saat itu. Hal ini membuktikan bahwa bangsa Indonesia berhasil membina persatuan dan kesatuan dengan mengambil alih lagu tersebut untuk tujuan sarana pendidikan kesadaran politik nasional. Terutama pada dekade akhir masa transisi kekuasaan Jepang dan awal penjajahan Belanda yang kembali melancarkan agresinya di Indonesia. Lagu-lagu tersebut kita kenal diantaranya lagu “Maju Tak Gentar” ciptaan Cornel Simanjuntak, “Halo-halo Bandung” ciptaan Ismail Marzuki, “Dari Barat Sampai Ke Timur” ciptaan R. Sunaryo, “Berkibarlah Benderaku” ciptaan Bintang Sudibyo, “Hari Merdeka” ciptaan H. Mutahar, dan lain sebagainya (Wisnu, 2000 : 22).

PENUTUP

Dapat disimpulkan dari hasil analisis penelitian tentang lagu perjuangan sebagai lagu wajib nasional berdasarkan ketetapan pemerintah tahun 1959, bertujuan untuk diajarkan dalam pendidikan nasional di seluruh tanah air agar diketahui oleh masyarakat Indonesia sebagai kesadaran wawasan kebangsaan, nasionalisme, patriotisme untuk meningkatkan serta membangkitkan semangat persatuan dan kesatuan negara Republik Indonesia, yaitu sebagai berikut :

1.   Lagu-lagu perjuangan yang diciptakan oleh para komponis Indonesia adalah ekspresi dari perasaan pejuang, melalui ungkapan suara rasa kebangsaan, nasionalisme dan persatuan, yang dapat dibagi menjadi 3 (tiga) tahap: Pertama, melodi diciptakan dengan pola sederhana agar mudah dinyanyikan oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia. Kedua, teks syair menggunakan bahasa Indonesia, agar dipahami oleh seluruh masyarakat Indonesia dengan berbagai kebinekaannya. Ketiga, munculnya lagu-lagu perjuangan Indonesia adalah akibat adanya tekanan dari kaum penjajah pada masa perjuangan dan perang kemerdekaan di Indonesia.

2.   Pada tahun 1945 Soekarno memerintahkan para komponis Indonesia untuk menyelenggarakan upacara aubade pada hari besar nasional dengan memanfaatkan lagu-lagu perjuangan Indonesia sesuai dengan fungsinya. Untuk memaknai hasil perjuangan bangsa, maka lagu-lagu tersebut oleh pemerintah telah ditetapkan sebagai lagu nasional melalui surat Keputusan Menteri Muda Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan No. 1 tanggal 17 Agustus 1959, yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1963. Anjuran tersebut sampai saat ini masih tetap dilaksanakan oleh pemerintah dan masyarakat serta dunia pendidikan untuk tetap dilestarikan dan dipakai pada upacara kenegaraan dan puncak hari besar nasional.

KEPUSTAKAAN

Daldjonie, N. Geografi Kesejarahan, Bandung: Alumni, 1987

Garraghan, S.J., Gilbert J.A., Guide to Historical Method, New York: Fordham University of Chicago Press, 1957

Hall, D.G.E., Sejarah Asia Tenggara, Terj. I.P. Soewarso, Surabaya: Usaha Nasional, 1988

Kaelan, H., Pendidikan Pancasila, Yogyakarta: Paradigma, 2000

Mack, Dieter, Sejarah Musik Jilid 4, Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi, 1995

Martono, Sri, Kehidupan Seni Suara Tahun 1945 – 1952, Yogyakarta: Kementerian Penerangan Republik Indonesia, 1953

Mintargo, Wisnu, “Fungsi Lagu Perjuangan Indonesia Dalam Konteks Kemerdekaan Tahun 1945 – 1949”, Tesis guna mencapai derajat Magister Humaniora S-2 Program Studi Pengkajian Seni Pertunjukkan dan Seni Rupa Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2001

Mintargo, Wisnu, “Lagu Perjuangan Sebagai Media Propaganda”, dalam Jurnal Palanta Seni Budaya, No. 6, 2000

Rolland, Romain, ed. The International Library of Music for Home and Music Literatur 2, New York: University Society, 1962, Setiawan, B., ed. Ensiklopedi Nasional Indonesia, Jakarta: Cipta Pustaka, 1990

Slade, Carole, Form & Style Tenth Edition, New York: Hougton Mifflin Company, 1997

Soedarsono, R.M., Metodologi Seni Pertunjukkan dan Seni Rupa, Bandung: Masyarakat Seni Pertunjukkan Indonesia, 2001

Soedarsono, R.M., Seni Pertunjukkan di Era Globalisasi, Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1998

Turner, Victor, The Forest of Symbols Aspects Ndembu Ritual, Itacha and London: Cornell University, 1967

· · Bagikan · Hapus

  • Tekan Shift+Enter untuk memulai baris baru.

Facebook © 2011 · Bahasa Indonesia
Posted in Uncategorized | Leave a comment

TIGA PEREMPAT ABAD PERJALANAN LAGU KEBANGSAAN INDONESIA RAYA BERJUANG MEMPERSATUKAN BANGSA

Posted in Uncategorized | Comments Off

PENGANTAR MUSIK REVOLUSI INDONESIA

MUSIK REVOLUSI INDONESIA

Oleh: Djohan

Di tengah terpuruk dan upaya untuk bangkit lagi, bangsa ini tidak akan pernah lupa dengan peringatan sekaligus perayaan tahunan hari kemerdekaannya. Salah satu ritual yang tidak boleh diabaikan adalah menyanyikan lagu “Indonesia Raya” sebagai kesepakatan di bawah semangat nasionalisme yang telah ditetapkan sebagai lagu nasional. Terlepas dari apa makna lagu tersebut bagi anak bangsa saat ini, lagu tersebut telah menjadi saksi sejarah serta ikut melakukan dan membuktikan perjuangan kedaulatan negara tercinta ini.

Tentu tidak terlalu penting apakah perjuangan mau dipahami sebagai sebuah spirit fisik-nonfisik, karena pada kenyataannya banyak efek penguatan mental dari hasil impresi konseptual seniman musik. Timbulnya semangat, cinta, ketaatan, kesetiaan terhadap bangsa dan negara dalam berbagai bentuk hanya sebagian dari maksud penciptaan karya seni. Demikian halnya dengan para penulis lagu nasional yang dengan semangat patriotisme berupaya menyampaikan pesan dan kritik secara kreatif melalui musik. Harus diakui bukanlah pekerjaan mudah menghasilkan serangkaian lirik penuh makna disebaliknya dengan ilustrasi musik yang menyertainya.

Mungkin tidak banyak diantara kita yang benar-benar bisa menghayati dan menghargai perjuangan para penulis lagu perjuangan. Mereka bereaksi terhadap situasi dan kondisi perjuangan melalui musik sebagai media ekspresi sentimen maupun memotivasi suatu tindakan aksi serta semangat beragitasi terhadap musuh. Memang lagu perjuangan tidak diperuntukkan bagi kepentingan pribadi, kelompok suku bangsa, atau golongan tertentu maka ditetapkan sebagai bagian dari sistem pendidikan menjadi lagu wajib nasional.

Simbol perlawanan melalui ekspresi lagu-lagu perjuangan sudah dimulai sejak abad 18 terutama pada masa-masa perbudakan di Perancis. Baru di pertengahan abad 19 lagu-lagu sejenis berkembang menjadi lagu perjuangan untuk membangkitkan semangat solidaritas dalam bentuk demonstrasi sebagai wujud protes perlakuan semena-mena terhadap kaum budak. Kemudian pada perkembangan berikutnya timbul kategorisasi gaya nasional yang menggunakan kesenian rakyat untuk menampilkan identitas bangsa serta rasa patriotisme.

Sementara lagu-lagu nasional milik bangsa kita dikategorikan sebagai gaya nasional eksotisme karena meminjam kebudayaan bangsa lain sebagai inspirasi karya musiknya. Hal itu tidak terlepas dari penggunaan musik dan instrumen diatonis Barat masa kolonial (1900 – 1942) untuk mengungkapkan ekspresi musikal kaum pribumi. Periode ini merupakan pergaulan produktif antara pemusik lokal dengan pemusik Eropa di Jawa. Sebagai negeri kaya, Indonesia sering dikunjungi pemusik Eropa yang kemudian terus menetap. Musik diatonis merambah sekolah-sekolah yang dikelola pemerintah Belanda seperti Kweekschool dimana tempat pemusik pribumi belajar dan memperdalam musik.

Pada situasi demikianlah lagu berjudul Indonesia dihasilkan oleh seorang W.R. Supratman yang wartawan dan seniman. Ia tergugah gara-gara artikel di majalah Timboel terbitan Solo kemudian dikutip surat kabar Fajar Asia yang memuat tulisan mana ada komponis bangsa kita yang mampu menciptakan lagu kebangsaan Indonesia yang dapat menggugah semangat rakyat. Ketika itu, salah satu tekad perjuangan bangsa Indonesia adalah memiliki satu negara berdaulat. Maka diperlukan kesadaran kolektif untuk berbangsa yang secara alamiah tumbuh dari kebersamaan sosial budaya, sejarah, dan aspirasi perjuangan.

Semasa kecilnya, Supratman juga mengalami ketidakadilan berupa diskriminasi di sekolah yang makin memicu rasa nasionalisnya untuk melawan kolonialisme. Selain pernah menjadi guru dan mendirikan kelompok musik Jazz, ia juga bergabung di kantor berita Alpena dan akhirnya menjadi wartawan surat kabar Sinpo. Profesi wartawanlah yang menghantarnya berkenalan dengan tokoh pergerakan nasional. Bahkan lagu dengan judul Indonesia sudah dikumandangkan dalam Konggres Pemuda II di samping lagu-lagu perjuangan ciptaannya yang lain.

Saat itu kondisi bangsa Indonesia belum merdeka sementara menurut hukum internasional, hanya negara merdeka yang memiliki lagu kebangsaan. Namun demikian lirik lagu Indonesia ketika itu sudah menyiratkan semangat kemerdekaan. Selanjutnya penyebarluasan lagu-lagu kebangsaan dilakukan oleh organisasi politik, pers, dan dunia perdagangan (perusahaan piringan hitam). Supratman secara pribadi mensosialisasikan lagu ciptaannya melalui aktivitas melatih paduan suara pelajar serta membagikan selebaran lagunya ke masyarakat.

Pada masa pendudukan Jepang, melalui Undang-undang No. 4 lagu Indonesia dilarang dan digantikan dengan Kimigayo ketika upacara pengibaran bendera. Awal perubahan terjadi ketika Jepang mengalami kekalahan dalam Perang Dunia II dan memerlukan bantuan Indonesia maka lagu tersebut boleh diperdengarkan lagi. Lirik dan cara pembawaan lagu Indonesia mengalami revisi saat persiapan kemerdekaan tahun 1944. Pada tahun yang sama juga diubah namanya menjadi “Indonesia Raya” dengan tanda birama empat perempat yang sebelumnya enam perdelapan.

Sampai hari ini, lagu tersebut masih dianggap berhasil membangun semangat persatuan di Nusantara dan dihafal seluruh rakyat dari Sabang sampai Merauke. Benarkah demikian, bila pada kenyataannya lagu “Indonesia Raya” ternyata hanya menjadi bagian seremonial yang sloganistis. Sementara para elite negara ini belum sepenuhnya menyadari dan menghayati makna di balik lagu tersebut bahkan seolah memudarkan penyertaan pengalaman sejarah yang penuh korban, air mata, darah, dan jiwa raga.

Krisis moral yang tampak dari perilaku korupsi, anarkis, narkoba, pornografi, pembalakan hutan serta konspirasi politik tidaklah mencerminkan penghayatan dan penghormatan secara sungguh-sungguh terhadap makna lagu “Indonesia Raya”. Walau Ki Hajar Dewantara sejak tahun 1947 dalam permusyawaran pendidikan telah mewajibkan lagu “Indonesia Raya” mengiringi upacara pengibaran bendera setiap hari di halaman sekolah. Bahkan menghapuskan Kimigayo, menjadikan pelajaran bahasa Jepang dan menggantinya dengan semangat kebangsaan melalui pendidikan nasional.

Demikian pula lagu “Bagimu Negeri” yang mendapat urutan kedua setelah lagu kebangsaan “Indonesia Raya” sarat dengan semangat nasionalisme. Sebuah lagu yang hanya terdiri dari empat baris dalam satu bait itu mengandung makna janji, bakti, mengabdi, pengorbanan tanpa pamrih. Seperti yang tertuang pada baris keempat “Bagimu negeri jiwa raga kami”, menurut penciptanya adalah tanda kelahiran dirinya pada hari Jum’at legi. Dalam hitungan Jawa Jum’at berarti 6 dan legi adalh 5, bila dijumlahkan menjadi 11 sama dengan jumlah suku kata baris terakhir sesuai permintaan Soekarno.

Bukan sesuatu yang baru bila musik dan lagu memiliki peran di garis belakang melalui kognisi dan emosi pendengarannya untuk semangat perlawanan atau propaganda. Baik untuk membangun dukungan terhadap kebijakan penguasa yang bisa jadi hanya mengumbar slogan atau benar-benar konstruktif membangun semangat. Oleh karenanya secara signifikan peran musik dan lagu sebagai media komunikasi, sangat efektif menjadi pembawa pesan guna membangkitkan semangat perjuangan.

Memang seni selalu dalam posisi ambigu antara seni untuk seni dan seni untuk politik yang keberadaannya sangat ditentukan oleh penguasa masa itu. Namun demikian, justru saat itu iklim berkesenian tumbuh subur bahkan menginspirasi Cornel Simanjuntak hingga paham betul bagaimana membuat lagu yang dapat menarik massa, singkat, padat, dan cocok dengan perkembangan jaman. Ia merupakan salah satu pencipta yang mampu menulis lagu dalam tempo 30 (tiga puluh) menit.

Menariknya lagi pada masa-masa menjelang revolusi, iklim berkesenian di Indonesia tumbuh subur melalui Pusat Kebudayaan buatan Jepang yang melibatkan seniman Indonesia untuk membuat lagu-lagu propaganda. Mereka ditugaskan konser keliling menghibur penduduk sambil menyebarluaskan propaganda Jepang dan Indonesia di Asia Timur Raya. Setelah Jepang kalah, sekutu dan Belanda kembali ke Indonesia maka lagu-lagu perjuangan yang sudah sering diperdengarkan kemudian digunakan sebagai propaganda untuk menangkal perang urat syaraf dengan Belanda.

Secara analisis musikologis dikatakan bahwa karya cipta lagu-lagu semasa perjuangan lebih bertolak dari realisme dengan ciri ekspresionisme. Dari segi bentuk dan lirik lebih revolusioner melalui kata-kata yang sederhana sebagai ungkapan realitas pengalaman pribadi dan lingkungan juga ada upaya membangkitkan pikiran dan perasaan pendengar agar benar-benar menghayati serta memiliki semangat juang yang sama. Sosok lagu perjuangan secara nyata adalah manifestasi dan implementasi dari jiwa serta semangat penulisnya. Melalui elemen musik yang nonverbal dan teks verbal sebagai stimuli maka terjadilah respons emosi untuk bersatu tekad mencapai kemerdekaan.

Saat ini secara De Jure, bangsa kita telah merdeka selama 63 tahun, sebuah usia maturitas menuju pada kearifan perilaku. Semoga cita-cita seniman pejuang masa itu masih dapat terimplementasi melalui semangat memperbaiki diri masing-masing guna mengisi kemerdekaan secara De Facto. Fakta historis yang disajikan dalam buku Musik Revolusi Indonesia oleh Wisnu Mintargo ini paling tidak akan mulai membuka wawasan dan mengingatkan kita untuk jangan mudah meninggalkan sejarah agar dapat maju menciptakan kebaruan demi kemaslahatan bangsa dan negara. Musik adalah media multifungsi, multikultur, multiterpretasi, dan multidisiplin yang pararel dengan bangsa Indonesia. Sehingga sumbangsihnya melalui tangan para seniman, penulis lagu, atau kritikus musik merupakan sesuatu yang patut diapresiasi.

Djohan

Pascasarjana ISI Yogyakarta

· · Bagikan · Hapus

  • Djamall Sharief menyukai ini.
  • Tekan Shift+Enter untuk memulai baris baru.

Facebook © 2011 · Bahasa Indonesia
Posted in Uncategorized | Leave a comment